Bertengkar Menjelang Hari Pernikahan

By Rebebekka on under How To, Relationship

Menjelang pernikahan, entah mengapa saya menjadi sangat sensitif. Setiap kali diberi masukan oleh orang lain, saya malah ngambek dan kesal. Alhasil, saya sering bertengkar dengan mama saya yang merupakan partner saya dalam mempersiapkan segalanya ketika itu. Setelah menikah, saya menyesal karena sudah melawan mama saya hanya karena pusing memikirkan hari pernikahan. Ternyata bertengkar dengan orang – orang terdekat kita menjelang pernikahan banyak juga dialami oleh para calon pengantin lainnya dan kebanyakan dari mereka pun menyesal! Simak ceritanya ya brides.

N, 6 bulan menikah

“Aku nangisnangis marah sama ibuku ketika ibuku bersikeras aku harus di-paes, aku ga mau karena dahi aku kan jenong jadi aku takut hasilnya aneh. Aku mau pake riasan modern saja saat menikah, tapi ibuku mau aku dipaes. Aku sempat ngambek sama ibu, walaupun akhirnya aku turutin juga permintaannya. Ternyata hasil riasannya bagus. Orang – orang banyak memuji aku cantik dan manglingin. Setelah menikah aku minta maaf sama ibu karena pake acara ngambek segala, untung dimaafin, hihihi.”

F, 2 tahun menikah

Sebelum menikah aku dekat sekali dengan adik aku, bahkan kami pun tidur sekamar hingga dewasa. Menjelang pernikahan, aku yang sedari kecil tidak pernah bertengkar dengan adik aku malah jadi sering adu mulut. Entah kenapa, adik aku ini rese banget dan bawaannya nyinyir terus soal persiapan pernikahan aku. Sampe suatu malam aku meledak marah ke dia. Tidak disangka, adik aku malah nangis dan dia jujur sama aku kalau selama ini dia pun bingung kenapa dia jadi rese sama aku. Setelah kami bicara dari hati ke hati, aku baru paham kalau ternyata dia galau ditinggal menikah sama kakaknya. Kemudian aku berjanji walaupun aku menikah, aku akan tetap jadi kakaknya sampai kapanpun. Sejak itu dia menjadi lebih baik dan sangat membantu aku sampai hari pernikahan.”

W, 6 tahun menikah

“Aku masih ingat ketika itu aku melawan papa sangat keras. Aku ngotot tidak mau ada unsur adat dalam pernikahan aku karena aku ingin acara yang simple dan sesuai dengan impian aku. Aku tahu benar kalau ada unsur adat, maka undangan akan sangat banyak bahkan orang – orang yang tidak aku kenal. Tetapi papa tidak mungkin tidak memasukkan adat dalam pernikahan aku karena dia sendiri merupakan raja adat di suku aku. Alhasil, aku menjalani pernikahanku dengan bersungut – sungut. Aku diam dan marah kepada papa karena pernikahan impianku pupus. Setahun setelah pernikahan, papa berpulang kepada Tuhan. Hatiku hancur dan sangat menyesal karena sebuah pernikahan hubunganku dengan papa sempat menjadi tidak baik.”

R, 1 tahun menikah

Senggol bacok banget di masa – masa itu. Semua orang sibuk memberi saran ini itu. Pacar saya sih sudah memberi masukan bahwa saya santai saja menghadapi hal tersebut. Diambil masukan yang positif dan diabaikan yang tidak berkenan di hati. Namun ada kalanya ketika pikiran sedang sangat mumet, ucapan pun jadi tidak bisa dikendalikan. Saat sedang rapat keluarga, tante saya yang memang sedikit ceriwis terus saja komplain tentang banyak hal. Saya gelap mata dan berkata dengan judes ‘Tante, jangan tambah bikin pusing aku deh. Tante tuh bukannya bantu malah nambah bikin masalah tauk!’ Kejadian itu terjadi di depan semua keluarga besar. Tante menangis dan aku pun ikut menjerit. Kami sempat tidak bicara dan diem – dieman sampai hari H. Selesai pernikahan, suami mengajak saya kerumah tante sambil membawa cake favoritnya. Aku meminta maaf kepada tante aku dan untungnya beliau cukup dewasa untuk memaafkan keponakannya yang labil ini, hehehe.”

C, 2 tahun menikah

“Aku bingung sama sahabatku, menjelang pernikahan ga tau kenapa dia judes banget sama aku jadinya. Ditanya pendapat tentang persiapan pernikahan aku jawabnya pasti selalu ketus. Usut punya usut setelah aku tanya ke mamanya, ternyata dia iri aku duluan menikah sedangkan dia baru saja putus dari pacarnya, hahaha. Akhirnya aku goda – godain aja dia dan dia bisa tersenyum kembali. 3 bulan setelah aku menikah, dia bertemu dengan seorang lelaki dikenalkan oleh temannya. 6 bulan setelahnya dia menikah, aku godain saja dia dengan ketusin ‘makanya jangan suka iri hati! Semua ada waktunya kan!’ Dia pun tertawa! Untung saja ketika itu aku tidak terbawa emosi ikut marah saat diketusin sahabat aku. Karena aku santai, persahabatan kami tetap utuh.”

Demikian brides cerita menjelang pernikahan dimana kita, brides to be akan menjadi sangat sensitif dan bawaannya marah – marah terus. Belajar dari pengalaman teman – teman kita diatas setidaknya ada 3 poin yang perlu kita lakukan agar tidak merusak hubungan dengan orang – orang terdekat kita.

  • Jangan ucapkan kata yang menyakitkan hati

Sekesal apapun kita pada orang – orang di hadapan kita, tahan diri untuk tidak berkata – kata yang menyakitkan hati. Jangan sampai ucapan kita terlalu melukai dan membekas selamanya padahal ketika mengucapkannya kita tidak bersungguh – sungguh dan hanya terbawa emosi.

  • Menjauh dari keramaian

Sebelum kita mengambil tindakan dan ucapan yang tidak baik karena emosi, ada baiknya kita menenangkan diri dan menjauh dari keramaian. Ngumpet di kamar, pergi ke salon atau ngopi bareng teman – teman yang berada di pihak netral dan tidak mengurusi masalah pernikahanmu. Ketika hati sudah tenang dan damai maka kamu boleh bergabung lagi untuk membicarakan masalah pernikahan kamu.

  • Sense of humour

Belajar dari cerita diatas tentang brides to be yang diketusin oleh sahabatnya karena ditinggal menikah, dia menanggapi sahabatnya dengan santai dan justru menggoda sahabatnya. Oleh karena itu persahabatan mereka tetap utuh. Kamu harus menghadapi situasi yang sulit dengan humor dan santai agar kamu tidak mudah stress.

Harus kita ingat, bahwa hidup kita tidak berakhir di hari pernikahan. Setelah menikah kehidupan akan berlanjut dan kita masih membutuhkan papa, mama, kakak, adik, saudara dan sahabat kita. Jadi jangan karena emosi sesaat malah menghancurkan hubungan kita ya brides!

×