Batak Wedding of Mita Hutagalung and Daud Sijabat Part 1

By arinda.p on under The Wedding

the bride dept armita hutagalung daud sijabat pernikahan adat batak

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Acara Adat

Venue Grand Mangaradja

Event Styling & Decor Rumah Kampoeng Elite Decor

Catering Akasya Catering

Photography David Christover

Bride's Attire Edward Hutabarat

Jewellery & Accessories Private Collection

Make Up Artist Adi Adrian

Invitation Fine Art

Souvenir F2 by Ferry Soenarto

Sejak kecil Mita Hutagalung atau biasa dipanggil Mita sudah bermimpi untuk menikah dengan adat Batak yang kental. Hal ini didasari oleh kebanggaan Mita menjadi orang Indonesia yang memiliki banyak kekayaan adat budaya serta keinginannya untuk melestarikan adat budaya tersebut ke generasi selanjutnya. Pada pernikahannya ini, Mita sudah bertekad untuk mewujudkan pernikahan yang di mana ia bisa menunjukkan kebanggaannya terhadap adat Batak.

Hari pernikahan Mita Hutagalung dimulai dengan sebuah acara adat yang disebut dengan “Marsibuha-Buhai”. Pada acara ini rombongan calon pengantin laki-laki datang menjemput calon pengantin wanita dengan membawa makanan adat yang biasanya berupa babi atau kerbau. Sedangkan pihak keluarga calon pengantin wanita menyediakan sajian ikan mas. Kedua makanan adat ini merupakan sebuah tanda permulaan penyatuan kedua keluarga besar dalam adat Batak. Setelah kedua belah keluarga makan pagi bersama, rombongan dari kedua pengantin akan berangkat ke gereja untuk pemberkatan. (Atau juga disebut Pamasu-Masuon)

Pemberkatan Mita Hutagalung dan Daud Sijabat dilakukan di gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Rawamangun karena di gereja itulah Mita dibaptis sewaktu kecil. Pada pemberkatan ini, Mita memilih menggunakan kebaya putih yang simple namun penuh dengan payet dan Swarovski karya dari Edward Hutabarat. Mita memilih warna putih karena warna tersebut sesuai dengan makna dari pemberkatan yaitu suci dan sakral.

Satu hal yang unik dari pemberkatan ini adalah Mita memutuskan untuk memasuki gereja dengan papa tercinta sambil bernyanyi. Rupanya hal ini adalah impian Mita sejak kecil. “Sejak kecil aku sudah bercita-cita akan walking down the aisle sambil memegang tangan papaku dan di ujung altar akan mengucapkan betapa sayangnya aku sama papaku. I’m so thankful that I finally did that. Ketika akhirnya papa ku menyerahkan tangan ku ke suamiku, wah rasanya sedih sekali. Terharu banget.”

Setelah pemberkatan selesai, acara adat pun dilanjutkan. Bertempat di gedung Mangaradja, pesta ini dinamakan Pesta Unjuk untuk merayakan pernikahan kedua mempelai yang sudah sah sebagai suami-istri. Pengantin pria dan wanita masuk ke panggung pernikahan dengan diiringi tarian Tor-Tor.

Prosesi adat secara formal dimulai dari penyambutan tamu-tamu dengan memprioritaskan pihak Parboru (pengantin wanita) yang didahului oleh kelompok paman pengantin wanita dan disusul kemudian oleh kelompok paman pengantin pria. Sebagai rasa hormat kepada hula-hula (pengantin wanita) diadakan sebuah pengumuman agar semua berkumpul di ambang pintu untuk menunggu sang pengantin.

Acara prosesi kedua yang tidak kalah uniknya adalah prosesi Mengantar Lauk. Pada prosesi ini pihak pria datang membawa baskom raksasa berisi potongan besar-besar daging (bisa daging babi, sapi, kambing) dan sebaliknya pihak wanita datang membawa talam besar berisi beberapa ekor ikan mas matang berukuran besar sebagai simbol pengharapan semoga keluarga pengantin pria senantiasa bersatu, beriring-iringan seperti ikan menyambut dan membina keluarga yang baru itu di lingkungan keluarga besar mereka.

Acara selanjutnya adalah penyerahan Tuhor Ni Boru (sejenis mahar) melalui proses dialog, pantun, sahut menyahut, tanya jawab. Prosesi ini dilakukan dalam bahasa daerah dengan menunjuk juru bicara dari masing-masing keluarga. Juru bicara tersebut disebut dengan Parhata.

Acara ditutup dengan proses Mangulosi yaitu pemberian selendang ulos oleh orang tua wanita kepada kedua pengantin. Prosesi Mangulosi ini diawali dengan pemberian Ulos Hela yang menjadi moment mengharukan karena ini memiliki makna bahwa orang tua pengantin wanita melepaskan anaknya kerumah suaminya yang baru. “Aku sudah bertekad nggak akan nangis. Tapi ketika papaku menyanyikan lagu untuk ku, wah itu aku sudah nggak bisa menahan lagi tangisku haha. Jadi untuk yang mau menikah, aku saranin nggak usah nahan nangis deh! Lepasin saja! Haha.” ujar Mita.

Di prosesi ini, Mita juga memberikan kejutan untuk mamanya dengan menyanyikan sebuah lagu untuk sang ibunda. Mita tak lupa di balik semua kesuksesan dirinya ada doa sang ibu yang selalu mengiringi langkah kehidupannya. Kejutan ini pun menjadi sangat mengharukan karena sang ibunda pun menangis bahagia karena diberikan kejutan pada hari paling bahagia putrinya ini.

Setelah semua rangkaian berlangsung acara ini ditutup dengan kata sambutan ucapan terima kasih dari pengantin. Dan selesailah rangkaian acara pernikahan yang diadakan sehari penuh. Acara resepsi pun diadakan minggu depannya agar memberikan waktu istirahat terlebih dahulu untuk pengantin dan juga keluarganya.

Yuk baca part 2 dari acara pernikahan ini yaitu resepsi di sini!

×