Etika Dalam Membagi Biaya Pernikahan

By Anita Ve on under Budgeting, How To

Mengatur pernikahan memang tidak gampang. Tidak hanya menyita waktu dan pikiran, namun juga membutuhkan berbagai persiapan baik secara mental terutama finansial. Seringkali, masalah finansial menjadi pemicu perbedaan pendapat bahkan menjadi penghambat.

Di negara kita, ‘budaya’ membiasakan biaya pernikahan untuk ditanggung lebih besar oleh calon pengantin pria. Dan pengantin wanita hanya menambah atau menutupi kekurangannya.

Mengenai cukup atau tidaknya biaya yang diberikan, atau besar atau kecilnya biaya yang harus dikeluarkan pihak wanita, tergantung dari apa yang dipilih calon pengantin wanita.

Sistem pembagian biaya dimulai dari pembicaraan antara kedua belah pihak, baik hanya antara si pengantin atau melibatkan kedua keluarga. Dalam diskusi ini, umumnya pihak pria akan menanyakan berapa uang hantaran yang diinginkan pihak wanita.

Setelah terjadi kesepakatan, pihak pria menyerahkan uang tersebut untuk kemudian digunakan pihak wanita membeli seluruh keperluan pernikahan. Mengenai uang tersebut cukup atau berlebih, tergantung dari bagaimana pihak wanita memilih keperluan tersebut. Jika uang hantaran kurang, maka segala kekurangan ditutupi oleh pihak wanita.

Namun, membuka pembicaraan apalagi membuat kesepakatan mengenai biaya pernikahan bukanlah hal yang mudah. Kedua belah pihak acap kali merasa tidak nyaman memaparkan kondisi keuangan masing-masing. Selain itu mungkin banyak faktor lain yang menyulitkannya, seperti rasa segan, ketakutan dianggap matre, dan banyak lagi. Hal ini semakin terasa sulit apabila adanya perbedaan kondisi ekonomi, di mana pihak wanita cenderung lebih mapan.

Lalu bagaimana baiknya membicarakan budget pernikahan dengan pasangan dan keluarganya?

Cara terbaik untuk memutuskan siapa yang akan membayar, untuk apa yang baik bagi keluarga (atau semua keluarga yang berlaku) dan pasangan adalah dengan duduk bersama dan berdiskusi tentang kontribusi masing-masing.

Beberapa orang sangat tidak nyaman mendiskusikan keuangan mereka di depan orang lain. Maka dari itu, biasanya diadakan pertemuan terpisah dengan keluarga masing-masing.

Tidak ada bilangan pasti besaran biaya pernikahan yang harus ditanggung oleh masing-masing pihak. Semua berdasarkan kesepakatan, dan pihak wanita hanya perlu mengelolanya sebijak mungkin agar tidak keluar uang terlalu banyak, atau malah tidak mengeluarkan uang sama sekali.

Atau jika sistem tradisional ini terasa berat, sistem pembagian bisa diubah menjadi misalnya pengantin membayar untuk seluruh pernikahan, beban dibagi secara merata antara pasangan, keluarga pengantin wanita, dan keluarga pengantin pria, setiap keluarga mencakup biaya untuk jumlah tamu yang diundang, atau singkatnya dibagi 50-50.

Bisa juga disepakati di awal dengan presentase tertentu. Misalnya, 60-40 atau 70-30.

Yang terpenting adalah komunikasi dan memahami kondisi keuangan masing-masing

Bagaimana kamu memutuskan untuk membagi biaya pernikahan, tergantung pada kondisi keuangan setiap keluarga, dan dari pengantin sendiri. Yang perlu ditekankan adalah ‘keadaannya’ – bukan kebiasaan atau tradisi yang mendikte siapa, membayar apa untuk pernikahan.

Pembagian biaya pernikahan ala luar negeri mungkin bisa jadi solusi. Caranya dengan membagi tanggungjawab berdasarkan item yang harus dipersiapkan. Memilah dan membagi item tertentu dan kemudian menentukan siapa yang harus membeli atau menyediakannya. Namun hal ini juga harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Misalnya pengantin perempuan bertanggungjawab atas alat tulis pribadi pasangan dan ucapan terima kasih, program pernikahan dan buku tamu, hadiah untuk pengiring pengantin dan gadis pembawa bunga, akomodasi untuk pengiring pengantin.

Pengantin pria pengantin laki-laki bertanggungjawab atas cincin tunangan mempelai wanita, izin menikah, biaya administrasi, sewa atau pembelian pakaian formal nya, hadiah untuk pengiring pria dan pembawa cincin, akomodasi untuk pengiring pria.

Kedua pengantin menanggungjawabi cincin kawin, bulan madu (dalam keluarga tradisional, ini masih dianggap beban mempelai pria).

Bagaimana pun pembagiannya, sebaiknya didasari dengan kondisi ekonomi dan kemampuan finansial kedua belah pihak, bukan berdasarkan tradisi atau keharusan tertentu.