5 Hal yang Sering Disesali Setelah Pernikahan

Setiap pengantin yang telah merayakan resepsi pernikahan, pasti punya suatu hal yang ingin ia ubah. Atau bisa dibilang, punya penyesalan atas hal-hal yang ia lakukan selama persiapan pernikahan.

Penyesalan ini tidak harus hal-hal besar yang fatal, bisa juga hal-hal kecil yang sebenarnya masih tolarable. Tapi, percaya atau tidak, mereka yang telah mewujudkan pernikahan impian sesempurna mungkin pun tetap memiliki satu atau dua hal yang ingin ia ubah dari pesta pernikahannya. Baik itu terkait tema, bujet, atau sikap yang diambil.

Kami mengerti kalau kamu pasti ingin meminimalkan kesalahan atau penyesalan terkait persiapan pernikahan ini. Maka tak ada salahnya, kamu mulai bertanya-tanya seputar hal yang ingin diubah dari resepsi pernikahan teman-teman dekatmu. Pengalaman selalu jadi pelajaran bernilai, lho.

Sekadar sharing, ini dia 5 hal yang ingin saya ubah dari persiapan resepsi kemarin, khusus buat kamu para nearlyweds!

1. Tidak perlu bertengkar dengan orangtua

Ketika orang lain banyak yang bertengkar dengan pasangan saat persiapan pernikahan, saya justru sempat sedikit berselisih paham dengan ibu. Sebulan pertama menjadi masa yang agak sulit karena kami ingin mengakomodasi kebutuhan masing-masing.

Masuk ke bulan ketiga, saya jadi menyesal sekali sempat sebal pada mereka. Apalagi ketika sadar hal itu semata karena semua pihak begitu exciting dan ingin mempersiapkan acara ini sebaik mungkin. Wah, penyesalannya bahkan semakin terasa ketika resepsi berakhir, lho!

Nah, saran untuk para bride-to-be, sebaiknya benar-benar minimalkan pertengkaran. Memang, sih, situasinya sangat stresfull. But don’t sweat by the small things! Karena percayalah, pada akhirnya malah akan menyesal dan malu sendiri.

2. Di-dubbing MC ketika sungkem

Saat siraman dan pengajian sebelum menikah, saya menyampaikan permintaan khusus. Biasanya, kan, calon pengantin hanya sungkem dan kata-katanya diucapkan pemandu adat. Sementara saya ingin saat sungkem mengutarakan kata-kata tersebut sendiri. Agar permintaan maaf, ucapan terima kasih, dan “pamit”, bisa disampaikan lebih personal dan dari hati.

Tapi ketika sungkem usai akad nikah, ternyata kata-kata permintaan maaf saya dan suami dipandu oleh MC. Jujur, saya lupa mengutarakan permintaan khusus untuk momen ini. Sehingga hasilnya jadi tidak natural dan malah jadi tidak khusyuk. Momennya jadi kurang berkesan dan terlalu seremonial. Nyesel!

3. Pakai WO bisa hanya di Hari-H

Untuk bride to be yang cukup detail dalam menyiapkan sesuatu, sebenarnya bantuan dari Wedding Organizer saat sebelum acara itu tak terlalu berpengaruh. Saya melakukan survei, meeting, dealing, hingga mendesain segala sesuatunya sendiri. Bukan karena mereka tak melakukan tugasnya, tapi karena saya tak bisa begitu saja menerima tanpa terjun langsung.

Saat itu, kebetulan memang saya mengambil paket lengkap sehingga jasa WO sebelum hari H pun termasuk di dalam paket tersebut. Tapi kalau diminta memilih, saya prefer menggunakan WO hanya di hari H. Karena kalau kamu tetap ingin terjun langsung di persiapan pernikahan, kadang keberadaan WO malah terasa menghalangi langkah-langkah kamu.

Bukan berarti saya tidak puas dengan pelayanan WO yang saya pakai. Pas hari H, saya sangat mengakui kalau mereka begitu membantu menyiapkan semuanya agar tetap rapi dan tepat waktu. Tapi untuk tipe yang ingin terjun langsung dalam semua hal terkait persiapan pernikahan, maka persiapan resepsi bisa dilakukan sendiri, kok.

4. Seharusnya saya lebih banyak mingle saat resepsi

Mungkin terdengar sepele, tapi saya cukup menyesal karena tidak sempat mingle dan tidak banyak berfoto bersama sahabat ketika resepsi. Karena acara yang padat dan saking takutnya acara resepsi telat dimulai, maka saya diminta langsung ke ruang rias usai akad nikah.

Begitu pula ketika resepsi, saya menyesal sekali sempat menolak dengan halus satu teman yang minta wefie di pelaminan saat awal acara. Wedding organizer memang minta jangan menerima selfie di awal-awal ketika antrean masih panjang. Padahal, teman saya ini jauh-jauh datang dari luar kota dan harus segera pulang sebelum jam foto bersama. Harusnya, tidak masalah ya bandel sedikit. He he he.

5. Menambah kuantitas souvenir

Di awal pemesanan undangan, saya memang sudah menambahkan 100 pcs souvenir. Rencananya, ini untuk saudara, bridesmaid, dan bestman yang pastinya datang dari pagi dan kelupaan meminta souvenir.

Ternyata, 3 minggu sebelum resepsi saya terpaksa menambah jumlah undangan. Hasilnya? Souvenir yang sudah saya simpan untuk teman pun jadinya dikeluarkan untuk tamu karena kami tak sempat pesan souvenir lagi.

Memang, sih, saya tetap keep 50 pcs souvenir untuk orang terdekat yang ikut sibuk tapi tak sempat mengambil souvenir. Tapi rasanya kurang sreg karena tamu pun ada beberapa yang tak kebagian. Nah, tak ada salahnya lho menambah jumlah souvenir untuk berjaga-jaga. Untuk beberapa tempat, jumlah pesanan yang lebih banyak pun bisa membuat harga satuan souvenir lebih murah, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *