Lamaran Adat Jawa dan Betawi ala Emillie dan Aditya

By Cynthia on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Colors

Vendor That Make This Happened

Photography Byants

Kebaya Biyan

Make Up Artist Olis Herawati

Emillie dan Adit telah saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, pasalnya mereka sama-sama bersekolah di SMP Labschool Kebayoran. Namun waktu itu mereka belum pernah mengobrol sama sekali. Emilie hanya sekedar mengetahui nama Adit saja sejak kecil. Adit merupakan sosok cowok yang pendiam dan bisa dibilang memiliki ‘dunia’nya sendiri karena lebih prefer bermain game, daripada harus bergaul. Keduanya tidak pernah sama sekali berkomunikasi atau bersinggungan dengan hal yang sama.

Sampai suatu saat setelah Emillie putus dengan pacarnya, ia diperkenalkan kepada Adit oleh temannya sewaktu kuliah S2 di London, yaitu Flora. Kebetulan Adit dan Flora sempat satu sekolah di SBM ITB. Teman kuliah Adit di Bandung yang sekolah di London bersama Emillie juga banyak. Seluruh teman Adit dan Emillie sangat mendukung mereka berdua untuk dekat karena keduanya memiliki banyak kesamaan, terutama mengenai makanan. Awalnya Emillie memang tidak memiliki niatan untuk berpacaran dengan Adit. Bahkan untuk chatting saja, mereka bisa berbalas hingga selang waktu dua hari. Emillie juga baru tahu kalau chat pertama dari Adit ternyata bukan dari Adit sendiri, namun dari teman baik Adit yang bernama Marshal. Setelah Emillie pulang dari London pun Adit tidak langsung mengajaknya untuk bertemu. Alasannya karena Emillie masih memiliki beberapa urusan di Jakarta, sedangkan Adit juga masih merasa bahwa hubungan mereka memang santai.

Melihat keduanya santai-santai saja, Flora serta teman Emillie dan Adit pun menjadi gemas. Ia mempertemukan Emillie dan Adit untuk pertama kalinya di Izakaya Issei Senopati. Adit yang telah dikenal oleh Emillie sejak SMP itu pun berubah drastis dengan Adit yang dilihat hari itu. Adit menjadi sedikit talkactive dan berani memulai percakapan terlebih dahulu. Setelah pertemuan pertama tersebut, Adit menjadi lebih rajin mengajak Emillie untuk bertemu dan pergi. Hingga suatu saat ketika mereka sedang makan di Zenbu Plaza Indonesia, Adit menceritakan kehidupannya selama ini, termasuk kehidupan percintaannya. Sampai di ujung percakapan tersebut, Adit ingin mencoba untuk berpacaran dengan Emillie. Waktu itu Emillie hanya menjawab, “Iya, lihat nanti ya,”.

Setelah mereka resmi berpacaran, Adit baru mulai rajin menelepon Emillie. Memang selama pendekatan mereka hampir tidak pernah mengobrol panjang lebar di telepon. Awal pacaran pun menjadi sangat santai. “It’s like having your bestfriend as your boyfriend,” ucap Emillie. Mereka berdua selalu cerita mengenai seluruh hal, mulai dari masa lalu hingga rencana ke depannya masing-masing. Sampai suatu saat ketika mereka berpacaran selama 6 bulan, Adit menceritakan bahwa pertama kali mengenal Emillie, ia merasa yakin bahwa Emillie mampu menjadi sosok istri yang baik untuknya. Walaupun mereka mungkin tidak memiliki banyak kesamaan, baik untuk masalah selera maupun hobi. Sejak saat itu, Adit berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik, sesuai dengan keinginan Emillie, seperti mengurangi ego dan idealismenya. Adit selalu sabar mendengarkan semua persyaratan dari Emillie, bahkan Adit juga selalu berusaha menerima tantangan yang diberikan oleh Emillie agar bisa bersamanya. Bahkan Adit yang dulu terkenal tidak suka menyetir, setelah pacaran bersama Emillie menjadi ‘terpaksa’ menyetir. Bahkan sekarang Adit selalu menyetir kemana saja.

Untuk masalah lamaran pernikahan, awalnya Adit hanya menanyakan bagaimana mimpi dan harapan Emillie untuk menikah. Emillie pun berkata bahwa ia ingin dilamar pada saat berumur 25 tahun, kemudian menikah sebelum usia 26 tahun. Ternyata Adit berusaha untuk memenuhi seluruh persyaratan yang diminta oleh Emillie, termasuk meminta izin kepada orang tua Emillie dan orang tua Adit sendiri.

Suatu hari Adit memiliki inisiatif untuk menemui mama dan papa Emillie, tanpa sepengetahuan Emillie. Namun ternyata papa Emillie malah langsung menelepon Emille dan menyuruh Emillie untuk turun ke bawah. Setelah turun, Emillie pun merasa kaget melihat Adit yang sudah ada di ruang makan rumahnya. Papa Emillie langsung bertanya, “Ini Adit katanya mau nikah sama kamu, gimana?”Pada waktu itu Emillie hanya menjawab, “Ya itu gimana kesiapan Adit saja,”.

Pada awal bulan Januari, setelah Adit dan keluarganya pulang dari berlibur, Emillie sempat marah besar kepada Adit dan tidak mau mengangkat telepon sama sekali. Ketika Emillie bangun pagi, ternyata Adit sudah ada di samping kasur dengan membawa flower box yang berisi cincin. Adit pun langsung membacakan kalimat yang sudah dirangkainya semalam suntuk, “Will you marry me?”.

“Emilie Ayu Hapsari, words can’t be enough to describe how much I need you. I look back to the last two years and remember how much you’re in it, making changes in every aspect in my life.

A teacher

I cannot believe that you taught me how to drive a car (my close friends would know how much I hate to be in driving seat), and you probably know more life skills than me (but not swimming and bicycling).

A cheerleader

As cheesy as Omi’s trending song, I had numerous hard times when you support me to get through it. I even started working out and trying healthy diet.

A mother

Good reminder for everything, like my mom, especially if it’s about taking care of myself.

A foodie

We enjoyed experiments with food (hip new places, fine dining, hawker) and I hope it could grow to greater experience, as it’s always been our common interest. More gastronomy stuff perhaps.

A lover

I’ve been a solo for years and through you, I realized how self-centered and heartless I am. There’s a balance to keep between us and being the lesser one, I hope at the end of the day I could be even with you. It is nice to have someone who really care about me and true that you give your everything to live with my ‘minuses’.

And then finally, I hope you’ll fill in a new role to me

A life partner

We could depend on each other and growing old together. How lovely is that? A whole new foodie adventure, learning new life skills, raising kids. Of course problems will come, but it’s merely to test our trust and bond, which I’m sure will be even stronger as we continue.

Will you marry me?”.

Ternyata sebelum momen tersebut berlangsung, Adit sudah mengkontak ke semua teman Emillie.Dia meminta mereka untuk meng-add Adit di Path. Sehingga setelah Adit mendapatkan jawaban “Yes” dari Emillie, ia langsung memposting foto Emillie di Path untuk membagi kebahagian mereka berdua. Sebelumnya Adit memang tidak pernah mau berteman dengan teman Emillie di media sosial.

Emillie dan Adit memutuskan untuk mengadakan acara lamaran pada tanggal 13 Februari, di mana hanya selang 1 bulan saja. Sehingga persiapan pun dilakukan dengan cepat. Untungnya mama Emillie aktif di organisasi, sehingga mama Emillie punya banyak koneksi dan langganan karena sering mengadakan acara. Mereka berdua menyerahkan semuanya ke mama Emillie. Keduanya pun bisa berfokus pada kerjaan mereka dan hanya memikirkan seserahan saja.

Konsep acara yang diusung oleh Emillie dan Adit lebih ke intimate party, bahkan hanya keluarga terdekat saja yang diundang. Apabila mereka mengundang semua keluarga, maka akan sangat ramai karena papa Adit sendiri memiliki 12 orang kakak dan adik. Karena Emillie merupakan orang Jawa, sedangkan Adit berasal dari Betawi, mereka pun memilih untuk menyajikan beberapa makanan daerah Betawi dan Jawa. Keluarga Adit pun datang dengan berseragam peci seperti orang Betawi.

Dekorasi yang diusung di acara lamaran Emillie dan Adit didominasi oleh warna biru, cokelat, dan broken white. Warna ini disesuaikan dengan baju kebaya yang dikenakan oleh Emillie. Mereka sengaja memilih dekorasi bunga putih dan hijau karena Emillie memang suka dengan warna hijau. Sedangkan warna biru dipilih karena dapat mempercantik karangan bunga agar menjadi lebih hidup. Salah satu vendor, Chantique Decor, sudah sejak lama menjadi andalan mama Emillie di berbagai acara. Untuk urusan dekor dan bunga memang Emillie telah mempercayakan sepenuhnya kepada sang mama. Pemilik vendor Chantique Decor, mbak Mia, juga sempat memberikan kejutan karena untuk bunga dekorasi rumah ternyata super besar. Mbak Mia juga memberikan banyak bunga untuk round table. Sedangkan dekorasi tenda memakai payung karena terasa lebih ‘homey’ dan tradisional, dibandingkan dengan lampu chandelier.

Saat acara lamaran berlangsung, Emillie mengenakan kebaya cantik dari desainer favoritnya, yaitu Biyan. Sejak dahulu Emillie memang sudah menyukai desain-desain karya Biyan, sehingga saat lamaran dan menikah ia ingin memakai rancangan yang dibuat oleh Biyan. Emillie akhirnya memutuskan untuk pergi ke Pacific Place untuk melihat-lihat baju karya Biyan, karena persiapannya juga cukup singkat, hanya 1 bulan. Setelah melihat-lihat, Emillie tidak sengaja menemukan kebaya biru muda dengan warna tile yang sangat cocok dengan warna kulitnya. Ia langsung memutuskan untuk memakai kebaya tanpa mencari-cari ke tempat lain lagi. Selain itu, Biyan juga sangat membantu proses fitting baju yang telah dibeli oleh Emillie. Ia hanya butuh dua kali sampai kebaya tersebut pas di badan. Model awalnya juga tetep sama dengan lengan lebar di tangan, sehingga motif aslinya pun tetap sama.

Sedangkan untuk pakaian yang dikenakan oleh Adit ialah seragam dengan kain jarik. Awalnya mama Emillie sudah mempersiapkan kain batik motif ‘Sido Mukti’ untuk dipakai mereka saat lamaran. Tapi ada hal lucu ketika Emilie bersama mamanya pergi ke Solo. Para ‘sesepuh’ di keluarga Emillie mengatakan bahwa kain tersebut hanya boleh dipakai ketika ijab kabul saja, tidak baik digunakan untuk prosesi temu. Akhirnya Emillie bersama mamanya langsung mencari kain dengan motif ‘Sido Asih’ untuk acara lamaran.

Highlight selama acara lamaran berlangsung ialah saat Adit memberikan speech di depan kedua orang tua Emillie. Tak hanya itu saja, acara lamaran ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan hari ulang tahun Emillie serta papa Adit. Sehingga di tengah acara lamaran, mama Emillie memberikan kejutan untuk ulang tahun Emillie. Ditambah lagi ternyata Adit juga sudah meminta bala bantuan dari teman-teman Emillie untuk membuatkan rangkaian balon dan choux favoritnya.

Top 3 vendor pilihan Emillie dan Adit

  1. Antijitters

Antijitters merupakan vendor yang dimiliki oleh Meutia. Ia sangat sigap dan mengerti keperluan para klien wanita pada saat lamaran. Selain itu, Meutia juga bisa mengarahkan Emilie dan Adit untuk berpose, sehingga mereka berdua memiliki foto dengan hasil yang bagus dan memuaskan.

  1. By Ants

Mereka mendapatkan bantuan dari rekan baik papa Adit yang bernama Hardy. Pihak By Ants membantu mereka dari awal hingga akhir. Saat Emillie dan Adit sempat galau akan mengambil video atau tidak saat lamaran berlangsung, Hardy langsung menawarkan kepada mereka untuk merekam seluruh acara. Bahkan ia juga memberikan ekstra foto pada saat hari H

  1. Chantique Decoration

Chantique Decoration menghasilkan bunga yang super cantik dan totalitas. Mia selaku pemilik memberikan banyak ekstra bunga pada setiap meja, hingga teman Emillie sempat berkata bahwa rumahnya mirip dengan taman bunga.

Mereka berdua juga memberikan tips untuk para pembaca The Bride Dept dalam mempersiapkan acara lamaran. Pertama, Anda harus belajar untuk percaya kepada siapapun. Emillie merupakan orang yang perfeksionis. Namun menurutnya, semakin kita ingin semuanya berjalan semua, maka kita malah akan semakin merusaknya. Melalui acara lamaran ini, ia berusaha menjadi orang yang lebih pasrah dan percaya kepada keluarga, terutama pada mama Emillie. Ia yakin bahwa mamanya akan memberikan apapun yang terbaik untuknya. Sehingga menurut Emillie, sebaiknya Anda benar-benar menikmati untuk mengurus hal-hal yang pribadi seperti perawatan tubuh dan wajah, make up, dan fitting pakaian. Hasilnya pasti akan di luar ekspektasi kita. Dan selama persiapan pasti akan banyak bantuan yang datang.