DIY Wedding at Hotel Santika Premiere Bintaro

By Leni Marlin on under The Wedding

Style Guide

Style

International

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Holy Matrimony

Venue Gereja Santa Maria Regina Bintaro

Event Styling & Decor Team Dekorasi Gereja Sanmare

Photography Askara Photography

Videography Yugo Risfriwan

Bride's Attire Mba Emma

Make Up Artist Aurelia Justina

Hair Do Stefany

Catering Yvonne Catering

Wedding Reception

“The way he treated me with so much love and respect makes me feel I’m the happiest girl in the whole universe. And it makes me want to give him the best of me so that he could feel the happiness I feel.” -Mitta

Berkat pertemanan kedua bapak mereka di sebuah proyek pada 1994, Mitta dan Aji sudah saling mengenal sedari kecil. Mereka pun berkuliah di kampus yang sama, yaitu UGM, meskipun beda fakultas dan teman main. Secara kebetulan, mereka diwisuda pada waktu yang sama. Wisuda Mitta yang seharusnya November 2009 diundur hingga Februari 2010 karena peristiwa erupsi Merapi.

Namun, kisah mereka tepatnya dimulai sejak kakak pertama Aji menikah. Saat itu, Mitta datang mewakili Bapak dan Mamanya yang tidak bisa hadir. “Di situ, Aji menyapa dan saya merasakan sesuatu yang berbeda. Karena Aji tidak menanyakan kontak apapun, saya memberanikan diri menanyakan pin BB-nya via Twitter. Setelah itu, kami BBM-an sampai pagi. Padahal, saat itu Aji lagi sakit,” kenang Mitta sambil tersenyum.

Dengan bantuan lagu Payung Teduh Berdua Saja, Aji pun “menembak” Mitta setelah gadis itu putus. Saat itu, hujan baru berhenti dan di langit ada pelangi. “For me, that was the sign from God. He’s my sunshine after the rain,” kata Mitta.

Setelah menyelesaikan Sumpah Dokter Gigi, Mitta memutuskan pulang dan membuka praktik di Jakarta. Sementara itu, Aji berkarya di Jogja. Hubungan mereka pun menjadi LDR sejak 2012 hingga awal 2014. Bukan hanya sampai di situ, awal 2014 Aji pindah ke Singapura. Mereka pun menjalani LDR tahap kedua, yaitu Singapura-Jakarta, hingga sekarang.

Bagi Mitta, menjalani LDR tidak mudah. Namun, kondisi itu membuat mereka sadar bahwa hubungan mereka harus diperjuangkan. “Because when you know you love someone, it’s not just love, you want them to grow, to shine, and to be happy,” ucap Mitta. Karena itu, Mitta dan Aji pun memutuskan untuk menjalani LDR dengan gembira dan tetap bersyukur.

Kepastian hubungan mereka mulai dipertanyakan saat adiknya Aji akan segera menikah karena lebih dahulu pacaran dan lebih siap. Hal itu mendorong Papa Aji bertanya kepada Aji dan Mitta mengenai hubungan mereka. Aji pun melontarkan simple question, “Kita serius, kan? Kamu mau kan nikah sama aku?” Tidak ada proposal romantis. Namun, Mitta merasa tindakan Aji sudah tepat karena jika ia dilamar dengan romantis, suasana pasti akan diwarnai air mata dari awal saking bahagianya. Untuk pertanyaan Aji, Mitta menjawab dengan simple yes. Setelah itu, Aji pun langsung menemui Bapak dan Mama Mitta untuk meminta izin dan restu.

Pada November 2014, saat Mama Mitta ulang tahun, Aji dan keluarga inti datang ke rumah Mitta untuk mengatur tanggal dan persiapan pernikahan. “Semuanya terasa smooth sama Aji. Effortless banget, tapi tidak berasa kurang. This is it. Terasa banget kalau Tuhan yang mengatur dan kami hanya mengikuti,” ungkap Mitta. Karena Aji akan pindah ke Singapura, pada Natal 2013, yaitu setahun setelah mereka berpacaran, Aji memberikan promise ring.

Mitta dan Aji mulai mempersiapkan segala sesuatu selama kurang lebih 1 tahun. Awalnya santai, lalu menjadi lebih intensif pada tiga bulan terakhir. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah menentukan tanggal pernikahan serta tanggal cadangan jika venue sudah full booked pada tanggal yang dimaksud. Setelah itu, mereka pun mencari wedding venue. Banyak pertimbangan yang digunakan saat memilih tempat, termasuk waktu dan padatnya lalu lintas. Setelah membandingkan beberapa pilihan, mereka akhirnya memilih Hotel Santika Premiere Bintaro.

Setelah tanggal dan venue sudah pasti, Mitta dan Aji pun mulai mencicil to do list satu persatu. Ada beberapa hal yang baru bisa dikerjakan mendekati hari-H. “Asal tetap optimis dan budget tersedia dari jauh hari, semua akan berjalan lancar,” tutur Mitta.

Justru tantangan terbesar adalah ketika Bapak Mitta harus opname pada satu bulan sebelum acara berlangsung karena menderita infeksi paru-paru. “Sedih banget melihat Bapak sakit. Rasanya tenaga saya juga habis. Tapi semua terus kami bawa dalam doa. Puji Tuhan, berkat dukungan keluarga dan pengobatan dokter, Bapak semakin membaik dan boleh rawat jalan mulai awal Oktober.”

Tema dan konsep pernikahan yang diinginkan Mitta dan Aji adalah simple dan DIY concept. Mereka mempersiapkan segala sesuatu sesuai kemampuan dan keinginan dengan bantuan dan dukungan pihak keluarga besar dan vendor-vendor pilihan. Untuk item personal seperti bridesmaid cards, groomsmen cards, anagram (A-M), serta buku misa, semuanya self-designed by the groom. “Kebetulan Aji adalah arsitek dan desainer. Jadi, selama masih bisa dikerjakan ya dikerjakan sendiri,” kata Mitta. Undangan dan souvenir pun hasil kolaborasi desain Aji dan Mainmata Wedding. Mitta mengakui, mereka banyak terinspirasi dari wedding website seperti The Bride Dept serta Pinterest.

Dibantu oleh Bapak Mitta dan adiknya yang juga berprofesi sebagai arsitek, mereka mengerjakan layout guest flow dan layout dekorasi. Karena bertema simple, warna yang dipakai adalah putih, biru, pale pink, dan hijau. Dekorasi gedung dan gereja disesuaikan dengan warna-warna ini.

Karena bunga identik dengan aroma yang wangi, mereka memilih bunga sedap malam dan hortencia untuk dekorasi gereja. Ini adalah pilihan bunga terbaik menurut Bapak Mitta. “Elemen dekorasi ini sangat penting dan berguna banget menghadirkan suasana yang kami inginkan. Jadi, sangat penting menemukan vendor dekorasi yang sesuai, yaitu yang bisa memahami keinginan dan kemampuan kita serta mau memberikan yang terbaik,” kata Mitta. Untuk pengerjaan dekorasi di gereja, mereka dibantu tim dekor Gereja Santa Maria Regina. Sementara dekorasi di gedung adalah karya The Green Décor.

Soal kostum, Mitta dan Aji memiliki selera sendiri. Mereka bebas memilih wedding dress dan tuxedo yang akan dikenakan, tentunya dengan mempertimbangkan saran satu sama lain. Mereka pun banyak bertanya kepada vendor dan rajin membuka Pinterest serta wedding blog untuk mencari model yang sesuai keinginan.

Karena belum juga mendapatkan kostum yang “Mitta banget” dan “Aji banget”, akhirnya Mitta memutuskan membeli kain, tulle, sirkam, dan renda, lalu datang ke tempat penjahit langganan (Mbak Emma). Ia pun menjahitkan dress dan veil dengan berpatokan pada beberapa referensi dari internet. Model ini juga digabungkan dengan gaya kesukaannya, backless dan pita serta line. Aji pun membuat tuxedo yang “Aji banget” di Tonnico Mayestik. “Senang banget bisa personalized gitu. Rasanya lebih special. Apalagi sahabat-sahabat yang sudah hafal seleraku banyak bilang kalau dress-nya “Mitta banget”. Hehehe.”

Meskipun terkendala jarak, Aji terbilang aktif dan sangat suportif dalam persiapan wedding mereka. Namun, karena Mitta yang tinggal di Jakarta, ialah yang harus menangani semuanya dengan baik. Ada kalanya Mitta merasa capek, tetapi Aji selalu menyemangati. Setelah itu, Mitta kembali sadar bahwa mereka memang harus mempersiapkan segalanya dengan baik. “Kalau Aji sudah memberi semangat, aku ingat mikir begini, “I will marry a really really really great man, so I have to do my best,” gitu,” ujar Mitta sambil tertawa.

“Puji Tuhan, semuanya berjalan lancar dan baik,” kata Mitta lega. Dulu, ia selalu membayangkan how does it feels to be a bride? Ternyata, it was a full happiness from the beginning. Mitta dan Aji pun menikmati acara dari awal hingga selesai. Rasanya, kerja keras mereka terbayar satu-persatu. Mitta sangat bahagia saat keluarga besar mereka datang dari jauh dan eyang-eyang mereka terlihat senang dan semangat. “Waktu tante yang tahu aku capek terus memeluk serta semangatin aku, waktu kebaya, dress putih, dan veil yang dari dulu selalu dibayangkan beneran dipakai, waktu Bapak, Mama, dan adik-adikku tersenyum dan bilang aku cantik banget, dan waktu lihat Aji juga tersenyum bahagia, senangnya beneran bikin berbunga-bunga. Puji Tuhan,” tutup Mitta bahagia.

Top 5 vendor yang direkomendasikan Mitta adalah:

1. Aurelia Justina

“Suka banget makeup-nya saat misa sakramen pernikahan di gereja. She’s so passionate and fun. I love her work. Makeup-nya sangat natural dan oke banget.

2. Askara Photography dan Yugo Risfriwan Film 

They’ll make you awesome pictures and videos, no worries. So friendly. You won’t feel nervous.”

3. The Green Décor

“Pak Imam sangat ramah dan bisa mengerti dan menyesuaikan kemampuan dan keinginan kami. Senang banget.”

4. Mbak Emma

“Suka banget dress dan veil impian yang jadi kenyataan.”

5. Hotel Santika Premiere Bintaro

Great service and venue and catering. Love it.”

“Selalu bawa dalam doa. Kendala pasti ada, misalnya perubahan jadwal. Sudah dipesan jauh-jauh hari, ternyata pada hari-H berhalangan. Namun, semuanya unexpectedly beautiful karena Tuhan sudah mengatur yang terbaik. Jangan takut berkarya. It’s your wedding anyway so make sure it’s you. Kalau nggak ketemu yang sesuai, jangan takut bikin sendiri. Banyaklah bertanya pada teman-teman atau sahabat yang bisa merekomendasikan vendor-vendor yang sesuai dengan kita. Peran orangtua dan keluarga pun sangat berharga. Let yourself feel the love they give you. At the end of the day, whatever happens, you will have your great man, smiling and standing beside you as your husband, and it will all be worth it.”