Acara Lamaran Bertemakan Jawa ala Tria dan Direz

By Friska R. on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Lamaran

Kebaya Bluesville

Make Up Artist Adi Adrian

Photography Johan Jakatama

“Aku ketemu sama Direz Februari tahun lalu saat dia mengadakan trunk show Bluesville, brand yang dia kembangkan. Event-nya diadakan di tokonya, di Common House, Panglima Polim,” kata Tria membuka cerita dengan tim The Bride Dept tentang awal pertemuannya dengan Direz, sang calon suami.

Sebenarnya, usaha Tria juga bergerak di bidang yang sama dengan Direz. Brand yang dikembangkan Tria bernama Havehad Footwear dan seringkali berada di satu event yang sama dengan brand Direz, seperti dalam acara Brightspot. Bahkan, Tria mengaku sempat beberapa kali ke booth milik Direz. “Teman-temanku yang cowok di tim Havehad juga kenal dengan Direz, tapi emang mungkin belum waktunya aku ketemu dia kali ya hehehe…”

Sampai suatu hari, Tria menerima undangan dari Direz untuk acara trunk show. “Waktu itu aku malas untuk datang ke acara-acara seperti itu, tapi temenku di Havehad memaksa untuk ikut, biar aku juga kenal dengan tim Bluesville. Akhirnya aku datang dan di situ aku berkenalan dengan Direz. Lalu sebelum pulang, Direz meminta nomor telepon teman-teman Havehadku, termasuk aku. Ternyata, itu cuma modus Direz! Aku tahu ini dari teman-temanku setelah aku pacaran. Mereka bingung ngapain Direz minta nomor mereka padahal sudah suka whatsapp atau telepon dari dulu hahahaha,” Tria berkisah.

Berawal dari minta nomor telepon, ketebak dong akhir kisahnya gimana. Direz jadi sering menghubungi Tria untuk ngobrol ngalor-ngidul. Lucunya, Tria nggak nyadar kalau Direz sedang mendekati dirinya. “Lalu 2 bulan kemudian dia tiba-tiba intens chat aku. Aku nggak curiga karena dia nggak pernah basa-basi nanya ‘udah makan belum’ atau sejenisnya. Direz selalu membuka obrolan dengan topik-topik baru sehingga bikin aku nyaman sama dia. Aku mulai curiga saat dia mulai ngajak-ngajak aku pergi kayak nonton konser atau nonton bioskop,” kata Tria. Obrolan pasangan ini pun kian hangat karena keduanya ternyata sama-sama menyukai film Lord of the Ring. Merasa semakin nyaman dan nyambung saat ngobrol, Tria pun akhirnya menyetujui ajakan Direz untuk ketemuan. Keduanya pun makin intens bertemu dan akhirnya jadian.

Setelah setahun berpacaran, Direz akhirnya menyatakan niatnya untuk meminang Tria lewat wedding proposal yang sangat manis. “Direz mengajak makan di Common House yaitu di resto Mamagoose. Setelah makan, seperti biasa Direz mampir ke tokonya dulu yang ada di bawah Mamagoose. Saat aku mau masuk, tokonya gelap karena lampunya mati. Aku sempat bingung, sih. Tiba-tiba lampu nyala dan di dinding toko ada tulisan MARRY ME. Aku kaget dan yang bikin tambah kaget adalah teman-teman kami yang membantu Direz menyiapkan semuanya keluar dari fitting room semua. Bahkan ada temannya yang siap foto-fotoin momen kita itu hahahahaa…. Malu, kaget, senang, campur aduk semuaa. Lalu Direz tanya Will You Marry me? sambil mengeluarkan cincin, yaa aku jawab “Ya maulahh kan lagi ngurus-ngurusin kawinan kita nih masa ga mau!” sambil ketawa-ketawa. Aku sangat kaget, aku kira Direz ga akan kasih surprise seperti ini, karena Direz langsung melamar aku meminta izin ke ortu aku,” Tria berkisah.

Prosesi lamaran pun diadakan pada 25 Maret lalu dengan mengusung konsep Jawa. “Karena rumahku sendiri udah Jawa banget, maka kami memutuskan untuk mengadakannya di rumahku. Dengan dekorasi yang sudah aku punya, jadi aku tinggal merangkai sendiri bunga-bunga untuk dekor, kebetulan memang aku bisa merangkai bunga. Ditambah rumahku juga udah ada tamannya, kalau kata orang-orang bener-bener serasa di kampung Solo hehehe. Jadi udah ga perlu di dekor banyak-banyak lagi,” kata Tria.

Karena konsep acara dibuat santai dan kekeluargaan, layout tempat duduk pun tidak dibuat saling berhadapan melainkan berdampingan. Keluarga Direz dan Tria duduk berdampingan di kursi bale-bale yang berada di joglo. Nggak hanya konsep lamaran yang unik, ternyata kain yang digunakan pasangan ini adalah hasil karya Direz! Motif batik yang mereka buat terinspirasi dari bunga sepatu (hibiscus). “Kenapa kita memilih bunga sepatu, karena Bluesville kebanyakan menggunakan batik motif bunga dan aku sendiri berbisnis di bidang sepatu, digabung jadi bunga sepatu hehehehe,” kata Tria membocorkan inspirasi idenya.

Kotak cincin pertunangan mereka ternyata merupakan buatan tangan Tria sendiri lho, brides-to-be. “Kotak cincin kaca ini punya rangkaian bunga di dalamnya. Aku pilih hydrangea biru dan dikombinasikan dengan anggrek untuk kesan elegan, di tengahnya baru dikasih cincin,” Tria menjelaskan. Kreativitas mereka nggak cuma sampai di situ. Cincin pertunangan mereka pun didesain sendiri. “Kami terinspirasi dari alam, we engage our imagination in the imperfect nature, appreciating the ring’s design as nature. Makanya tekstur cincinnya tidak smooth tapi seperti kayu,” Tria melanjutkan.

Selain indah, lamaran mereka juga ternyata menyimpan kisah yang berkesan. Siapa sangka kalau om dari Tria dan Direz adalah teman lama saat masih kuliah dulu. “Ditambah lagi saat perkenalan keluarga masing-masing, ternyata ada sepupu kita juga yang sahabatan dan bahkan sering main bersama, jadi keluarga kami juga kaget, baru tahu saat lamaran itu. Ada beberapa sepupu kami yang lain juga saling kenal dan berteman, bahkan tantenya Direz juga temennya Mamaku. Sampai semuanya pada tepuk tangan karena merasa momen ini sangat lucu. Kalau kata om nya Direz, ini emang udah jalan dari Allah, dapat jodohnya deketan dan ternyata masing-masing dari keluarga kita juga deket. Selain itu, di lamaran ini kita merayakan ulang tahun kita berdua, perayaan yang sangat special bersama keluarga dan teman-teman dekat,” kata Tria bahagia.

Selamat ya Tria dan Direz untuk lamarannya. Semoga persiapan pernikahan kalian lancar!

Top vendor pilihan Tria dan Direz:

Toton The Label: “Aku sangat dibantu banget sama timnya Toton. Aku baru pesan bajunya 2 minggu sebelum lamaran, dan mereka cuma punya baju sample. Biarpun Toton bukan desainer khusus customize tapi timnya bersedia untuk membuat baju yang aku mau dalam waktu kurang dari 2 minggu dan mereka berusaha banget untuk tidak mengecewakan kliennya.”

Adi Adrian: “Mas Adi baik banget! Aku dikasih banyak masukan untuk make up, konsep pernikahan dan perawatan kulit. Orangnya humble dan perfeksionis. Apalagi hasil makeup-nya, sesuai sama karakter mukaku. Dia tahu banget pilihan makeup yang pas biar aku terlihat cantik natural dan panglingin tanpa harus menor.”

Xin Kitchen: “Aku dan Direz sangat suka makan dan ingin menjamu tamu dengan menu makanan yang tidak biasa tetapi simple. Makanya kami memesan beberapa makanan dari Xin Kitchen salah satunya mie bebeknya yang memang menjadi signature dish mereka. Kualitas makanannya juga ok, dan kami sangat puas apalagi saat banyak tamu yang bertanya kateringnya sapa dan memuji karena sangat enak.

Tips dari Tria dan Direz:

– Penting untuk setiap pasangan menyatukan konsep lamaran mau seperti apa lalu didiskusikan bersama. Ciptakan komunikasi yang baik sehingga bisa menyatu dengan keluarga dan biar lebih mudah juga dikomunikasikan ke vendor.

– Fokus pada hal-hal yang penting dulu, jangan selalu mengikuti kemauan hati kita masing-masing karena nantinya akan banyak yang missed.

Keep calm, karena kalau kita tenang, kita bisa berpikir jernih dalam mengambil setiap keputusan, jadi ga ada tuh yang namanya “yahh nyesel, tau gituu ini tau gitu itu”

×