Pernikahan Adat Jawa di Plataran Cilandak

By Septa Mellina on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Gaia Nata Slaras

Photography Sally/Emily

Pemandu Adat Mamie Hardo

Catering Al's Catering

Invitation Poppie Airil

Wedding Organizer Artea Organizer

Wedding Reception

Venue Plataran Cilandak

Event Styling & Decor Daun Daun Decoration

Photography Sally/Emily

Bride's Attire Rama Dauhan

Make Up Artist Ifan Rivaldi Mandailiang

Wedding Organizer Artea Wedding Organizer

Meski hidup di tengah zaman modern, pasangan Asha dan Bayu ternyata tetap memilih pernikahan adat Jawa di Plataran Cilandak. Riasan, dekorasi hingga gaun pengantin kental dengan kultur Jawa. Brides-to-be, jika kamu ingin pernikahan yang lekat dengan kekayaan budaya yang satu ini, berikut adalah kisah lengkap pernikahan Asha dan Bayu. Selamat menemukan inspirasi pernikahanmu!

Asha dan Bayu berkenalan saat keduanya berkuliah di Malaysia. Saat itu, Bayu berkunjung ke rumah Asha demi berkenalan dengan wanita pujaannya itu. Tiga bulan setelahnya, Asha dan Bayu resmi berpacaran meski dihiasi hubungan jarak jauh selama setahun karena Bayu pulang ke Bandung sementara Asha pindah ke Melbourne. “Bayu then decided to take his Master in Melbourne, and so since then we have been pretty much inseparable. We’ve been together for 7 years, ini tahun kedelapan!” kata Asha.

Lucunya, tidak ada wedding proposal yang romantis. Bayu langsung menyatakan niatnya menikahi Asha kepada orang tua kekasihnya itu. Setelah mendapat restu, keduanya pun mempersiapkan pernikahan. “Tantangan terbesar mempersiapkan pernikahan ini just to start preparation early karena saat itu aku sempat di Melbourne selama beberapa bulan. Jadi aku harus mempersiapkan wedding dari sana. Kunci mengatasi persiapan jarak jauh ini pastinya adalah komunikasi and make a list,” kata Asha berbagi tips.

Pasangan ini mengambil tema adat Jawa untuk akad nikah, sementara resepsi pernikahan mengangkat konsep garden party dengan suasana Indonesia dan sentuhan Jawa. Prosesi akad nikah sendiri berlangsung di kediaman nenek Asha untuk memudahkan sang nenek menghadiri akad nikah di atas kursi rodanya. Uniknya, Asha’s Mother and all her sisters held their wedding there!

 

Sementara resepsi pernikahan Asha-Bayu berlangsung di Plataran Cilandak yang, surprisingly, dulu adalah tempat tinggal om dan tante Asha. “I have always liked the feeling of being in the outdoor. The venue reminded me of being in Bali or Yogya padahal it’s still in the South of Jakarta,” Asha menjelaskan.

Karena mengusung tradisi Jawa, Asha dan Bayu harus mengikuti beberapa prosesi adat sebelum hari H. “Siraman adalah prosesi favoritku. Prosesi ini bermakna untuk membersihkan pengantin sebelum pernikahan. Rasanya menyenangkan sekali dimandikan sambil didoakan dengan penuh harapan dan cinta,” katanya. Asha sendiri tidak menyelenggarakan prosesi midodareni. Midodareni adalah malam prosesi sebelum akad nikah. Menurut kepercayaan masyakarat Jawa, malam itu para bidadari khayangan turun ke bumi untuk turut mempercantik dan menyempurnakan calon pengantin wanita. Sebaliknya, Asha hanya mengundang best girl friends untuk ngobrol sepanjang malam. Ini membuatnya lebih santai dan tidur lelap menjelang akad nikah.

Di hari bahagianya, Asha terlihat begitu cantik seperti Javanese Princess sembari mengenakan cincin pernikahan dengan grafir honeychild, panggilan khusus dari Bayu kepada Asha. Meski agak tegang saat dipaes, Asha merasa sangat bahagia. “Every little stroke or brush Tante Mamie done was started with a prayer and good intention. So, every little step feels so special. Riasan dan paesnya juga bagus sekali jadinya. She made me feel like a beautiful Javanese bride,” ujar Asha.

Asha dan Bayu juga mengundang ratusan tamu untuk turut berbahagia di hari pernikahan mereka. Sekitar 200 orang hadir dalam upacara akad nikah mereka, sementara itu resepsi mereka dihadiri oleh 500 tamu. Tak heran jika pernikahan mereka begitu penuh luapan bahagia. Uniknya, highlight hari bahagia Asha dan Bayu justru saat prosesi panggih. Upacara yang berlangsung usai prosesi akad nikah ini merupakan simbol agar kedua mempelai mampu menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia diiringi doa dari orang tua dan keluarga. “Saat prosesi panggih, aku dan Bayu lempar-lemparan daun dan menginjak telur. Aku juga harus mencuci kaki Bayu. It was pretty fun and new for us,” gumam Asha. Selain itu, Asha dan Bayu juga sangat menikmati momen bercengkerama dengan teman-teman mereka saat resepsi pernikahan sembari mendengarkan kawan mereka, David dan Shun, memainkan lagu-lagu Indonesia.

Jika kamu ingin sentuhan tradisi Jawa untuk pernikahanmu, Asha juga shared tentang vendors favoritnya, brides:

Artea Organizer

“They do a good job and are very nice people”

Daundaun Decoration

Amazing decor for Plataran, coolest tante-tante 🙂 dan mengerti apa yang kita mau.”

Sally/Emily (@bysae)

“Amazing photos capturing good moments, kerjanya cepat dan efisien. They are really fun girls to be around with.”

Sebelum menutup sesi wawancara dengan The Bride Dept, Asha juga berbagi tips untuk para brides-to-be. “Legowo (Bahasa Jawa, artinya berserah, sabar, ikhlas). When you let go of certain things, things do get better and work out fine,” ujarnya.

We wish you an eternal marriage and happiness, Asha and Bayu!