Tetap Menjadi Gadis Kecil Ayah

By Rebebekka on under How To

Semasa hidup saya, hanya dua kali saya pernah melihat ayah saya menangis, yaitu ketika berziarah ke makam nenek (ibu dari ayah saya) dan ketika pemberkatan nikah saya. Ayah saya adalah seorang bapak – bapak Batak yang dari wajahnya saja sudah kelihatan dia orang yang galak dan tegas. Tidak jarang teman – teman pria yang main kerumah takut melihat ayah saya. Memang, ayah saya itu orangnya galak. Kedua abang saya yang tahu benar akan hal itu. Kalau mereka sedikit saja berbuat nakal, akan dihukum habis – habisan oleh ayah saya. Sedangkan saya yang merupakan anak perempuan satu-satunya tidak pernah dimarahi ataupun dihukum. Alhasil kedua abang saya pun sering protes karena merasa diperlakukan secara tidak adil hehe. 

Saat SMA, saya sempat merasa sangat kesal karena saya tidak diperbolehkan berpacaran. Di saat teman-teman saya diizinkan untuk membawa pacar ke rumah, saya harus umpet-umpetan ketika pacar saya mengantar pulang.  Pernah juga seorang pria mundur mendekati saya karena dibentak oleh ayah saya ketika menelepon ke rumah. “Jangan coba – coba telepon ke sini lagi ya!! Belajar dulu kalian yang benar!!” Bentak beliau kepada teman saya kala itu. Malunya bukan main.

Semakin dewasa apalagi sekarang sudah memiliki anak, barulah saya tersadar kenapa ayah saya sangat protektif terhadap anak perempuan satu – satunya. Ketika tiba waktunya saya menceritakan tentang pria pilihan saya kepada beliau, tiba-tiba ayah saya berkata sambil menatap ke langit-langit rumah,”Bapak lagi mikir, kira-kira nanti bapak kuat ga ya di pernikahan kamu?” Saya sendiri tidak mengerti apa maksud dari Bapak saya tetapi saya hanya pura-pura sibuk mengerjakan hal lain. 

 

 

Pertanyaan saya akhirnya terjawab di pemberkatan pernikahan saya. Ketika saya selesai diberkati, beliau memeluk saya sambil menangis terharus hingga sesak nafas. Bahkan sahabat saya yang ketika itu memberikan tissue kepada beliau terkena tetesan air matanya saking derasnya.

Ketika kita menikah, pastilah ayah akan merasa sangat kehilangan. Terbayang masa – masa kecil kita bersamanya saat dimana kita digendong di atas pundaknya, saat di mana beliau mengikatkan tali sepatu lalu menyisir dan mengikat rambut kita. Saat itu kita sepenuhnya menjadi milik sang ayah. Lalu datanglah pasangan kita melamar dan meminang kita. Hidup baru pun dimulai, kita meninggalkan ayah untuk hidup bersama suami kita. Terkadang karena kesibukan mengurus pernikahan, kita sampai lupa untuk menghabiskan waktu bersama orangtua kita khususnya ayah di waktu – waktu terakhir kita sebagai “anak gadisnya”. Kamu tahu tidak, orang yang paling galau di setiap pernikahan adalah ayah yang menikahkan anak putrinya. Lihat saja saat momen – momen sungkeman atau memohon doa restu. Oleh sebab itu, jangan lupa untuk sisihkan waktu kita menghibur sang ayah yang sedang galau sebelum hari H. Kamu bisa melakukan hal – hal sebagai berikut:

1. Buka album foto masa kecil dan bernostalgia bersama ayah

Ambillah kumpulan album foto yang berisi foto – foto kamu di masa kecil. Bukalah bersama sang ayah sambil bernostalgia tentang masa – masa itu. Album itu juga bisa menyadarkan ayah kamu bahwa kamu sekarang bukan lagi bocah kecil seperti yang ada di foto tersebut. Ceritakan kepada sang ayah, betapa menyenangkannya masa kecilmu bersamanya dan ucapkan terima kasih telah merawatmu hingga dewasa.

2. Masak makanan favorit beliau

Tunjukkan rasa terima kasihmu dengan membuat makanan kesukaan beliau. Tanyakan pada ibu untuk resep dan cara membuatnya ya!

3. Date satu hari bersama ayah

Siapkan satu hari khusus untuk “kencan” bersama ayah berdua saja. Traktir ayah kamu nonton di bioskop dan lanjut romantic dinner di restoran favoritnya.

4. Berdoa bersama

Masa- masa menjelang pernikahan terkadang membuat kita stress dan tertekan. Tidak ada cara lain yang dapat menenangkan kita selain berdoa. Momen – momen menjelang menikah, ajaklah ayah untuk berdoa bersama. Pasti akan terasa sangat damai ketika ayah menjadi imam di waktu sholat atau saat kamu menggenggam tangan ayah sambil berdoa khusuk. Selesai berdoa jangan lupa untuk mencium tangan ayah meminta restu kepadanya menapaki hidup kita yang baru. Tidak ada yang lebih berharga di saat – saat seperti ini selain restu dari orangtua kita.

I may find my prince, but father will always be my king! Walaupun menikah dan hidup bersama suamiku nanti, aku akan tetap menjadi gadis kecilmu, ayah.

×