Adat Mandailing dan Sunda di Pernikahan Dian dan Aktian

By NSCHY on under The Wedding

Adat Mandailing dan Sunda di Pernikahan Dian dan Aktian di Soehanna Hall

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Soehanna Hall, SCBD

Event Styling & Decor Niq's Project Decoration

Photography DOT VIDEO & PHOTO PRODUCTION

Make Up Artist Citra Yayihanoum

Hair Do Dwi Maryuna Susanti

Bride's Attire Tanda Mata Official

Groom's Attire Anis Saffira

Catering Al's Catering

“Tiada momen selain pernikahan yang membuatku bisa mengenakan pakaian adat, apalagi Siger Sunda, itu cita-cita aku.” kata Dian mengawali ceritanya.

Dalam acara pernikahannya, Dian dan Aktian mengenakan dua pakaian adat, yaitu baju adat Mandailing untuk resepsi dengan sentuhan warna merah tua dan emas, serta pakaian adat Sunda untuk acara akad.

“Kita berdua sama-sama keturunan dari Tapanuli Selatan, sedangkan Sunda datang dari keluarga mamaku. Kita hanya menonjolkan sentuhan adat di pakaian pernikahan dengan satu prosesi adat Batak Mandailing, Mangupa. Tapi, karena waktu itu acaranya cukup padat, saat prosesi Mangupa, aku tetap mengenakan pakaian Sunda.” cerita Dian.

Untuk pakaian adat Sunda, Dian sempat kebingungan karena terlalu banyak pilihan. Suatu hari, ia berinisiatif untuk jalan-jalan ke Pasar Mayestik, dan ia langsung menentukan tempat menjahit pakaian pernikahannya. Meski dipilih dengan intuisi, namun Dian merasa sangat puas dengan hasilnya yang didapatkan dengan harga yang jauh dibawah budget-nya.

Sedangkan untuk pakaian adat Mandailing, Dian memilih baju kurung dari Tandamata. Meski baju kurung identik ke adat Minang, namun setelah diyakinkan oleh beberapa saudara kalau baju kurung juga bisa digunakan untuk adat Batak Mandailing, Dian semakin yakin dengan pilihannya.

Lokasi yang strategis dan venue yang tidak mengikat vendor adalah salah satu pertimbangan bagi Dian dan Aktian untuk akhirnya yakin menggunakan Soehanna Hall di SCBD. Bagian yang paling disukai oleh Dian dan Aktian adalah sentuhan ornamen kayu untuk desain interiornya. Dan mereka pun bebas menggunakan vendor sesuai keinginan mereka.

“Kalau soal dekor, aku nggak banyak pilihan. Aku langsung memilih Niqsproject karena pernah dipakai kakakku saat lamaran dulu, dan aku suka dengan hasilnya. Ternyata benar, aku nggak salah pilih vendor karena Niqs bisa menangkap brief yang aku mau, mulai dari detail bambu untuk backdrop, sampai warna bunga. Yang utama, mereka juga sabar menghadapi bridezilla yang lumayan banyak mau ini.” cerita Dian.

Kalau ditanya soal tantangan, apa yang dialami oleh Dian dan Aktian kurang lebih sama dengan pasangan lainnya, yaitu menyatukan kedua pihak keluarga untuk membuat keputusan, terutama saat ada ide dari masing-masing pihak yang harus dipertimbangkan.

“Untungnya, Aktian adalah The Best Partner in Crime-ku saat mempersiapkan pernikahan ini. Dia adalah orang nomor 1 yang benar-benar menemaniku dari awal persiapan sampai hari H, melebihi WO-nya sendiri. Kalau dengar dari cerita teman-temanku yang perempuan, pasangannya menyerahkan semuanya ke pihak perempuan, dan mereka mengurus semua kebutuhan sendiri. Kalau Aktian, mulai dari perintilan pemilihan warna seragam bridesmaid dan groomsmen, seragam keluarga, sampai warna bunga dan detail payet di baju pernikahanku dia bantu. He really cares about this and so into it.” kata Dian.

Top 3 vendor:

1. Citra Yayihanoum

“Mba Yayi adalah MUA yang super duper humble. Asik diajak ngobrol, santai, dan sabar mendengarkan dumelan dan celotehanku sepanjang waktu saat hari H. Pembawaannya yang santai bikin aku nggak sadar kalau make up-nya udah selesai.”

2. Creative Collection Mayestik

“Banyak yang memuji kebayaku yang dibuat oleh Bu Ani dari Creative Collection, apalagi saat mereka tau budget untuk pembuatan baju ini!”

3. Al’s Catering

“Kalau vendor yang satu ini sih nggak perlu diraguin lagi. Dari pertama kali ketemu, technical meeting, aku sudah percaya dengan Al’s karena yang terpenting bukan hanya rasa makanan, tapi bagaimana mereka mengatur flow makanan selama acara. Bukan hanya kapten katering, tapi bagian marketingnya pun turun langsung ke lapangan dan mengecek satu-satu jumlah makanan serta memutari venue sambil melihat flow tamu.”

Tips untuk brides to be:

“Sesibuk dan sepusing apapun persiapannya, tapi komunikasi adalah hal terpenting nomor satu. Jangan pernah mencoba memenangkan ego sendiri karena akan berdampak buruk pada kualitas komunikasi, baik dengan pasangan dan orang tua. Tanpa disadari, banyak drama pernikahan yang terjadi karena ego dan emosi sendiri. Semua orang punya impian pernikahannya masing-masing, tapi akan ada banyak kepala dan suara yang andil dalam persiapan pernikahan tersebut, jadi cobalah mengurangi ego tersebut dan mencoba lebih toleransi dengan pihak lain. Ingatlah bahwa resepsi hanyalah sebuah pesta, yang terpenting adalah pernikahan itu sendiri, saat kita dan pasangan serta keluarga sama-sama berjalan di jalur yang sama, tidak berat sebelah, hal ini akan membawa hal positif jangka panjang.