Casual Summer Wedding at Rumah Saya

By Friska R. on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Wedding Reception

Venue Rumah Saya Joglo Group

Beauty Preparation Andromedha

Photography Michael Timothy Photoworks

Videography Dimas Wisnuwardono

Bride's Attire Dewangga (Resepsi)

Make Up Artist Marlene Hariman

Catering Dwi Tunggal Citra

Wedding Organizer Intan

Pernikahan yang indah merupakan impian semua orang. Namun adakalanya karena mengejar semua yang serba indah dan menawan terkadang pasangan tidak nyaman dengan apa yang melekat pada diri mereka maupun dengan elemen – elemen yang dihadirkan di pernikahan tersebut. Lain dengan pernikahan Yudish dan Gia yang mereka buat senyaman mungkin bagi mereka maupun tamu yang hadir. Seperti apa serunya cerita pernikahan mereka, simak ya brides!

“Awalnya aku sempat susah percaya dengan niat Yudish yang mendekati aku. Karena dia baru saja putus dan aku merasa dia hanya mencari pelarian. Namun berkat kegigihan Yudish akhirnya kami bisa menjalani masa pacaran selama 6 tahun 7 bulan,” cerita Gia memulai pembicaraan. Gia dan Yudish bertemu pertama kali pada tahun 2005 saat sedang mengkuti kegiatan ekstrakulikuler perkusi di SMA. Ketika itu Yudish sudah memberikan perhatian yang beda kepada Gia, namun Gia berprinsip tidak mau pacaran dulu. Sampai akhirnya mereka sempat tidak berhubungan lama dan menjalin hubungan dengan orang lain. Suatu hari Gia iseng membuka Facebook dan menemukan profile Yudish di sana, dari situ Gia mengirimkan pesan dan mereka pun menjadi semakin dekat sampai akhirnya memutuskan untuk berpacaran.

Pacaran dengan jangka waktu yang cukup lama membuat mereka sama – sama tau bahwa mereka memiliki tujuan yang sama untuk ke tahap yang lebih serius. Serunya, Gia sama sekali tidak tahu bahwa diam – diam Yudish sudah melamarnya kepada orangtua Gia. Setelah direstui oleh orangtua Gia maka Yudish merancang proposal romantis yang telah disiapkannya secara matang. “Yudish mengajak saya untuk ikut menemani dia manggung bersama band nya L’Alphalpha di sebuah festival musik Bandung. Saya tidak ada perasaan apa – apa, karena memang biasa menemani dia manggung.  Saat itu hujan turun dan saya tetap berada di depan panggung untuk menonton. Tiba – tiba Yudish berbicara di atas panggung dan meminta waktu kepada penonton, dia turun dari panggung dan menghampiri aku lalu berlutut dan mengajak aku untuk menikah!” kenang Gia. Gia dengan terharu menerima lamaran Yudish dan band Yudish segera memainkan lagu yang berjudul Future Days yang disambut sorak sorai dan tepuk tangan dari penonton. What a sweet proposal ya brides!

 

Yudish dan Gia pun segera mempersiapkan pernikahan dan memilih Rumah Saya yang masih satu grup dengan Rumah Sarwono menjadi venue pernikahan mereka. Gia tertarik untuk mengadakan pernikahan di Rumah Saya setelah melihat lokasinya yang begitu asri dan homey. Walaupun Gia mengaku ada sedikit kendala dalam ketersediaan parkiran mobil di Rumah Saya. Gia mengatasinya dengan membatasi undangan yang hadir sekaligus juga mewujudkan pernikahan impiannya yang intimate.

Gia yang merupakan keturunan Jawa dan Minang menggelar pernikahan sesuai dengan adat kedua suku tersebut. Masing – masing Yudish dan Gia memiliki proses adat favorit mereka. Yudish memilih siraman sedangkan Gia terkesan dengan Malam Bainai. Gia pun lanjut bercerita mengenai Malam Bainai yang dijalaninya. “Malam Bainai itu sama seperti prosesi Midodareni di adat Jawa. Malam dimana saya terakhir kalinya menjadi lajang atau yang di sebut dengan anak daro. Untuk menjalani penikahan, anak daro ini diberikan banyak doa dari keluarga sampai sahabat. Untuk Malam Bainai saya sengaja memilih warna – warna yang memang bernuansa minang yaitu dengan warna –  warna yang mencolok. Didominasi warna oranye, merah, hijau dan emas. Untuk baju adat saat malam bainai disebut dengan Baju Tokah. Saya  memilih warna rosegold.” jelas Gia.

Akad nikah diselenggarakan dengan menggunakan adat Jawa yang sesuai dengan Rumah Joglo pada venue pernikahan mereka. Kemudian dilanjutkan resepsi yang dihadiri saudara dan sahabat terdekat.

Summer casual wedding dipilih menjadi tema pernikahan mereka yang membebaskan para tamu untuk mengenakan apa saja yang membuat mereka nyaman, asalkan berwarna putih. “Dari awal mempersiapkan konsep pernikahan, aku dan Yudish sudah membayangkan tamu yang datang memakai baju putih. Pasti akan terlihat bagus diantara hijaunya pohon dan rumput. Konsep pernikahan kami sebenarnya sederhana, kami hanya ingin semua tamu dan keluarga yang hadir turut merasakan kebahagiaan kami,” kata Gia. Gia dan Yudish tidak melakukan foto pre wedding, sebagai gantinya mereka menghiasi venue dengan lukisan – lukisan gambar diri mereka berdua hasil karya lima seniman berbakat, termasuk ayah Yudish yang mahir melukis.  Ternyata tidak harus selalu memajang foto ya brides, lukisan juga bisa dijadikan pemanis pada dekorasi venue kita.

Satu hal yang menarik perhatian The Bride Dept adalah wedding dress yang Gia kenakan. Awalnya tim The Bride Dept sempat berpikir bahwa Gia mengenakani dua dress yang berbeda, yaitu long dan short dress. Namun ternyata itu adalah gaun yang sama, hanya saja dapat dilepas bagian bawahnya. “Wedding dress saya ini sangat spesial karena dibuat oleh Angghy, adiknya Yudish. Bagian bawah memang saya request kepada Angghy agar dapat dilepas karena pada dasarnya saya itu tomboy dan saya membutuhkan baju yang dapat membuat saya bergerak bebas menyapa para tamu saat turun ke pelaminan,” ungkap Gia. Ide bagus yang bisa ditiru nih brides!

Ada tiga momen yang terjadi dalam pernikahan Gia dan Yudish yang menjadi highlight dan masih berkesan sampai saat ini. Kenangan itu antara lain saat adik Yudish melakukan welcoming speech sesaat setelah pelemparan hand bouquet. Lalu kemudian saat Gia melakukan last dance dengan sang ayah dan disambung dengan first dance bersama Yudish. Saat itu juga Yudish bercerita kepada para tamu yang hadir tentang rahasia kecil hubungan mereka yang belum pernah diceritakan kepada Gia sebelumnya. Sayangnya Gia tidak membagi rahasia tersebut kepada tim The Bride Dept, hehehe.

Kepada brides to be Gia memberi pesan dan tips, “Jangan takut apabila menginginkan konsep acara pernikahan yang sedikit berbeda dari pernikahan pada umumnya. Asalkan kita mempersiapkan konsep tersebut secara matang sebelum mengemukakannya kepada para orang tua. Jika konsep tersebut sudah cukup matang maka orang tua juga akan dapat dengan mudah menerima dan mendukung konsep acara pilihan kita. Lalu sebelum mencari dan menentukan vendor yang akan diajak kerjasama, ada baiknya kita melihat dan menanyakan ke keluarga dan teman dekat terlebih dahulu karena sangat mungkin kita mendapatkan banyak alternatif vendor atau bahkan mereka sendiri yang akan menawarkan bantuan. Hal ini tentunya akan sangat membantu kelancaran persiapan pernikahan apabila vendor-vendor tersebut adalah teman kita sendiri,” ujar Gia menutup pembicaraan.

Top 3 vendor pilihan Gia :

1. Marlene Hariman

“Dari awal memikirkan MUA, hanya ada satu nama di kepala saya yaitu Marlene Hariman. Saya merasa yakin dengan Marlene sampai-sampai saya tidak melakukan test make up sama sekali sebelumnya. Pada saat saya dirias oleh Marlene saya juga tidak perlu banyak bicara karena dia langsung mengerti apa yang saya inginkan. She nailed it! she made me feel beautiful!”

2. Michael Timothy Photoworks

“Hasil yang memuaskan dan kerja yang sangat kooperatif membuat kami merasa tidak salah memilih Michael Timothy & Team sebagai vendor dokumentasi. Mulai dari acara lamaran, pengajian, siraman dan malam bainai, akad serta resepsi”

3. Dewangga

“Saya sangat menyukai totalitas dan kreativitas Angghy dalam mengerjakan baju pernikahan. Jam terbang dan pengalamannya yang cukup tinggi dalam mendesain baju pernikahan membuat saya dapat mempercayakan sepenuhnya kepada Angghy. Terbukti dari detail-detail wedding dress yang membuat saya sangat puas dan kagum pada hasil akhirnya. Tidak heran banyak teman dan keluarga yang memuji wedding dress yang saya kenakan.

×