Pernikahan Adat Bali ala Dewika dan Nyoman di The Patra Bali

By Anita Ve on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Upacara Pawiwahan

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Sarikayana Balinese Wedding Organizer

Beauty Preparation Luxima Photography

Bride's Attire Dieva Ipeh

Make Up Artist Orien

Wedding Reception

Venue The Patra Bali Resort & Villas

Event Styling & Decor Bali Tiffany Decoration

Bride's Attire Galih Prakasa

Make Up Artist Barry Irawan

Wedding Cake Goela Bakery

Wedding Organizer Bali Wedding Assistant

“Usaha keras Nyoman untuk menurunkan berat ternyata berhasil meluluhkan hati Dewika. Menurut Dewika, niat itu membuatnya semakin yakin untuk menerima pinangan Nyoman.”

Nyoman dan Dewika bertemu kali pertama di tahun 2014 ketika Dewika mengadakan arisan rutin di Rembulan bersama teman-temannya. Awalnya, Dewika tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Nyoman meski ia sering mengirimkan pesan kepada Dewika. Apalagi waktu itu Dewika masih memiliki kekasih.

Sempat putus hubungan dengan Nyoman, akhirnya Dewika kembali mengontaknya karena ia membutuhkan seorang dokter untuk berpartisipasi dalam arisan yang diadakan Dewika. Saat merencanakan acara arisan itu, Nyoman meminta bertemu dengan Dewika beberapa kali dengan banyak alasan. “Dia minta proposalnya dikasih langsung di tempat tidak boleh lewat email,” kisah Dewika. Selang beberapa waktu, Nyoman pun meminta Dewika menjadi kekasihnya tapi Dewika punya satu syarat yang harus dipenuhi Nyoman. “Aku mau jadi pacar kamu kalau kamu diet.”

Ternyata permintaan Dewika diwujudkan oleh Nyoman. Ia berhasil menurunkan 20 kg dalam kurun waktu 2 bulan saja demi untuk menjadi kekasih Dewika. “Saat ultahku di bulan Agustus, Nyoman memberikan kejutan berupa balon dan bunga mawar yang ditata rapi di kamarku lalu ia pun memainkan gitarnya dan tiba-tiba bertanya,Will you marry me?”

“Semenjak itu kami hanya punya waktu 5 bulan untuk persiapan pernikahan,” ujar Dewika yang tak sabar menyambut hari bahagianya kala itu.

“Kami mengadakan upacara tradisional untuk pertunangan dan pernikahan selama satu minggu penuh.” Bukan tanpa kendala, Dewika dan Nyoman yang tinggal di Jakarta harus rela bolak-balik ke Bali untuk persiapan resepsinya.

“Cukup merepotkan,” keluh Dewika ketika mengingat bagaimana sulitnya ia dan Nyoman memilih vendor-vendor tanpa campur tangan orang tua. “Kami ingin pernikahan ini menjadi buah pikiran kami berdua,” cerita Dewika lagi. Dewika mengaku ada beberapa vendor yang sengaja didatangkan langsung dari Jakarta untuk bekerja sama dengan vendor yang ada di Bali. Meski begitu, Dewika mengaku sangat terbantu dengan keberadaan mereka yang sangat memudahkan persiapan resepsi.

Karena Ibu Nyoman keturunan Tionghoa dan ayahnya berdarah Bali, maka mereka pun memutuskan untuk memakai dekorasi yang mengkombinasikan kedua unsur budaya tersebut. “Aku memakai Paes Buleleng untuk pesta adat tradisionalnya.”

Ada 3 rangkaian prosesi yang harus dilalui oleh pasangan ini. Pertama, Mereraosan, yakni prosesi dimana keluarga inti calon mempelai pria mendatangi kediaman mempelai wanita untuk membicarakan niat sang pria dalam meminang calon istrinya. “Adat kami tidak mengenal istilah lamaran.” Ketika prosesi ini selesai maka berlanjut ke prosesi kedua, yakni Mepamit/Ngidih.

Prosesi ini adalah upacara untuk berpamitan, memohon diri untuk meninggalkan rumah. Pengantin wanita akan dijemput oleh keluarga besar mempelai pria lalu bersama-sama menuju ke kediaman mempelai pria. Pada prosesi ini, diberikan pyula seserahan dan sajen.

Prosesi terakhir adalah Pawiwahan yang memakan waktu satu hari penuh. Dewika menjelaskan, “Prosesi ini semacam akad nikah bagi kami. Di dalam prosesi inilah calon mempelai pria dan wanita akhirnya resmi menjadi suami istri di mata Tuhan.”

Setelah upacara adat tradisional selesai, kedua mempelai ini memutuskan untuk menggelar resepsi pernikahan bertema internasional. “Kami telah menjalankan prosesi adat selama berhari-hari makanya kami memutuskan untuk memakai konsep yang lebih modern di pesta resepsinya.”

Meski begitu, mereka tak melupakan budaya begitu saja karena di acara pernikahannya, tarian kecak untuk menyambut kedatangan mempelai dan dekorasi adat Bali menjadi unsur unik dalam pesta itu. Awalnya, mereka mengaku kesusahan untuk menemukan penari kecak dalam jumlah sedikit. Namun akhirnya mereka pun menemukan penari kecak berjumlah 10 orang.

Tak tanggung-tanggung, pesta pernikahan Nyoman dan Dewika diadakan dua kali dalam satu hari. Yang pertama, Sunset Cocktail yang dimulai jam 5 hingga 6.30 malam. “Sunset Cocktail itu seperti pre-party bagi kami soalnya pesta biasa sudah terlalu mainstream,” jelas Dewika yang hanya mengundang kerabat dekat masing-masing untuk menghadiri pesta cocktail ini. “Kami menggunakan baju pesta berwarna putih dan acaranya sangat santai. Kami semua duduk-duduk di sofa sambil menikmati matahari terbenam.”

Lalu acara dilanjutkan dengan jamuan makan malam mulai dari jam 7 hingga 9.30. “Acara ini lebih formal dan mengundang kerabat dari orang tua kita masing-masing.” Pada resepsi ini, Dewika menggunakan gaun berwarna merah dan dekorasi ruang pun dibuat romantis.

Dewika tak menyangka bahwa Nyoman akan memberikan kejutan untuknya, yaitu ketika ia tiba-tiba menyanyikan sebuah lagu tanpa persiapan. “Suaranya gemetar karena grogi,” ujar Dewika. Dari keseluruhan acara resepsi, momen inilah yang menurutnya paling berkesan.

Top 3 Vendor Pilihan Dewika:

1. Galih Prakarsa

“Saya super puas! Meski desain gaun Galih sering dipakai artis ibukota, ternyata Galih tidak sombong. Sangat komunikatif dan selalu meluangkan waktu untuk bertemu. Bahkan mau datang ke kediaman saya untuk melakukan fitting baju karena waktu yang mepet.”

2. Barry Irawan dan Iwan Taufik

“Makeup dan hairdo hasil dari duet Barry dan Iwan dari Jakarta membuat saya tampil flawless saat pre-party dan seketika berbeda saat dinner reception. Padahal waktu untuk bersiap siap dari preparty ke dinner reception hanya 30 menit!”

3. Bali Tiffany Decoration

“Mbak Lia dari Bali Tiffany sangat komunikatif dan selalu on time saat meeting. Selain itu, dekorasi yang dihasilkan saat hari H indah dan sesuai dengan apa yang saya mau.”

Tips dari Dewika untuk bride-to-be yang sedang mempersiapkan pernikahan:

“Jangan menaruh terlalu banyak berekspektasi terhadap acara pernikahan tapi selalu fokus dan yakin bahwa kehangatan mahligai rumah tangga setelah pernikahan itu lebih penting daripada sekedar kehangatan pesta. Apabila nanti banyak yang memuji acara kalian atau vendor-vendor yang digunakan, it will be a bonus to your effort!”

×