Apakah Pasangan Yang Terlalu ‘Pamer’ di Socmed Akan Lebih Bahagia?

By Anita Ve on under How To

Keberadaan media sosial memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Lalu bagaimana dengan pasangan yang sering mengunggah kemesraan di akun medsos? Apakah mereka benar-benar sebahagia itu?

Hasil survey membuktikan bahwa, pasangan yang suka pamer kemesraan di media sosial diklaim memiliki hubungan yang sebenarnya kurang bahagia. Sebaliknya, pasangan yang jarang mengekspresikan rasa cinta di medsos cenderung memiliki hubungan yang menyenangkan. Berikut alasannya!

 1. Mereka tidak butuh validasi dari orang lain

Ada perbedaan besar antara “being together” dengan “posting about being together”.

Karena tidak membutuhkan pembuktian bahwa mereka sedang bersama-sama, maka happy couple umumnya tidak melihat pentingnya mem-posting kedekatan mereka hanya demi total likes semata.

Kebahagiaan, bagi mereka, bukanlah sebuah prestasi yang harus dipamerkan sehingga tidak melulu harus mengunggah foto untuk menunjukkan kalau mereka adalah pasangan yang serasi.

 2. Konflik internal bukan konsumsi publik

Pernahkah Anda membaca curhatan seorang teman tentang pasangannya di Facebook?

Tidak ada satu orangpun yang mau keburukannya diketahui oleh sejuta umat. Ketika seseorang ‘mengumumkan’ kalau ia sedang bertengkar dengan pasangannya, permasalahan yang harusnya jadi konsumsi pribadi, jadi bocor ke mana-mana.

Pasangan yang tidak ketagihan medsos umumnya memahami bahwa curhat di medsos bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah. Yang ada – konflik pun semakin memanas bukannya tambah reda dan medsos akhirnya menjadi ajang untuk melukai satu sama lain.

 3. Perhatian dicurahkan sepenuhnya untuk pasangan

Tipe pasangan seperti ini lebih mementingkan waktu untuk berduaan ketimbang memikirkan filter Instagram mana yang akan dipakai, atau caption apa yang akan ditulis. Mereka juga lebih menghargai pasangan – orang yang sedang berada di hadapan mereka saat itu.

Medsos hanyalah media untuk mengetahui apa yang sedang in tapi bukanlah suatu keharusan bagi mereka untuk menunduk dan mengecek update-an status orang lain setiap jam.

 4. Riset sudah membuktikan

Riset yang dilakukan di Denmark kepada 1,095 orang mengungkapkan bahwa seminggu absen dari Facebook dapat meningkatkan kebahagiaan. Mengapa? Karena mereka menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersosialisasi di dunia nyata. Sebagai bonusnya, 18% dari responden mengaku merasa lebih fokus dalam bekerja.

Studi terpisah yang dilakukan oleh Universitas Northwestern, Kanada, menyatakan bahwa Facebook tidak dapat dijadikan indikator pengukur kebahagiaan. Bahkan hasil surveinya membuktikan bahwa pasangan yang sering memposting di medsos cenderung merasa insecure dengan hubungan yang mereka jalani.

Jadi, daripada waktu habis untuk menulis status, lebih baik membicarakannya secara langsung, dengan tatapan mata dan dari hati ke hati.

Karena, cinta sejati ada di dunia nyata bukan maya, benar kan?