4 Cara Menghadapi Keraguan Menjelang Pernikahan

Pernikahan identik dengan momen yang ditunggu-tunggu dan membahagiakan. Sayangnya, proses menyiapkan pernikahan dapat memicu stress sehingga calon mempelai menjadi lebih sensitif dan mudah bertengkar. Terkadang pertengkaran sebelum menikah dapat berujung dengan keraguan untuk meneruskan pernikahan atau justru malah membatalkannya. Kalau keraguan ini muncul sebelum adanya rencana pernikahan, tentu tidak menjadi masalah yang besar. Tetapi ketika semua vendor sudah dibayar, undangan sudah disebar, dan pernikahan sudah di depan mata lalu kita menjadi ragu, tentunya perlu melakukan sesuatu untuk menghadapinya!

Kecemasan yang wajar dirasakan saat menjelang pernikahan adalah melepaskan status lajang dan kebebasannya serta sukses atau tidaknya acara pernikahan. Akan tetapi, ada juga keragu-raguan yang muncul karena kualitas hubungan dengan pasangan yang perlahan-lahan mulai memburuk sehingga kita merasa tidak tertarik lagi dengan pasangan. Ketika hal ini terjadi kita perlu berhati-hati. Lalu, bagaimanakah mengatasi keraguan yang datang tersebyt? Berikut 4 hal yang perlu dilakukan:

  1. Tuliskan Semua Keraguan

Menuliskan semua keraguan dapat membuat Kita menjadi lebih lega dan memiliki waktu untuk memikirkan jalan keluar dengan tenang. Ketika kita menuliskan masalah, kita mengambil jarak dari masalah kita sehingga lebih mudah untuk menemukan solusi yang paling tepat.

  1. Bicarakan dengan Pasangan

Kita mungkin ragu untuk mendiskusikan kegelisahan yang sedang dirasakan menjelang pernikahan kepada pasangan, akan tetapi ingatlah bahwa pasangan adalah tempat berbagi untuk sisa hidup kita. Oleh karena itu, kita perlu terbuka dan jujur meskipun topik bahasannya tergolong sulit, stress dan keraguan menjelang pernikahan, kecemasan akan masa depan, masalah finansial, karir dan pekerjaan, serta anak. Mendiskusikan dengan pasangan dan memperoleh respon yang positif darinya akan dapat menenangkan keraguan kita.

  1. Meminta Nasehat dari Orang Tua

Jika kita dan pasangan sudah berusaha mendiskusikan keraguan yang dirasakan namun belum menemukan jawaban, kalian berdua dapat mencari bantuan dari orang lain. Tentunya, kita perlu pintar memilih dan berhati-hati memilih orangnya. Kita dan pasangan dapat berdiskusi dan meminta nasehat dari orang tua atau sanak saudara yang sudah lama menikah dan memiliki pernikahan bahagia. Kebijaksanaan dan pengalaman mereka dapat memberikan pencerahan atas keraguan yang kita miliki.

  1. Bertemu dengan Konselor Pernikahan

Keraguan menjelang pernikahan dapat diminimalisasi melalui konseling premarital. Kita akan merasa terbantu karena merasa tidak sendirian dan dapat berbagi pikiran, keraguan, dan ketakutan yang dirasakan. Selain itu, kita juga akan dapat merasa lebih siap secara mental dan emosional karena pihak professional mampu bersikap objektif dalam memberikan alternatif solusi dan perspektif.

Jangan takut menyelesaikan permasalahan dan keraguan sebelum menikah. Ingatlah bahwa sebelum mengikat janji setia, Kita masih memiliki kesempatan untuk memikirkan yang apa yang terbaik untuk diri sendiri maupun pasangan. Jika memang tidak dapat diselesaikan dan memang harus menunda pernikahan, hal itu jauh lebih baik dibandingkan harus memaksakan menikah. Rasa malu dan uang yang sudah dikeluarkan tidak lebih besar harganya dibandingkan permasalahan yang akan ditemui setelah pernikahan – bahkan dapat berujung ketidakpuasan dan perceraian.

 

Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi., Psikolog adalah psikolog klinis dewasa yang tertarik dengan isu-isu terkait hubungan romantis, persiapan pernikahan, permasalahan dalam pernikahan, dsb. Wita merupakan salah satu penulis buku “Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan” dan merupakan certified facilitator SYMBIS (Save Your Marriage Before It Starts), sebuah program yang dirancang untuk mempersiapkan pasangan untuk menghadapi pernikahan. Sapa Wita melalui sjkusumawardhani@gmail.com atau DM di IG: @ladywitts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *