Bagaimana Menghadapi Ibu Mertua

By Rebebekka on under How To

Ketika saya mengikuti kursus pranikah di gereja, sang pendeta bertanya dengan nada bercanda.

“Menurut kamu, siapakah wanita yang paling bahagia di dunia ini?”

“Waduh siapa ya pak pendeta?” Saya bingung.

“Jawabannya adalah Ibu Hawa.”

“Kenapa Ibu Hawa?” Saya masih bingung.

“Karena dia tidak punya ibu mertua,” Jawab pendeta sambil tertawa.

Selanjutnya pendeta menjelaskan kepada saya bagaimana sikap yang seharusnya kita lakukan kepada ibu mertua kita yang akan terlalu Alkitabiah jika saya paparkan disini.

Pandangan saya sendiri sebelum menikah tentang yang namanya mertua, khususnya ibu mertua, memanglah menyeramkan. Maklum saja, saya terlalu banyak nonton telenovela waktu masih kecil (saya bingung kenapa mama saya mengizinkan saya menonton bersamanya hehe). Saat itu saya juga mengikuti kisah Lady Di yang konon tidak akur dengan mama mertuanya, yaitu Ratu Elizabeth yang terkenal kaku dan dingin terhadap sang menantu.

Lain lagi saat saya yang merupakan followers-nya Ibu Ani Yudhoyono, Annisa Pohan dan Siti Aliya Rajasa melihat komen-komen para followers mereka.

“Duh iri banget sama Mba Annisa, kok bisa akur ya sama ibu mertua nya!”

“Seandainya saya punya ibu mertua seperti Ibu Ani,” tulis salah satu follower mereka yang diamini oleh para follower lainnya.

Melihat foto-foto mereka saya jadi berpikir ternyata kemesraan antara mertua dan menantu itu memang bukanlah hal yang mustahil. Namun saat membaca komen-komen followernya, sepertinya banyak juga ya yang mengalami masalah dengan para mertua sehingga harus iri dengan Annisa dan Aliya.

Saya sendiri dengan mama mertua memiliki hubungan yang cukup baik. Mungkin juga karena kami berasal dari suku yang sama. Jadi kami sudah paham aturan mainnya bagaimana harus bersikap kepada inang (sebutan untuk mertua) dan bagaimana cara inang memperlakukan saya sebagai parmaen (sebutan untuk menantu). Namun walaupun sesuku, hubungan kami berdua tidaklah semulus dan sebahagia apa yang terus terlihat di instagram Ibu Ani dan menantunya. Puji Tuhan juga tidak kejadian seperti yang diceritakan di telenovela, dimana mertuanya sangat kejam terhadap menantunya. Masih ingat kan bagaimana mertua Rosalinda mengadu domba Rosalinda dan suaminya Fernando Jose sampai akhirnya Rosalinda dicampakkan dari rumah, kemudian malah jadi hilang ingatan dan menjadi artis terkenal bernama paloma. Terekam kuat di memori saya yang tiap habis mandi sore duduk manis menonton telenovela ini.

Kembali kepada saya dan mama mertua. Pernah kami mengalami konflik. Saat saya hamil anak kedua dan masih tinggal di luar, tanpa asisten, saya mengalami mual-mual hebat. Saya butuh bantuan seseorang untuk menjaga anak pertama saya, setidaknya selama empat bulan di awal kehamilan saya. Mama saya tidak bisa datang sehingga suami memanggil mamanya untuk tinggal bersama kami sementara. Waktu itu saya khawatir sekali karena keadaan saya yang tidak baik ditambah hormon kehamilan yang tidak menentu, apakah keadaan akan semakin membaik jika kami mengundang mama mertua? Selama tiga tahun saya menikah, saya belum pernah tinggal bersama mama mertua untuk jangka waktu yang cukup lama. Saya takut saya akan bersinggungan dengan mama mertua jika tinggal bersama terlalu lama. Benar saja kejadian!.

Mertua saya bisa dibilang (OCD mungkin terlalu lebay) orang yang sangat apik. Segala sesuatu nya harus pada tempatnya. Baju harus kinclong, cara mencucinya harus direndam terlebih dahulu dan dipisah-pisahkan menurut warna sebelum dimasukkan ke mesin cuci. Masakan harus tersedia hangat sepanjang hari. Beliau pandai menjahit, pandai bergaul, piawai menyetir mobil bahkan membetulkan pintu atau genteng yang rusak sekalipun. Kelima anaknya dilahirkan secara gentle birth di rumah secara syahdu (berdasarkan cerita beliau). Tipikal ibu rumah tangga yang serba bisa lah pokoknya. Sedangkan saya? Saya ini sangat slebor. Taruh barang sembarangan, habis mandi saja langsung lempar handuk di sembarang tempat dan tidak dijemur. Urusan cuci baju langsung saja masukkan semuanya ke mesin cuci tanpa peduli untuk pisah-pisah warna dan jenis kain. Urusan dapur? Kalau ada mood memasak, ya masak, kalau tidak ya delivery order saja. Melahirkan anak pertama dengan berteriak-teriak dan penuh intervensi obat pengurang rasa nyeri yang menurut mertua sangatlah manja. Tinggal bersama dengan mama mertua membuat saya kewalahan.

Sering kami memang berbeda pendapat, terutama soal parenting. Wajar saja sih, lah wong kita berdua hidup di era yang berbeda. Apalagi soal pengasuhan ana. Saya yang hidup di era informasi sangat mudah didapat melalui internet seringkali sok pintar dan langsung ogah-ogahan ketika ibu mertua memberi masukan untuk saya. “Drama” pun terjadi. Saya yang merasa tidak bisa melakukan apa-apa terhadap mama mertua melaporkan setiap “kebawelan” beliau kepada suami. Suami saya memberi masukkan kepada mama mertua agar jangan terlalu “keras” kepada saya dan ternyata cara ini membuat ibu mertua tersinggung! Mama mertua berpikir anak yang sudah dibesarkannya dari kecil lebih membela istrinya yang baru dikenalnnya kurang dari lima tahun! Drama berlanjut karena mama mertua menangis di hadapan kami berdua dan saya pun (pengaruh hormon) ikut menangis. Suami sampai garuk-garuk kepala saking bingungnya. Untungnya ibu mertua terbuka, kemudian saya dan suami cepat-cepat minta maaf sehingga hal ini tidak menjadi berlarut-larut. Saya pun berbicara dari hati ke hati dengan mama mertua berdua saja dan saling memaafkan. Sejak itu saya berusaha belajar untuk mendalami karakter ibu mertua dan mempelajari cara komunikasi yang tepat kepada beliau dan hubungan kami kembali membaik.

Hal-hal yang selalu saya lakukan agar hubungan saya dengan mama mertua tetap harmonis antara lain :

1. Menganggapnya seperti mama saya sendiri. Saya sering berbeda pendapat dengan mama saya dan kemudian merasa kesal, marah atau kecewa. Akan tetapi saya tidak mungkin membenci dan memusuhinya seperti orang lain. Begitu juga ketika saya sedang “berkonflik” dengan mama mertua. Saya selalu ingat bahwa sekarang dia pun adalah mama saya. Lagipula jika tidak ada mama mertua, suami kita tidak terlahir di dunia ini.

2. Orang tua itu senang bercerita. Mama mertua senang sekali bercerita segala hal mulai dari urusan rumah, cerita tentang saudara, curhat tentang anaknya, nostalgia tentang kisahnya dengan almarhum papa mertua. Kuncinya adalah dengarkan. Mereka butuh teman bercerita.

3. Melakukan kegiatan yang menyenangkan berdua dengan mama mertua. Ketika mama mertua berkunjung ke rumah, saya selalu mengajaknya shopping dan nyalon, kegiatan favorit kami berdua. Minta budget khusus kepada suami untuk men-treat mamanya (dan kita juga).

4. Atur waktu yang tepat saat hari raya. Hal ini penting sekali diatur untuk menghindari konflik dengan mertua. Saat hari raya orangtua tentu maunya dikunjungi oleh anak dan menantunya, apalagi kalau sudah ada cucu. Kita bisa mengatur misalkan lebaran/natal tahun ini di rumah mertua, kemudian lebaran/natal tahun depan dirumah orang tua kita. Untuk yang jarak dekat bisa lebaran H1 di rumah mertua dan lebaran H2 di rumah orangtua. Natalan di rumah mertua kemudian malam tahun baru di rumah orangtua. Tergantung kesepakatan kalian dengan suami.

5. Jauh bau bunga, dekat bau bangkai. Tau kan pepatah ini, kadang-kadang hubungan baik dengan seseorang justru bisa dijaga kalau ada jarak dengannya. Saya tinggal di Jakarta, sedangkan mertua saya tinggal di Pekanbaru. Sebulan sekali atau lebih biasanya saya selalu menelepon untuk menanyakan kabar. Hal ini jauh lebih baik ketimbang saat kami tinggal bersama dengan dibumbui drama-drama wanita.