Exclusive Interview: Pernikahan Karina Salim dan Aldy

Style Guide

Venue Hall
Color Gold White

Apa cerita menarik soal persiapan pernikahan kalian?

Pada awalnya, walau sudah berpacaran dengan Aldy sejak SMA, aku selalu berencana untuk menikah di usia 29 tahun ke atas karena hendak fokus untuk mengejar karier terlebih dahulu. Namun, ketika aku mengalami sebuah masalah pribadi, aku mendapat nasehat dari orang terdekat untuk berpuasa di bulan Rajab agar bisa mendapatkan petunjuk soal rencana ke depan, termasuk soal jodoh. Jadi, tahun lalu, kami melakukan puasa selama sepuluh hari di bulan Rajab. Ternyata, tepat di hari kesepuluh, aku seperti mendapatkan keyakinan di dalam hati bahwa Aldy adalah orang yang tepat untukku. Aku juga berjanji pada diriku sendiri bahwa ketika petunjuk itu datang, aku tidak akan menunda-nunda menikah dengan Aldy. Hal ini juga sejalan dengan rencana Aldy, yang akhirnya melamarku ke keluarga di bulan Juli tahun lalu.

Di area foyer, terdapat beberapa ilustrasi yang berisi cerita pacaran Kalian. Boleh ceritakan sedikit tentang konsep dekorasi ini?

Aku dan Aldy melewati banyak hal selama 8 tahun. Bisa dibilang, “we grew up together”, mulai dari ‘hanya’ menjadi atlet basket sekolah dan cheerleader, hingga sekarang aku punya bisnis kecantikan dan Aldy punya bisnis kuliner. Aku ingin membagi hal itu kepada orang-orang yang kukenal, apalagi sekarang kami sudah ‘resmi’, sementara waktu masih pacaran aku tidak terlalu suka mengumbar soal hubungan kami. Untuk itu, aku minta tolong seorang ilustrator, dan dibantu oleh sahabat kami, ilustrasi dan cerita itu dibuat dan diabadikan ke dalam cetakan-cetakan yang kami pasang di venue.

Kurang dari seminggu setelah menikah, Karina sudah merilis single baru. Bagaimana cara mempersiapkan acara pernikahan di tengah kesibukan Karina dan Aldy yang begitu banyak?

Triknya adalah dengan memiliki waktu persiapan yang relatif panjang. Aku dan Aldy sepakat untuk memiliki waktu persiapan yang relatif panjang, yakni 8 bulan, sejak hari lamaran atau pertunangan resmi. Dengan kesibukanku dan Aldy, yang kerja full-time dan memiliki beberapa bisnis, kami hanya bisa mengurus pernikahan di akhir pekan. Karena waktunya 8 bulan, walau hanya mengurus di akhir pekan, kami tetap punya waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya.

Apa yang membuat kalian memilih adat Sunda di era di mana banyak pasangan, terutama selebritis, yang memilih untuk menggunakan konsep internasional seperti jas dan gaun?

Untuk pernikahanku, aku memang ingin sekali mengenakan busana tradisional. Ada beberapa alasan dibalik keinginan ini. Pertama, keluargaku banyak yang berpendapat bahwa kalau pakai gaun nanti “tidak ada bedanya dengan tamu”, sementara pengantin itu kan sebisa mungkin harus manglingi. Selain itu, pekerjaanku menuntutku untuk tampil di konser maupun menghadiri premier film mengenakan gaun panjang yang dibuatkan oleh desainer. Aku ingin sekali di momen terpenting dalam hidupku, aku tampil berbeda dari biasanya dengan tidak menggunakan gaun.

Soal adat Sundanya, sebenarnya sejak lama, aku tergila-gila setiap kali melihat pengantin mengenakan Siger. Menurutku, pengantin Sunda Siger cantik sekali. Aku ingin bisa mengenakan mahkota Siger itu di hari pernikahanku. Jadi, karena kebetulan ada darah Sunda yang mengalir dalam tubuhku, begitu pula di keluarga Aldy, aku pikir, ya kenapa tidak pakai adat Sunda saja untuk pernikahan kami? Alhamdulillah, cita-citaku menjadi pengantin Sunda siger bisa tercapai di pernikahanku.

Bisa diceritakan mengapa kebaya resepsi ‘disambung’ dengan kain batik khas Jawa Barat? Apa konsep itu datang dari Karina atau disarankan oleh Bunda Anne selaku desainer?

Konsep itu datang dari Bunda Anne selaku desainer busana pernikahanku. Di pertemuan pertama, di mana kami melakukan brainstorming untuk desain, Bunda Anne menanyakan banyak hal untuk tahu kepribadian aku, kisah cinta aku dan Aldy, asal usul masing-masing keluarga, dan lain-lain. Bunda Anne juga yang menyimpulkan kepribadian aku seperti apa dan akan cocok pakai baju apa, dipengaruhi oleh asal-usul budaya keluarga aku dan Aldy. Jadilah, kebaya resepsiku didesain panjang dengan sambungan kain batik khas Jawa Barat, yang menurutku indah sekali dan berbeda dari pengantin-pengantin lainnya.

*All photos are courtesy of Reynard Karman Photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *