2 weeks wedding preparation: Tiza and Pasha

By Friska R. on under The Wedding

tiza pasha wedding stupa caspea the bride dept wedding adat sunda makassar topi mbiring akad nikah akasya catering

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Wedding Reception

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Stupa Caspea

Catering Akasya

Photography Imal/ Ferry Photography

Videography Langit Gaya Production

Bride's Attire Dieva Ipeh

Make Up Artist Adi Adrian

Wedding Organizer Dwimatra WO

Perkenalan antara Tiza dan Pasha terjadi sekitar bulan Oktober 2014 ketika keduanya sedang menemani ibu mereka makan siang di Bakerzin, Pondok Indah Mall. Ya, ibu mereka memang sudah berteman sejak lama. Ketika itu mereka asyik mengobrol dan malamnya Pasha pun mengirimkan SMS padahal mereka tidak bertukar nomor telepon sama sekali. Setelah diusut, ternyata Pasha sudah memiliki nomor Tiza sejak beberapa bulan sebelumnya melalui Om-nya yang kebetulan adalah teman dari Tante-nya Tiza. Yang lucunya adalah ide bertemu di Bakerzin juga datang dari tante-nya Pasha yang juga sahabat dari ibu Tiza. Ternyata tanpa mereka sangka, banyak banget yang mau menjodohkan mereka.

tiza pasha wedding stupa caspea the bride dept wedding adat sunda makassar topi mbiring

Setelah beberapa kali berkomunikasi lewat SMS, Pasha pun tiba-tiba menghilang selama beberapa minggu dan itu membuat Tiza berpikir bahwa Pasha memang tidak tertarik padanya. Tapi ternyata Pasha kembali menghubunginya dan akhirnya mereka mulai berpacaran pada awal Januari 2015. Dari awal mereka memang sudah berkomitmen untuk serius dan tidak berpacaran lama-lama. Pada minggu kedua sejak mereka pacaran, Pasha mengajak Tiza untuk menikah tetapi ia juga mengatakan bahwa pernikahannya paling cepat adalah 6 bulan kemudian agar bisa lebih saling mengenal.

Tetapi apa yang terjadi tidak sama dengan rencana mereka.

“Seminggu setelahnya, aku harus keluar kota karena ada kerjaan dan susah banget dapat sinyal. Ternyata Pasha datang kerumahku dan meminta izin menikah kepada ayahku tanpa ada info apapun terlebih dahulu ke aku! Haha! Jadi begitu pulang ke rumah kebayang kan betapa kagetnya aku ketika diberi tahu kalau dua minggu lagi akan ada acara seharian full dari lamaran pukul 9.00 pagi, akad nikah pukul 16.00 dan resepsi pukul 19.00. Acara ini akan berlangsung pada tanggal 14 Februari nanti,” ungkap Tiza ketika ditanya apa bagaimana proses lamarannya.

Proses berpacaran mereka memang sangat singkat tetapi Tiza merasa yakin bahwa Pasha adalah pilihan yang tepat. Ia melihat itu dari cara Pasha memperlakukan keluarganya dan orang lain. Selain itu ia juga merasa bahwa kedua keluarga sudah saling kenal dan juga sudah sama-sama setuju. “I guess it is true what people say, ‘When you know, you just know’,” ujar Tiza.

Proses yang serba kilat ini pun membuat Tiza sedikit kelabakan dalam mengurus pernikahan, apalagi ia sedang mengerjakan proyek kantor yang membuat ia tidak bisa cuti. Untungnya, ia memiliki keluarga dan teman yang sangat proaktif dalam membantunya, mulai dari memikirkan konsep hingga menelepon vendor. Tiza juga merasa sangat bersyukur karena Pasha memiliki jam kerja yang lebih fleksibel sehingga ia bisa lebih banyak terlibat dalam segala persiapannya. Banyak suka, duka dan cerita lucu yang terjadi pada saat mereka mempersiapkan pernikahan. Salah satunya adalah ketika mereka terjebak banjir saat ingin mengurus surat di KUA! Tiza mengakui bahwa mereka sedikit cemas pada waktu itu karena pernikahannya tinggal beberapa hari lagi.

Prosesi yang Tiza lakukan sebelum akad nikah hanyalah acara pengajian dan itupun dilakukan pada sore hari karena ia masih harus bekerja di pagi harinya!

Sebelumnya kedua belah pihak sudah menyepakati untuk menggunakan adat Sunda untuk keseluruhan rangkaian acara. Hal itu dikarenakan Tiza yang memang Sunda tulen, sementara Pasha adalah percampuran Sunda dan Bugis Makassar. Akan tetapi beberapa hari sebelum hari H, keluarga Pasha baru ingat bahwa almarhum ayahnya pernah berpesan bahwa Pasha harus mengenakan Topi Mbiring Makassar yang dipakai beliau ketika menikah. Alhasil mereka pun merubah rencana dan memutuskan Tiza tetap mengenakan busana khas Sunda dan Pasha mengenakan baju adat Bugis ketika akad nikah. Setelahnya, mereka pun melanjutkan dengan rangkaian upacara adat Sunda seperti sawer, meuleum harupat, injek telur, dan lainnya. Namun ada juga beberapa yang dilewatkan, seperti lepas manuk japati dan buka pintu. Hal ini dikarena pernikahan dilakukan di kediaman Tiza jadi tidak ada prosesi pelepasan anak perempuan.

Dari keseluruhan acara, mereka paling suka prosesi penyambutan pengantin pria karena keluarga Pasha datang dengan menggunakan baju khas Bugis Makassar dan disambut dengan adat dan tarian khas Sunda. “Meskipun ini dadakan dan di luar rencana, ternyata hasilnya bagus banget. Seperti ada percampuran dua budaya,” ujar Tiza.

Pada saat resepsi, Pasha mengenakan blangkon yang dikenakan ayahnya Tiza ketika menikah. Selain itu, mereka berdua pun memakai kain bawahan milik ayah ibunya Tiza. Tiza mengakui bahwa kain tersebut sudah tipis dan rapuh jadi harus berhati-hati sekali ketika memakainya.

Tiza men-design pernikahannya dengan konsep classic elegant dan memilih perpaduan warna putih dengan sentuhan emas, sedangkan ia memilih warna putih, kuning, dan hijau untuk bunganya. Tujuannya agar pernikahannya tetap simple tapi tetap cantik dan terang.

Persiapan pernikahan yang sangat singkat ini tidak menghalangi Tiza untuk membagikan seragam kepada teman-teman terdekatnya. Awalnya mereka sepakat untuk mengenakan busana dengan warna sama namun salah seorang temannya menawarkan untuk membeli kebaya yang ready-to-wear di Thamrin City. Ia pun segera menghitung jumlah bridesmaids-nya yang ternyata ada 30 orang. Untungnya seragam dengan warna kesukaannya pun ready stock.

Overall, Tiza dan Pasha sangat puas dengan pernikahan mereka dan tidak ingin mengubahkan apapun, kecuali menambah vendor foto.

“Tetap tenang dan jangan panik. Kelancaran komunikasi antara pasangan pun harus tetap dijaga. Bicarakan semua masalah agar pasangan dapat membantu dan jangan sungkan untuk meminta bantuan dari keluarga dan teman-teman terdekat. Intinya semuanya harus dibawa senang. Good luck, brides-to-be!” saran dari Tiza.

Ketika ditanya top three vendors, Tiza pun menjawabnya dengan empat vendor pilihannya

1.Dwimatra WO

“Kang Ubun sangat-sangat membantu aku untuk nego dengan vendor, bujukin ibuku untuk pake band yg aku mau, mengurus undanganku dalam waktu 3 hari. Gesit banget dalam merespon dan memberi kabar ataupun info. Pokoknya oke banget dalam membantu wedding preparation aku!”

2. Dieva Ipeh

“Dalam waktu 10 hari, Ipeh bisa jahit 3 kebaya buat acara lamaran, akad nikah dan resepsiku.Dengan cuma 1x fitting hasilnya super cantik dan sesuai bayanganku.”

3. Adi Adrian

“Makeup-nya flawless dan tahan lama, makin lama makin bagus. Dengan acaraku yang sangat padat dari pagi sampe malam, gradasinya terlihat. Mulai dari pagi hari lamaran, makeup terlihat soft kemudian sore hari akad nikah dan malemnya resepsi make up makin hidup dan manglingin.”

4. Stupa Caspea

“Untuk vendor dekor yg satu ini, aku cuma tinggal kasih tahu kira-kira dekor dan bunga seperti apa yang aku inginkan. Ketika hari H, aku sangat puas dengan hasilnya terutama dengan rangkaian bunganya yang super cantik. Pokoknya tidak diragukan!”