Colonial Retro Vintage Engagement ala Putri & Dwito

By NSCHY on under The Engagement

Rustic Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Restaurant

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Patio by Plataran

Photography The Portrait Photography

Make Up Artist Rhay David

Hair Do Arrivha Nurrahman

Bride's Attire Rahma Putri Official

Jewellery & Accessories Ayyara

Wedding Cake Mookie

Invitation ADRASTEIA MADN

Wedding Entertainment Dua sejoli

Menurut Putri dan Dwito, hubungan mereka banyak diiringi dengan spontanitas, tiba-tiba ketemu, pacaran, dan bahkan lamaran. Yuk simak cerita colonial retro vintage engagement ala Putri & Dwito berikut ini!

“Banyak banget spontanitas di hubungan ini, mulai dari kenalan trus langsung pacaran, baru sebulan pacaran, Dwito bilang kalau dia yakin sama aku dan mau lanjut ke pernikahan, dan 3 bulan kemudian aku lebih mantap dan langsung bilang ke orang tua. Kita berdua percaya sama cara kerja semesta dengan tujuan dan alasannya.” cerita Putri.

Putri dan Dwito ketemu di sebuah seminar. Pertemuan pertama mereka biasa saja, tapi untuk pertemuan kedua kalinya yang juga spontanitas di sebuah seminar, mereka jadi lebih dekat. Setelah itu, ada acara kumpul-kumpul dengan teman Putri yang juga merupakan teman Dwito, di situ, mereka mulai merasa adanya chemistry kalau lagi bersama.

Dari kecil, Putri selalu mengimpikan adanya sweet proposal di masa depan. Dengan Dwito, mimpi itu terwujud.

Rustic Engagement

“Setelah beberapa bulan pacaran, kita jalan-jalan ke Jepang dengan temanku. Pas di sana, ada satu hari kita pisah dengan teman-teman karena kita beda tujuan, Dwito ngajak aku ke suatu shrine di atas bukit. Karena waktu itu aku mendadak sakit, kita duduk di pertengahan bukit menghadap ke Gunung Fuji sambil menikmati matahari terbenam Tiba-tiba, Dwito ngeluarin kotak yang ada suratnya. Saat aku buka suratnya, Dwito ngambil kotaknya dan mengeluarkan cincinnya sambil bilang ‘will you marry me?’, aku langsung nangis. Ternyata sebelum pergi, Dwito udah minta izin ke orang tuaku, bahkan dia minta tolong ke temanku untuk cari spot yang bagus untuk melamar.” cerita Putri.

Setelah lamaran personal romantis di Jepang, Dwito dan Putri juga sudah menyelenggarakan lamaran di tengah-tengah keluarga dengan adat Jawa dan Koto Gadang berkonsep “Kembali ke Alam”.

“Kita berdua suka alam dan semesta, jadi dari baju, undangan, sampai dekorasi terinspirasi dari alam, jadi banyak elemen daun dan bunga,” kata Putri.

Sebagai seorang fashion designer, Putri mendesain bajunya sendiri dengan desain minimalis hand embroidery dengan mote 3D flower embellishment

Bukan cuma Putri yang memberikan sentuhan personal ke hari lamarannya, Dwito pun juga memberikan sentuhan personal dengan memberikan speech dadakan mengenai hubungannya. Sambil diiringi lagu Banda Neira – Sampai Jadi Debu, momen itu terasa sangat menyentuh, Dwito sampai berkaca-kaca.

“Kita sengaja mengadakan lamaran yang sederhana dan minimalis di restoran yang vibe-nya homey diiringi dengan lagu-lagu retro zaman dulu, nggak menyangka kalau vibe-nya jadi kolonial retro vintage.” tambah Putri.

Top 3 vendor:

1. The Portrait Photography

“Salut sama tangan dan ide Mas Ditto yang berbeda dengan fotografer lainnya. Gayanya cocok dengan kita, dan kita juga bisa mendapatkan chemistry kita.”

2. Rhay David Make Up

“Aku belum pernah pakai vendor ini sebelumnya, tapi dengan modal keyakinan, banyak yang memuji riasanku! Mas Rhay dan timnya sangat baik membantu beberapa keperluanku dan mamaku.”

3. Patio by Plataran

“Standar Plataran sudah tidak diragukan lagi, dari segi dekor, makanan dan pelayanan semuanya oke, terutama Mas rama dari marketing yang sangat membantu kita. Awalnya aku pilih tempat di sini karena sudah beberapa kali meeting di sini, dan aku merasa vibe-nya homey dan makanannya juga enak.”

Tips untuk brides to be:

“Komunikasi, planning dan budgeting adalah hal yang sangat penting dibahas dengan keluarga dan pasangan. Lalu, apapun yang nanti terjadi di hari H, entah ada hal yang tidak sesuai atau ada yang lupa, tetap bersyukurlah, karena yang terpenting acaranya tetap berlangsung dengan baik.”

×