Classic Vintage Pre-Wedding ala Yulia and Arief

By Valeska on under How To

Vendor That Make This Happened

Pre-Wedding Session

Photography Kamatheory

Make Up Artist Natalia Oen

Biasanya, dalam menentukan tema pre-wedding, perempuan lebih aktif daripada laki-laki, bahkan laki-laki cenderung kurang menikmati jalannya pre-wedding. Nah, kisah pre-wedding Yulia dan Arif yang akan The Bride Dept ulas hari ini berbeda. Sejak awal, Yulia sudah berniat untuk bisa mengajak Arif ikut menikmati keseluruhan proses pre-wedding dengan menyatukan interest masing-masing menjadi konsep pre-wedding yang sesuai keinginan mereka. “Saya menyukai traveling, sedangkan Arif memiliki interest terhadap hal-hal yang bergaya classic vintage. Dengan demikian, kami memilih konsep vintage traveler untuk pre-wedding,” papar Yulia. Akan tetapi, vintage traveler bukanlah satu-satunya konsep pre-wedding mereka. Yulia dan Arif juga menjadikan kisah hidup Bung Hatta sebagai konsep pre-wedding mereka. Terdengar sangat menarik kan, brides? Simak kisah pre-wedding Yulia dan Arif yuk!

“Kenapa Bung Hatta? Hmm…sebetulnya alasannya simpel sih, karena Bung Hatta adalah tokoh nasional yang paling kami kagumi. Bung Hatta adalah sosok negarawan sejati. Beliau tidak hanya sederhana dan intelek, tapi beliau juga sangat cinta dan setia terhadap istri serta keluarga. Ibu Rahmi juga dikenal selalu mendukung Bung Hatta dan setia mendampingi setiap langkah yang Bung Hatta ambil baik sebagai kepala rumah tangga maupun sebagai negarawan. Ada harapan bahwa kami kelak akan bisa seharmonis mereka,” jelas Yulia panjang lebar. Ide ini rupanya muncul secara tidak sengaja, bahkan Yulia sudah lupa siapa yang mencetuskan ide untuk menjadikan kisah hidup Bung Hatta sebagai konsep pre-wedding. “Kami punya ide ini sudah sejak dulu. Mungkin sekitar 2 tahun lalu. Yang pasti sih jauh sebelum Arif melamar saya. Kalau tidak salah, awalnya saya bilang saya ingin mengenakan kebaya kutubaru pada saat pre-wedding. Arif menyambut ide saya dengan bilang bahwa dia setuju, karena dia jadi bisa pakai jas berpotongan vintage seperti Bung Hatta,” ujar Yulia melanjutkan. Arif memang memiliki minat yang tinggi terhadap ilmu sejarah, bahkan Arif memiliki koleksi buku-buku yang mengulas kisah hidup Bung Hatta. Yulia juga mengakui bahwa pengetahuan sejarah yang Arif miliki yang membuatnya jatuh hati.

Gunung Bromo dan Museum Arsip Nasional menjadi venue pre-wedding karena Yulia dan Arif merasa bahwa kedua tempat itulah yang paling sesuai dengan konsep pre-wedding mereka. “Sejujurnya kami berdua belum pernah ke Gunung Bromo sama sekali, tapi kalau melihat berbagai foto yang ada, kami yakin bahwa konsep vintage traveler akan pas! Apalagi kami berfoto di sana saat musim kemarau. Ada kesan seperti berada di Afrika gitu hihi,” kata Yulia semangat. Persiapan pre-wedding di Gunung Bromo ternyata cukup memakan waktu, karena tanggal pre-wedding yang mereka pilih tidak bertepatan dengan long weekend sehingga mereka harus mempersiapkan cuti kantor selain mempersiapkan transportasi dan akomodasi. Yulia dan Arif menganggap pre-wedding di Gunung Bromo seperti liburan bareng, apalagi fotografer dan MUA yang menemani mereka juga sahabat mereka sendiri.

Yulia juga bercerita bahwa ia dan Arif tidak mengalami kesulitan berarti dalam menjalani pre-wedding, terutama saat berada di Gunung Bromo. “Memang tidak ada tempat untuk berganti pakaian sih, tapi karena outfit yang kami pilih tidak ribet jadi berganti baju di dalam mobil jip yang kami sewa masih memungkinkan. Properti foto yang kami gunakan juga sangat sederhana,” tambahnya. Peta yang mereka jadikan properti foto ternyata menyimpan kisah unik, lho, karena peta tersebut adalah peta topografi militer milik ayahanda Arif saat bertugas di Lebanon. Bagi Yulia, hal yang paling berkesan dari pre-wedding mereka adalah excitement yang Arif rasakan saat menjalani pre-wedding, karena selama ini Arif agak susah dan bahkan cenderung malas untuk diajak foto berdua. “Kami bukan pasangan yang familiar dengan lensa, tapi Arif justru terlihat lebih excited dan relax. Bahkan Arif punya beauty shot lebih banyak daripada saya saat di Gunung Bromo!”

“Pre-wedding itu bisa sangat menyenangkan kok bagi laki-laki, yang penting kita dan pasangan harus saling memahami sehingga bisa menggabungkan ide yang masing-masing miliki tanpa saling membatasi demi konsep pre-wedding yang merefleksikan diri kita,” tandas Yulia. Sebelum mengakhiri wawancaranya dengan The Bride Dept, Yulia juga memberikan satu tips penting bagi brides-to-be yang akan melakukan pre-wedding. “Pilihlah fotografer yang tepat, karena fotografer memiliki peranan kunci dalam menerjemahkan konsep pre-wedding yang kita inginkan.”

×