Fun Romantic Wedding at Morabito Art Villa

By Friska R. on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Morabito Art Villa

Event Styling & Decor Bali Signature

Photography Jacky Suharto

Bride's Attire BIN House

Make Up Artist Hias Rias

Catering Taco Local

Pertemuan Deyta dan Michael pertama kali terjadi ketika mereka berdua berada di Palangkaraya pada tahun 2011. Ketika itu, Michael sedang bekerja di sebuah NGO, sedangkan Deyta baru saja menyelesaikan kontraknya sebagai seorang guru di sebuah sekolah.

“Sejak awal pacaran, kami berdua memang bukan pasangan yang romantis. Jadi biasanya kami lebih suka menjelajahi tempat-tempat terpencil, seperti naik klotok (perahu kecil khas penduduk Kalimantan) atau naik motor selama 6-8 jam ke pantai terpencil,” buka Deyta.

Masa pacaran Deyta dan Michael dijalani selama kurang lebih 5 bulan sebelum Michael melamar. “Dia melamar aku di sebuah resort di Lampung. Sejujurnya lamaran itu sedikit bizarre romantic, haha. Yang aku tahu, aku ketiduran dan tiba-tiba sudah ada di cincin di jariku pagi harinya. Ternyata Michael membutuhkan waktu 30-45 menit untuk nyopotin cincin kepunyaan aku dan 15 menit lainnya untuk masangin cincin yang sudah dia persiapkan,” cerita Deyta seru.

“Lucunya lagi, aku tidak sadar kalau aku sudah mengenakan cincin yang berbeda di pagi harinya sampai aku noticed kalau Michael sudah senyum-senyum aneh. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang berat di jariku dan secara refleks aku teriak “Is this it? Is this it?” It was perfect for me because my favorite place in the whole world!” tambah Deyta.

Pernikahan Deyta dan Michael dilakukan secara tradisional dan internasional. Mereka memilih adat Jawa karena mengikuti latar belakang keluarga Deyta, sedangkan Michael hanya mengikuti saja. Maklum, Michael bukan warga negara Indonesia.

Deyta mengaku ia sedikit kesulitan menjelaskan mengenai tahap-tahap pernikahannya kepada keluarga Michael. Pertama, hal itu bukanlah sesuatu yang lazim bagi mereka. Kedua, keluarga Michael terpencar dari Australia hingga Afrika. “ Adat Jawa yang sangat ribet ini memang susah dimengerti mereka awalnya, tetapi setelah melakukannya, they felt a lot closer with Michael (who has been away for traveling and work for 4 years at that time) and my family. Michael’s mother appreciate the gestures that honored the elders, such as sungkeman.”

Untuk rangkaian upacara tradisional ini, mereka memang memilih warna biru dan hijau sebagai warna utamanya. Warna tersebut selalu mengingatkan mereka akan nuansa laut dan alam. Tidak hanya itu, ternyata warna biru itu adalah warna favorit Michael.

Rangkaian acara pernikahan Deyta dan Michael memang menyimpan banyak cerita, dimulai dari mereka berdua yang terserang tipus hingga senyum Deyta yang terlalu lebar yang membuat tante-tantenya bete. “Sehari sebelum siraman, aku dan Michael didiagnosa sakit tipus, jadi kita berdua disamperin oleh dokter subuh-subuh untuk disuntik. Selain itu, rencananya yang memandikan aku hanya 9 orang tetapi tiba-tiba jadi 13 orang! Acaranya bahkan sampai di-pause karena kekurangan air hehehe. Hal yang lucu lainnya adalah orang tua Michael yang kaget harus menggendong Michael di acara siraman, padahal Michael itu badannya cukup besar. Aku bersyukur banget, acara ini berjalan dengan lancar walaupun kita berdua sakit dan lemes. Semuanya berkat dukungan dari keluarga.”

Hal yang tidak terlupakan lainnya adalah ketika akad nikah karena Deyta yang berjalan terlalu cepat ke pelaminan sehingga tante-tantenya harus menarik lengan Deyta agar ia bisa berjalan lebih pelan. Selain itu, Deyta juga tidak tahu kalau ternyata pengantin wanita itu tidak boleh tersenyum lebar ketika akad nikah. “Aku diomelin tanteku yang Jawa banget karena katanya aku tersenyum lebar banget sampai kelihatan gigi. Menurut mitosnya itu seharusnya tidak boleh. Walaupun begitu aku kagum banget dengan Michael yang lancar melafalkan ijab qabul dalam bahasa Indonesia.”

Sedangkan untuk resepsi di malam harinya, Deyta dan Michael memilih konsep internasional. Menurut Deyta, ia hanya ingin memiliki pernikahan yang santai dan tidak terlalu formal. Konsepnya sendiri datang dari mereka berdua dan juga ayah Deyta. Pilihan venue jatuh pada Morabito Art Villa karena lokasi tersebut sudah seperti musem dengan koleksi barang-barang antik. Agar suasananya Indonesianya lebih terasa, mereka juga menghadirkan penari Bali untuk hiburan.

Bagi Deyta, tantangan dalam persiapan pernikahannya ini adalah ketika memutuskan siapa yang harus diundang. “Ibuku ingin mengundang semua teman dan keluarga, sedangkan aku hanya ingin teman terdekatku yang hadir. Solusinya adalah mengadakan acara siraman/ midoderani di Jakarta dan akad/resepsi di Bali.”

Top three vendors pilihan Deyta adalah

1. Jacky Suharto Photography

Jacky is such a cool guy and he doesn’t make you uncomfortable but very professional about his work, he knows what he is doing and how to do it. I’m very satisfied with his work!

2. Artea WO

Everything went smoothly because of them, sangat organized, always ready for a challenge, very accommodating dan professional.

3. Hias Rias & Marlene Hariman

Ibu Iie benar-benar menenangkan saat persiapan setiap acara adat dan bagus sekali dalam menata pakaian2 adat. Ibu Iie and Marlene really made me feel beautiful and still be able to recognize myself in the mirror.

Tips untuk para pembaca The Bride Dept: It’s good to stick to your dream, but if you open up to other’s opinion, you might be surprised how well their idea goes with yours. In the end, you will have fun no matter what!

×