Adinia Wirasti: Nggak Takut Ditanya ‘Kapan Kawin?’

By Gerha Jayamala on under How To

adinia wirasti kapan kawin

Beberapa waktu yang lalu, The Bride Dept mendapat kesempatan untuk dapat berbincang sore dengan Adinia Wirasti, atau yang akrab disapa Asti, aktris yang memerankan tokoh Dinda dalam film Kapan Kawin. Jika Dinda, tokoh yang ia perankan dalam film, sibuk mencari cara untuk menjawab pertanyaan “Kapan Kawin?” dari kedua orang tuanya, bagaimana dengan Asti? Yuk, simak obrolan Tim The Bride Dept dengan Asti dibawah ini!

Hai Asti, terima kasih sudah bersedia untuk kita wawancara. Sebagai pembuka, kita ingin tahu nih sebenarnya Film Kapan Kawin itu menceritakan tentang apa sih?

Kadang orang memang saat dengar kata “Kapan Kawin?” pasti berpikir tentang cerita perempuan yang terlambat memutuskan untuk settled in a relationship. Walaupun di aspek kehidupan yang lain ia sudah mapan. Dalam film ini karakter Dinda sudah berhasil menjadi GM di usia yang muda dan sudah sukses di industrinya, yaitu perhotelan. Tetapi sebenarnya ceritanya nggak melulu tentang itu, disini juga diceritakan tentang bagaimana ekspektasi seorang ayah dan ibu terhadap anak perempuan dan menantu. Sebenarnya banyak point of view dari berbagai sisi di film ini, buat orang tua yang sering bertanya “Kapan Kawin?” ke anaknya juga bisa belajar dan melihat dari sudut pandang sang anak.

Bagaimana karakter Dinda yang Asti mainkan di film ini?

Sebenarnya Dinda itu kaku-kaku enggak, dia kaku karena she likes to order aja. Saya waktu itu ngebayangin dari muda dia lulus kuliah di perhotelan, dia pindah ke Jakarta untuk kerja tuh everything in order, hidupnya ter-planning dan dia biasa dengan hal itu. Tetapi point of attack yang terjadi adalah pada saat ibunya mempermasalahkan soal dia yang belum menikah di usia yang cukup. Saat itu Dinda jadi shattered.

Ada kebiasan pada perempuan di usia lebih dari 27 tahun untuk memiliki kebiasaan hidup yang nggak bisa diganggu gugat. We have a certain systems in order to live and get on. Apalagi buat kita yang sudah bisa memutuskan segala hal sendiri, apa-apa sendiri. Pasti kadang laki-laki jadi merasa terintimidasi untuk masuk ke kehidupan wanita yang seperti itu. Hal ini yang terjadi pada Dinda, dia selalu gagal in relationship dengan laki-laki karena masalah ini. Satu hal lagi, Dinda itu terlalu memikirkan orang lain. Bagaimana supaya mereka senang dan nyaman, apa-apa untuk orang lain deh. Sementara buat dia sendiri lupa.

Nah, genre film ini kan romantic comedy. Apa sih challenge terbesarnya buat Asti main di film ini?

Challenge-nya lebih ke bagaimana berkonsentrasi dengan komedi yang sebanyak itu. Adegan aku sih nggak terlalu banyak komedinya, tetapi di beberapa adegan ada bagian dimana aku nggak bisa berhenti ketawa pas lihat mukanya Reza. Selain itu tantangannya adalah Asti yang berumur 27 tahun, memerankan a 33 year old Dinda. Karena di gap 5 – 6 tahun itu pasti ada sesuatu yang belum aku tahu dan mengerti. Jadi aku mesti pinter-pinter menyikapinya dan banyak sharing dengan temen-temen di umur segitu untuk melihat bagaimana sih mereka bereaksi terhadap sesuatu.

Pembuatan film ini sendiri berapa lama prosesnya? Dan lokasinya dimana saja?

Aku agak lama tuh sebenernya berapa lama. Kita sempat shooting sekitar 3 sampai 4 hari di Jakarta untuk setting di hotel tempat Dinda bekerja. Lalu kami berangkat ke Yogyakarta untuk shooting selama kurang lebih 15 hari. Lokasi untuk rumah orang tua Dinda itu terletak di Desa Brayut. Desa tersebut adalah desa percontohan dan warga disana juga mengizinkan jika digunakan untuk shooting atau membuat event.

Nah saat ini kan, memang anak muda, khususnya cewek, lagi heboh nih dengan fenomena “Kapan Kawin” ini. Asti sendiri sering nggak sih ditanya “Kapan Kawin?” sama lingkungan sekitar?

Sering sih sebenernya, teman-teman dekat banyak yang nanya juga. Tetapi aku sih nggak perlu ngejelasin lebih jauh lagi ya ke mereka, cause I think they know the answer juga. Buat aku sendiri sih ini diawali dengan fenomena ‘kepo’ dan kultur yang menjadi polemik. Polemiknya pun terjadi di diri sendiri. Banyak dari perempuan yang women empowerment-nya tinggi jadi kepikiran hal-hal semacam “Am I not good looking enough?” atau “Am I not slim enough?” karena belum menikah. Semacam peer pressure dari orang luar.

Asti sendiri setuju nggak dengan statement perempuan harus menikah di rentang usia muda atau sebelum 30?

Sebenarnya gini, untuk aku pribadi, secara mental dan batin di umur berapa saja sih terserah. Tetapi hal yang harus kita pikirkan sebagai wanita, di atas umur 25 tahun itu program reproduksi kita semakin susah. If you wanna check it out, 9 out of 10 women pasti punya Endometriosis. Dengan adanya radikal bebas seperti sekarang ini, banyak kejadian yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi terhadap wanita. So, I think it’s more important to be healthy when we’re young. Bukan serta merta menikah karena ingin punya anak, tetapi banyak yang harus kita pikirkan sebagai wanita. Kalau di atas umur 30 banyak isu-isu kesehatan yag bisa kita hadapi kalau kita nggak sehat. Seperti back pain saat hamil atau menyusui, karena badannya sudah nggak di usia prima lagi untuk punya bayi. Tetapi kalau sudah urusan mental dan batin, jika sudah siap menikah ya menikah saja. Kalau belum, ya jangan dulu.

Banyak kejadian dimana you love someone because everybody told you to do so. Or you want to marry someone because you wanna have the wedding, not the marriage.

How do you see ‘marriage’?

Bagi aku, pernikahan adalah hal yang sakral. Happily ever after needs a hard work. Banyak fase yang akan kita lalui sebagai pasangan, jadi make sure apakah pasangan kamu siap untuk melalui fase-fase itu atau enggak. Ada temanku yang bilang, when you get married, everything good will be better, and everything bad will be worse. Kalau menunggu kata siap sih nggak akan siap, jadi untuk perempuan memang nggak bisa kita pungkiri banyak hal yang harus diperhitungkan, but just go easy on yourself!

In conclusion, apa yang ingin kamu sampaikan lewat film “Kapan Kawin?” untuk perempuan yang sedang dirongrong pertanyaan yang sama di luar sana?

Kalau dari aku sih, bener dialognya Satrio ya, “Kalau kita mau bikin orang seneng, kita yang seneng dulu”. Menurut aku pribadi, love is a thing that we share. Analoginya seperti kita punya gelas, kalau isinya penuh dan berlebihan karena sudah tidak tertampung, berarti kita sudah punya lebih dari cukup, baru bisa kita share ke orang lain. If you don’t love yourself, I guarantee you, you cannot love anyone. Banyak perempuan merasakan peer pressure dan akhirnya mengambil keputusan berdasarkan omongan orang lain. Remember, wedding is a gate to marriage and the marriage is yours.

Rencana ke depan untuk Asti?

Sekarang lagi menepi sebentar sih setelah selesai promo film ini, tetapi sedang ada beberapa upcoming project yang masih di dalam tahap brewing the story. Mudah-mudahan cerita yang sedang aku buat ini bisa di pitching dan produksi, karena saat ini production value-nya juga belum ketahuan. Selain itu, karena I have an art foundation, ingin bikin acara pentas di tahun ini.

×