4 Langkah Cegah “Miskom” Saat Persiapan Pernikahan

Hari pernikahan merupakan hari bahagia bagi sebagian besar orang. Akan tetapi, masa persiapan pernikahan bisa jadi momen yang stressful untuk kedua calon pengantin. Tekanan dari kedua belah pihak keluarga menyangkut susunan acara, adat, pemilihan vendor dekorasi, foto dan catering, seringkali malah menyulut konflik antara calon pasutri. Pada beberapa kasus, konflik di masa persiapan pernikahan ini bahkan bisa membuat pernikahan bubar. Sayang, ya? Bukankah mereka sedang mempersiapkan jalan menuju kehidupan bersama yang bahagia?

Perlu dipahami, konflik terjadi karena ada dua kebutuhan berbeda yang perlu diakomodasi. Pada dasarnya, manusia punya kebutuhan untuk bahagia. Sayangnya, jalan menuju kebahagiaan bisa berbeda pada tiap individu. Tak jarang, kebahagiaan calon istri bisa jadi menghalangi kebahagiaan calon suami. Padahal, kalau dipikir-pikir, calon suami maupun istri punya tujuan yang sama, yaitu menikah, betul tidak? Oleh karena itu, jika niat keduanya sudah mantap, maka ada cara untuk mencegah salah paham yang bisa mengubah masa persiapan pernikahan jadi pembubaran pernikahan. Yuk kita simak!

Jika kamu dan pasangan sedang terjebak konflik perihal acara, vendor foto atau catering yang akan digunakan, ingatlah bahwa kamu dan dia saling mencintai. Itulah persamaan di antara kalian berdua. Cinta. LOVE. Lalu lakukan langkah berikut ini untuk mencegah salah paham di antara kalian:

L Listen and repeat. Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan pasangan, lalu coba ulangi dengan bahasa kita sendiri. Hindari langsung menjawab at mengomentari perkataan pasangan sebelum mendengar baik-baik dan mengulangi.

O Observe. Perhatikan efek pengulangan kita pada pasangan. Jika raut wajahnya berubah, kemungkinan kamu salah menangkap maksudnya. Jika ini yang terjadi, berhentilah sejenak, lalu ungkapkan yang kamu amati dari pasangan “Wajahmu kelihatan bingung, sepertinya aku salah tangkap maksudmu ya sayang?”. Biasanya, ia akan merespon dengan “Bukan itu maksudku, maksudku….”. Lalu kembali lagi dengarkan dan ulangi, sampai benar-benar menangkap maksudnya. Jika ada yang kurang kamu pahami, jangan ragu untuk meminta klarifikasi dengan memberikan pertanyaan terbuka, Jadi, gimana pendapatmu tentang vendor A?”.

V Value Your Partner. Tunjukan bahwa kamu mencintainya dengan menghargai pendapatnya. Meskipun ada pernyataan yang tidak kamu setujui, cobalah untuk mendengarnya bicara hingga selesai. Lalu ulangi dengan mengatakan, “Aku paham bahwa kamu..”. Lalu baru tanyakan pendapatnnya tentang hal yang menurut kita lebih baik, “Bagaimana pendapatmu tentang..”. Contoh: “Aku paham bahwa kamu ingin memakai gaun internasional, kamu pasti kelihatan cantik. Bagaimana pendapatmu tentang baju tradisional?”. Lalu kembali dengarkan, ulangi, dan perhatikan responnya.

E Evaluate your goal and needs. Pahami juga kenapa pasanganmu menginginkan hal berbeda. Cari tahu kepentingan dan tujuan kamu dan pasangan. Jika tujuan dan pasangan masing-masing pihak jelas, maka akan lebih mudah mencari solusi yang sesuai untuk kedua belah pihak.

Biasanya, ada kepentingan yang melandasi permintaan yang terucap. Misalnya, dibalik “Aku ingin pakai gaun internasional”, ada kepentingan untuk mewujudkan mimpi orangtua (ceritanya, orangtua calon istri ingin melihat anaknya dalam gaun pernikahan internasional). Jadi, permasalahan sebetulnya bukan lagi tentang gaun, tetapi tentang cara mewujudkan mimpi orangtua. Maka solusi yang akan dipikirkan berdua ialah seputar bagaimana membahagiakan orangtua calon istri. Cobalah pikirkan beberapa solusi yang dapat memenuhi kepentingan kedua pasangan. Proses mencari solusi yang mengakomodasi kedua belah pihak memang tidak mudah. Akan tetapi, solusi yang dicapai lebih tidak egois dan lebih mudah dilaksanakan.

Bagaimana, siap menunjukkan cinta ke pasangan dengan langkah L.O.V.E. di atas? Selamat mencoba! Semoga langgeng sampai hari H dan seterusnya ya…

Tentang Penulis:

Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi., Psikolog ialah psikolog klinis dewasa yang tertarik dengan isu hubungan romantis baik pacaran maupun pernikahan, serta trauma. Telah mengikuti workshop Couple and Family Therapy, sertifikasi fasilitator PREPARE-ENRCIH (assessment pernikahan), terapis EMDR, dan sertifikasi alat ukur kepribadian Lumina. Saat ini tergabung sebagai associate Tiga Generasi. Bisa dihubungi di pingkan.cbr@gmail.com / ig: @pingkancbr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *