5 Hal Yang Tidak Perlu Diucapkan Setelah Bertunangan

By Septa Mellina on under How To, Relationship

Selamat ya untuk kamu yang baru saja bertunangan! Selangkah lagi kamu akan resmi menjadi pasangan suami-istri. Eits, meski si dia sudah menjadi tunangan kamu, ada hal-hal yang sebaiknya tidak kamu katakan pada pasangan terutama saat kalian sedang mempersiapkan pernikahan. Meski terdengar sepele, kalimat-kalimat ini berpotensi menyinggung hati pasanganmu bahkan bisa memicu pertengkaran. Apa saja kalimat yang tidak perlu diucapkan setelah bertunangan tersebut?

“Terserah kamu aja, aku ngikut.”

Kata ‘terserah’ memang sangat ambigu, ngeselin, dan selalu bikin bingung. Kenyataannya, setiap pasangan selalu ingin terlibat menyiapkan pernikahannya. Jika kamu memang sedang tidak mood untuk berdiskusi soal persiapan pernikahan, sebaiknya katakan kondisimu pada pasangan dan cobalah cari waktu lain untuk mendiskusikannya. Belajarlah pula untuk mendengarkan persiapan yang telah dia lakukan dan cari tahu celah yang dapat kalian improve agar kalian mendapat hasil lebih baik.

Sebaliknya, kalau pasangan kamu mengatakan ‘terserah’ cobalah jelaskan padanya bahwa kamu butuh ide dan masukan. Tell him that his opinions matter. Two heads are better than one, kan. Saat pasanganmu menyampaikan idenya, apresiasi usahanya tersebut dan pujilah dia saat kamu menyukai idenya.

“Kamu kurusan, dong!”

Urusan berat badan adalah hal yang sensitif. Daripada kamu nge-push pasanganmu untuk terlihat lebih kurus (atau lebih gemuk), lebih baik kamu mengajaknya untuk rutin berolahraga bersama. Selain menyehatkan, olahraga bersama juga bisa mempererat hubungan kalian. Kamu juga bisa memasak makanan sehat untuknya di akhir pekan saat dia berkunjung ke rumah.

“Kata Mama, kita harusnya….”

Membawa opini keluarga bisa memberi kesan ultimatum untuk pasanganmu. Tak ada salahnya untuk mempertimbangkan masukan keluarga, namun keputusan tetaplah di tangan kamu dan pasangan. It’s your wedding anyway, brides. Daripada berkata, “Kata Mama, kita harusnya…” cobalah mengatakan dengan cara lain, misalnya: “Menurut Mama bagusnya begini. Benar juga sih. Tapi menurutku kita perlu bla… bla… bla… Menurut kamu bagaimana?” Selain berusaha untuk mengakomodir opini keluarga dan menyatakan pendapat pribadi, kalimat tersebut juga mendorong pasanganmu untuk bersuara. He’ll feel more appreciated.

“Foto wedding venue yang aku post di Path banyak yang nge-love lho, Yang.”

Ingatlah, brides-to-be, kamu dan pasanganmu adalah tim. Mempublikasikan hal-hal terkait persiapan pernikahan kalian (apalagi masalah pribadi!) akan memicu emosi pasanganmu. Pastikan bahwa pendapat pasanganmu adalah yang terutama dibanding pendapat orang lain. Your partner’s opinion is more important that those random loves and likes on social media.

“Aku kan sudah kerjain banyak banget. Kamu bantuin dong!”

Cobalah jelaskan dengan baik pada pasanganmu bahwa kamu lelah dan overwhelmed dengan berbagai persiapan yang kamu lakukan. Mintalah pasanganmu untuk membantu kamu. Jangan katakan padanya bahwa pekerjaan yang kamu lakukan lebih banyak daripada pekerjaannya. Ingatlah, brides, menjelaskan kondisimu akan lebih baik daripada mengeluh dan menuduh pasanganmu.

Semua pasangan pasti mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan saat mempersiapkan pernikahan. Meski demikian, kamu tidak boleh larut ke dalam emosi negatif yang akan membuat kamu mengucapkan kalimat yang menyakitkan. Don’t let this one-time preparation ruins the relationship you’ve built with him ya.

Pernah mengalami hal serupa, brides? Yuk berbagi pengalamanmu di kolom comment di bawah ini.

×