Pernikahan Adat Jawa Kental di Kota Semarang

By Cynthia on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Colors

Vendor That Make This Happened

Wedding Reception

Venue Gedung Serba Gunan AKPOL Semarang

Event Styling & Decor Lucky Decoration

Photography Ideo Photography

Bride's Attire Prestige by Inar

Make Up Artist Sanggar Pandan Wangi

Jika kebanyakan kisah dua sejoli muncul dari bangku sekolah, kali ini kisah yang akan disampaikan oleh The Bride Dept hampir serupa namun hanya berbeda tempat. Indri dan Dipa pertama kali bertemu saat kelas 3 SMA di sebuah lembaga bimbingan belajar di mana mereka mengikuti les tambahan untuk persiapan ujian. Setelah bertemu, mereka mulai berkenalan karena mendapatkan dukungan dari teman-teman yang menjadi tim comblang. Tak lama dari perkenalan itu pun keduanya berpacaran. Perjalanan kisah mereka berlanjut hingga ke pelaminan dan mengusung sebuah pernikahan adat jawa yang cantik. Yuk baca selengkpanya!

Awalnya Indri merasa tidak menyangka bahwa akhirnya hubungan keduanya bisa berlanjut ke tahap yang serius karena ia berpikir bahwa hubungan ini hanya sebatas percintaan anak SMA saja. Namun dari waktu ke waktu, antara Indri dan Dipa pun semakin mengenal satu sama lain dan merasa cocok. Namun semuanya tidak berjalan dengan mulus dan mudah. Mereka sempat merasakan cobaan yang cukup berat saat memasuki tahun ke-5 karena harus menjalani LDR (Long Distance Relationship) di Jakarta dan Semarang. Namun kekuatan cinta mereka membuat hubungan LDR ini dapat sukses berjalan selama 4 tahun. Keduanya juga semakin dewasa dan yakin akan komitmen. Hingga akhirnya pada tahun ke-8 mereka memutuskan untuk masuk ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan.

Namun lucunya, tidak ada proposal secara personal dari Dipa. Pernikahan memang sudah menjadi komitmen mereka berdua. Keduanya sudah berhubungan selama 9 tahun, sehingga mereka merasa sudah saatnya untuk menikah. Terlebih dengan kondisi mereka yang tengah menjalani LDR. Namun pernah suatu waktu, dalam perjalanan ke airport bersama ayah Indri, Dipa sempat meminta kepada ayah Indri untuk menikahi putrinya. Menurut Indri, hal tersebut adalah hal paling romantis yang pernah dilakukan oleh Dipa, daripada sekedar proposal personal kepada Indri.

Waktu yang dibutuhkan dalam mempersiapkan wedding sekitar 10 bulan. Hingga akhirnya Indri dan Dipa menikah pada hari Jumat tanggal 8 Januari 2016 di Masjid Agung Jawa Tengah. Disusul acara resepsi pernikahan pada hari Sabtu tanggal 9 Januari 2016 di Gedung Serba Guna AKPOL Semarang. Tantangan terbesar yang dihadapi selama mempersiapkan pernikahan adalah rumitnya melakukan koordinasi karena lokasi Indri dan Dipa yang terpisah. Indri berada di Jakarta,orang tua Indri di Palembang, sedangkan Dipa dan keluarganya berada di Semarang. Tentu saja hal ini membuat mereka harus semakin bersabar.

Pernikahan impian Indri dan Dipa adalah pernikahan yang menggunakan konsep Jawa tradisional. Sebagai contoh, konsep Jawa tradisional di mana pengantin menggunakan kereta kuda dan diarak layaknya karnaval sebelum memasuki gedung. Selain itu pada saat prosesi kirab, pengantin juga diiringi oleh para prajurit keraton Solo saat memasuki pelaminan. Tentunya semua ini didukung dengan iringan gamelan dan kecapi (siter) serta sinden, sehingga semakin kental unsur tradisionalnya.

Sedangkan untuk masalah busana, mereka menggunakan busana khas Solo dengan dominasi material beludru atau velvet (@prestigebyinar). Busana ini makin apik karena didukung dengan makeup dan paes dari Ibu Dwi (@sanggarpandanwangismg). Para bridesmaid juga menggunakan beskap dan kebaya kutubaru. Pastinya seluruh pengantin pengantin wanita wajib menggunakan sanggul jawa agar semakin terasa budaya Jawa yang diusung.

Selain busana, hal lain yang menyita perhatian para tamu undangan adalah dekorasi. Indri dan Dipa mengusung konsep dekorasi putih coklat gold dengan ornament-ornamen yang dikemas dengan sangat cantik. Kemudian sentuhan terakhir ditambahkan dengan daun-daun hijau dari kayu yang membuat pelaminan semakin tampak cantik. Mereka ingin menciptakan kesan Jawa, namun simple dan clean untuk akad nikah.

Sedangkan detail dekorasi pada saat resepsi pernikahan mengusung konsep Jawa dan tradisional. Pelaminan tidak menggunakan gebyog kayu, namun menggunakan styrofoam yang didekor sangat indah dengan warna tembaga dengan penggunaan bunga putih serta chandelier dan daun hijau. Dekorasi semakin menawan dengan adanya dukungan tim lighting yang sangat mumpuni. Selain itu, dekorasi juga semakin terkesan “njawani” karena didukung dengan para sinden serta gamelan dan kecapi yang mengiringi prosesi acara dari awal hingga akhir.

Beberapa prosesi adat Jawa yang dilakukan oleh Indri dan Dipa antara lain:

1. Pemasangan bleketepe dan tuwuhan

Bleketepe yang dipakai terbuat dari anyaman daun kelapa, kemudian dipasangkan di depan rumah calon pengantin wanita. Tata cara memasangnya adalah ayah dari mempelai wanita harus naik tangga, sementara sang ibu memegangi tangga tersebut sambil membantu memberikan bleketepe. Hal ini melambangkan bahwa gotong royong kedua orang tua lah yang akan menjadi pengayom keluarga. Sedangkan tuwuhan yang terdiri dari pohon pisang raja yang sudah masak, tebu wulung, cengkir gadhing, daun randu, pari sewuli, serta bermacam-macam dedaunan yang disediakan mengandung arti bahwa harapan orang tua kepada anak yang akan menikah agar dapat memperoleh keturunan.

2. Siraman

Siraman ini dilakukan oleh kedua calon pengantin, maknanya untuk menyucikan diri secara lahir dan batin. Pada kegiatan siraman yang dilakukan di pihak calon pengantin wanita, terdapat rangkaian jualan dawet yang dilakukan oleh kedua orang tua calon pengantin wanita.

3. Midodareni

Midodareni dilakukan saat calon pengantin wanita “dipingit” di dalam kamar. Ia tidak diperbolehkan keluar kamar. Orang-orang yang boleh masuk ke kamar hanyalah tamu wanita saja. Tradisi kunjungan ini disebut tilik nithik. Tradisi midodareni ini dipercaya oleh orang Jawa sebagai pertanda bahwa para bidadari turun ke bumi untuk memberikan berkat kepada calon pengantin. Dan lucunya, calon pengantin pria pada saat midodareni tersebut juga datang ke rumah calon pengantin wanita, namun hanya diperbolehkan sampai di depan rumah saja. Kemudian disuguhi dengan segelas air putih dan tidak diperbolehkan makan makanan yang disajikan di rumah.

4. Panggih

Prosesi panggih dilakukan setelah akad nikah dilaksanakan. Proses ini berbeda-beda antara adat Solo dan Jogja. Pada acara pernikahan Indri dan Dipa, mereka menggunakan adat Solo. Banyak hal yang dilakukan meliputi:

  • Temu pengantin

Pada saat momen ini, orang tua dari pengantin wanita menerima kembar mayang dan pisang sanggan dari perwakilan pengantin pria. Setelah itu pengantin wanita dan pria dipertemukan dan melakukan lempar sirih.

  • Injak telor

Pada saat ini, pengantin pria menginjak telor hingga pecah. Prosesi ini melambangkan keinginan pengantin untuk segera diberikan keturunan. Pengantin wanita membasuh kaki pengantin pria. Hal ini melambangkan rasa baktinya kepada imamnya, yaitu suaminya.

  • Kacar kucur

Pada prosesi ini, pengantin pria menuangkan uang koin ke dalam tempat yang dipegang oleh pengantin wanita sebagai lambang bahwa pengantin pria akan menafkahi pengantin wanita.

  • Dulang-dulangan

Upacara ini dilakukan dengan saling menyuapi satu sama lain. Prosesi ini diartikan bentuk perhatian antara pengantin pria dan wanita. Kemudian ungkapan kasih satu sama lain.

  • Sungkem

Tradisi ini diawali dengan sungkem kepada orang tua pengantin wanita, kemudian dilanjutkan sungkem kepada orang tua pengantin pria. Tujuannya adalah untuk meminta doa restu agar pernikahan dapat berjalan sakinah mawadah warahmah.

  • Kirab

Prosesi kirab dilakukan ketika pengantin pria dan wanita memasuki gedung dengan diiringi oleh cucuk lampah di bagian depan. Kemudian para keluarga berada di belakang pengantin.

Indri merasa bahwa prosesi paes merupakan prosesi yang paling menentukan mood seluruh acara. Ia adalah orang yang sangat detail dan perfeksionis. Terutama untuk bagian alis, Indri meminta alis dibuat sedikit modern dan bold. Tidak seperti alis ala makeup Jawa yang terkesan dikerik dan tipis. Untungnya perias pengantin yang dipercayakan Indri sangat kooperatif, sehingga apa yang ia minta dapat direalisasikan.

Cerita memorable ketika pernikahan yang dirasakan oleh Indri dan Dipa ialah saat mereka memutuskan untuk menggunakan kereta kuda daripada mobil pernikahan. Saat menaiki kereta kuda tersebut, mereka diarak layaknya karnaval sebelum memasuki gedung. Dan pada saat tiba di gedung, di depan gedung sudah ada banyak para tamu yang menunggu dan ingin melihat keduanya turun dari kereta kuda. Selain itu, pada saat kirab, Indri dan Dipa juga menggunakan para prajurit ala keraton, sehingga kirab tersebut berlangsung sakral dan ala keraton seperti yang mereka impikan.

Top 3 Vendors Pilihan Indri dan Dipa

1. Lucky Dekor

Lucky sebagai pemilik vendor ini bisa menginterpretasikan kemauan Indri dan Dipa menjadi kenyataan. Mereka sangat puas dengan hasil yang diberikan oleh vendor yang satu ini. Terutama karena seluruh detail yang diminta oleh mereka bisa terealisasikan.

2. Prestige by Inar

Sejak awal Indri memang telah mencari-cari desainer yang dapat membuatkan baju kebaya impiannya. Ia menginginkan baju kebaya berbahan velvet yang “tidak biasa”, namun masih terlihat “elegan dan chic”. Setelah review sana sini, akhirnya Indri mempercayakannya kepada Ibu Inar. Ia mengaku sangat puas dengan hasil karya Ibu Inar, bahkan kebaya buatan Ibu Inar tidak ada revisi sama sekali. Ketika fitting pun, kebaya tersebut terasa pas di badan, kemudian detailnya juga dibuat “tidak biasa” sesuai dengan yang diinginkan oleh Indri.

3. Sanggar Rias Pandan Wangi

Indri dan Dipa menggunakan jasa Sanggar Rias Pandan Wangi milik Ibu Dwi. Apapun yang Indri minta, Ibu Dwi memberikan pelayanan yang sabar dan telaten. Walaupun antara Indri dengan Ibu Dwi sempat berbeda pendapat, namun akhirnya Indri pun mengikuti saran dari Ibu Dwi yang ternyata benar dan bisa membuat riasannya nampak berbeda dan mengesankan.

Tips untuk pembaca The Bride Dept dalam mempersiapkan pernikahan ialah mematangkan konsep yang diinginkan terlebih dahulu. Pilih konsep dan dalami konsep tersebut hingga dapat mencapai hal-hal yang tadinya tidak terpikirkan. Jangan sampai konsep tersebut pada akhirnya menjadi campur aduk. Drama pra pernikahan pasti ada, yang pasti tetap sabar saat menghadapinya. Semua pasti akan berlalu dan hasilnya pun pasti worth it.

×