Dance-Filled Wedding at Rumah Sarwono

By Leni Marlin on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah & Wedding Reception

Venue Rumah Sarwono

Event Styling & Decor Tante Ary

Photography Bob Siregar

Bride's Attire Anima by ADP

Make Up Artist Upan Duvan

Pemandu Adat Tatiek Sasongko (Firma Melati)

Catering Yvonne

Wedding Organizer Akshita Wedding

Nindy dan Ray pertama kali bertemu pada pertengahan 2012. Mereka diperkenalkan oleh Ria, sahabat Nindy sekaligus teman SMA Ray. Ria pula yang  mengatur pertemuan khusus berupa dinner berlima bersama para sahabat mereka di sebuah resto di Jakarta Pusat. Saat pertemuan itu, mereka saling bertukar pin BB.

“Setelah malam itu, kami hanya berteman di BBM tanpa bertegur sapa. Tiga minggu kemudian, Ray baru menyapa dan menanyakan kabarku. Setelah itu, kami jalan 2-3 kali, tapi masih bareng teman-teman. Ria pun selalu berperan dalam setiap pertemuan itu,” cerita Nindy.

Awalnya, Nindy tidak menyangka Ray mencoba serius. Namun setelah dijalani, mereka merasa semakin cocok dan dekat. Desember 2012, Nindy dan Ray pun berkomitmen untuk menjalin hubungan. “Awalnya tidak mudah dijalani karena banyak cobaan dan kerikil saat menyesuaikan dengan pasangan yang baru dikenal. Hubungan kami berjalan 2,5 tahun sebelum Ray melamarku.”

Akhir 2014, Nindy dan Ray bersama keluarganya berlibur ke Jepang. Kebetulan, hari kepulangan mereka ke Jakarta bertepatan dengan ulang tahun Nindy, yaitu 2 Januari. Ray memanfaatkan momen itu untuk melamar Nindy. Berhubung Ray adalah tipe pria yang tidak banyak bicara dan cenderung kaku saat mengungkapkan sesuatu, ia hanya menaruh sebuah kotak kecil terbuka berisi cincin berlian bermata satu yang sangat manis dan classic di meja pesawat.

“Saat itu aku sedang tidur pulas karena flight pulang memang saat dini hari. Menjelang breakfast, suasana pesawat mulai ramai, aku pun terbangun. Awalnya aku tidak menyadari keberadaan cincin itu. Setelah aku sadar, Ray hanya terdiam memandangiku. Setelah itu ia memelukku, mencium keningku  dan mengucapkan “Happy Birthday,” dan “I love you” sambil memakaikan cincin ke jariku. Aku terharu dan langsung mengerti maksudnya walaupun tidak ada kalimat, “Will u marry me?” keluar dari mulut Ray,” kenang Nindy. Kemudian, lamaran resmi berupa intimate dinner diadakan pada 14 Februari 2015. Di sana, mereka memutuskan hari-H untuk wedding day pada 27 September 2015.

Menyesuaikan konsep wedding yang Nindy dan Ray inginkan, yaitu bernuansa Jawa, intimate, dan dancing outdoor, mereka memilih Rumah Sarwono sebagai wedding venue. Hal ini juga atas pertimbangan kapasitas dan posisi tempat tinggal masing-masing. Selain itu, mereka juga sangat menyukai suasana berkumpul dan menikmati musik serta menari bersama seluruh anggota keluarga dan para sahabat dekat.

“Aku memilih warna putih sebagai theme-nya karena terlihat classic dan sangat masuk dengan nuansa Jawa Rumah Sarwono yang didominasi kayu tua. Kemudian ada sedikit sentuhan warna biru. Untuk bunga, kami menggunakan lily (warna putih) dan blue rose,” jelas Nindy.

Mereka memilih mengadakan acara pada siang hingga sore hari karena suasana outdoor sangat indah pada jam-jam tersebut, tidak perlu pengaturan cahaya, serta suasana alaminya masih terasa. Awalnya beberapa anggota keluarga meragukan ide tersebut karena siang hari yang panas pada saat akad, tetapi akhirnya Nindy dan Ray berhasil meyakinkan mereka. “Dan benar, seluruh keluarga, sahabat, dan rekan, sangat menikmati suasana dan makanan pada saat acara. Mereka juga ikut menari bersama kami diiringi band favorit kami berdua, Laid This Nite.”

Acara adat Jawa yang dilakukan setelah akad nikah cukup lengkap antara lain Penyerahan Pisang Sanggan, Gantel (Lempar Sirih), Wiji Dadi, Ngidak Endhog (Menginjak Telur), Sindur dan Timbangan, Minum Air Degan, Kacar Kucur, Dulangan, Mapag Besan, dan Sungkeman.

Selain acara yang berjalan lancar dan cuaca sesuai dengan harapan, Nindy juga merasa puas dengan makeup dan riasan adat paesnya. Meskipun datang agak mepet, Ibu Taty Sasongko memaes Nindy dengan penuh keyakinan, cepat, tepat, dan sempurna. “Sanggulku pun dibikin nyaman oleh Ibu Taty. Rasa deg-degan langsung hilang karena tertutupi rasa puas akan hasilnya,” kata Nindy.

Untuk busana yang ia gunakan pada wedding day, Nindy ternyata merancangnya sendiri. Kebetulan, ia berprofesi sebagai Young Designer lulusan LPTB Susan Budiharjo 2013. Ia juga owner dari brand custom Ánima by ADP. Seluruh kebaya yang ia dan keluarga inti kenakan pada saat acara adalah hasil kerja kerasnya dan tim.

“Saat semua orang memuji dan terpana atas hasil karyaku, rasanya bahagia, haru, dan bangga. Semua campur aduk. Padahal sampai H-3 aku masih last fitting untuk diriku sendiri. Capek dan stress sih, tapi bahagia dan puas mengalahkan segalanya. Di sini salah satu cita-citaku terwujud,” ungkap Nindy.

Seperti yang ia inginkan, busana wedding yang ia gunakan memiliki sentuhan classic, simple, elegan, tapi tetap stunning. Nindy mewujudkannya dengan cutting-an dan design finishing beads yang sedikit berbeda. Ia juga menggunakan bahan dasar cotton frenchlace classic dengan motif yang rapat. Pearl swarovski membuat motif lace semakin timbul dan tampilan classic-nya keluar. Sementara untuk Ray, Nindy memilihkan beskap sorjan hitam klasik polos tanpa payet. Menurut Nindy, beskap sorjan pada dasarnya memiliki shape dan cutting yang classic suit, tapi sentuhan Jawanya tidak hilang.

Untuk bridesmaid dan bestmen, Nindy menetapkan dresscode white and smart casual. Kemudian, ia juga membagikan hairpiece handmade karya teman Nindy untuk para bridesmaid dan blangkon untuk bestmen. “Kami tidak ingin terlalu menyusahkan para sahabat kami. Kami juga ingin menghindari suasana pernikahan yang penuh dengan seragam karena undangannya terbatas dan sangat intimate. Untuk keluarga inti dan sepupu yang bertugas, kami berikan beskap warna beige dan kutubaru katun biru muda.”

Nindy dan Ray sangat menikmati suasana ketika mereka bisa menari bersama para sahabat diiringi band Laid This Nite. Ray juga tiba-tiba menyanyikan lagu Inikah Cinta dari ME dan membuat suasana menjadi semakin seru. “Aku nggak menyangka, Ray akan menyanyi di depan umum. Mungkin itulah ungkapan kebahagiaannya. Para tamu pun ikut menari dan bernyanyi bersama. Aku sangat puas dan bahagia bisa meng-arrange acara sendiri. Bukan hanya attire, tetapi dekorasi sampai susunan acara. Semua berjalan sesuai impian, simple, intimate, dan memorable,” tutup Nindy sambil tersenyum bahagia.

Top 3 vendors yang direkomendasikan Nindy:

1. Ánima by Anindya DP

“Walaupun Ánima adalah brand-ku sendiri, aku sangat puas dengan hasil kerja timku. Mulai dari prepare baju prewedding hingga hari-H, timku sangat semangat, full power menyelesaikan semua attire keluarga inti. Walaupun kakakku sampai di Jakarta pada H-1 dan fitting ulang malam hari itu juga, timku tidak pandang waktu menyelesaikan semuanya dengan luar biasa. Pagi hari, kami sekeluarga telah siap dengan cantik menggunakan kebaya hasil design dan kerja kerasku bersama tim. Mereka sangat helpful dan memuaskan.”

2. Upan Duvan

“Kak Upan adalah pilihan pertamaku saat mencari MUA. Shading dan tone warna kulitnya selalu bikin penasaran. Sejak test makeup yang aku gunakan untuk prewedding, aku sudah jatuh cinta. Pada hari-H, alhamdullilah semua sahabat dan keluargaku memuji hasil karya Kak Upan. Tidak terasa bold tapi stunning. Rasanya aku nggak mau hapus makeup sampai malam, haha. Walaupun outdoor, makeup-ku nggak berubah.”

3. Akshita Wedding

“Aku memilih Akshita karena mereka langsung mengerti aku dan apa yang aku mau pada saat kami bertemu. Mungkin hal itu yang bikin sreg. Dengan karakter perfeksionisku, mereka membantu banget.”

Untuk para brides-to-be, Nindy berpesan, “Rencanakan dengan tepat apa yang kita mau dan tentukan budget. Berbagai keinginan yang kadang-kadang muncul bisa membuat budget melonjak. Ingat, sesuatu yang mahal dan over budget belum tentu bikin acara lebih indah. Good luck!”

×