Gold and White Wedding at Tirtha Uluwatu Bali

Style Guide

Venue Church
Color Gold White

The Vendors Who Made This Happen

Holy Matrimony
Wedding Reception

Siapa diantara kamu yang senang menjadi matchmaker? Memang rasanya senang sekali ya menjodohkan teman apalagi jika sampai berhasil menikah. Sheryl, bride yang The Bride Dept feature kali ini, pernah menjodohkan temannya 13 tahun yang lalu. Kebaikan hati Sheryl ini dibalas oleh temannya itu yang juga menjodohkan Sheryl dengan Ryan. “Ryan dan saya memiliki kepribadian yang sangat berbeda, saya cenderung aktif, menggebu-gebu dan berani. Sedangkan Ryan adalah seorang yang kalem, sangat baik hati dan cinta olahraga. Awalnya perbedaan ini membuat saya ragu, namun ternyata perbedaan ini yang membuat kita dapat berpacaran selama 6,5 tahun walau dengan rintangan LDR selama 5 tahun. Kelebihan kita masing-masing bukan untuk kita saling melengkapi, melainkan sebagai cermin, sama-sama membuat kita sendiri ingin menjadi lebih baik, melihat kelebihan yang dimiliki pasangan kita, be the best version of our self,” cerita Sheryl.

Ryan melamar Sheryl pada saat mereka sedang berlibur akhir tahun bersama keluarga di Paris. Ketika itu mereka berkunjung ke Chateau de Versailes dan mereka berdua sengaja untuk mengenakan pakaian formal. Tujuannya agar mereka dapat mengambil foto di lokasi yang sangat bagus tersebut. “Disaksikan oleh keluarga terdekat, Ryan tiba-tiba berlutut dan melamar saya di taman. Saya tidak menyangka. Turis-turis yang ada disitu pun mengucapkan selamat kepada kita. Momen itu seperti mimpi,” sambung Sheryl.

Setelah lamaran yang begitu manis tersebut, Sheryl dan Ryan segera mempersiapkan pernikahan mereka selama kurang lebih satu tahun. Bali menjadi pilihan mereka menyelenggarakan pemberkatan dan resepsi. Layaknya kesulitan yang dialami para brides to be yang menyelenggarakan wedding destination, Sheryl dan Ryan juga sempat kesulitan dalam mempersiapkan akomodasi untuk para keluarga dan tamu terdekat. Namun untungnya semua dapat berjalan dengan lancar. Bagi Sheryl, menyelenggarakan wedding destination sebaiknya didampingi oleh wedding organizer yang sudah terbiasa menangani acara seperti ini. Sheryl juga menyarankan para brides to be untuk membuat website yang berisi keterangan mengenai pernikahan mereka.

Tema klasik dengan dominan warna emas dan putih serta sentuhan dedaunan menjadi pilihan Sheryl untuk menghidupi suasana pernikahannya. Dari awal Sheryl sengaja memilih warna dan dekorasi yang simpel agar tidak menutupi keindahan venue dan pulau Bali yang memang sudah cantik. Selain itu, Sheryl yang merupakan seorang arsitek turun tangan langsung dalam mendesain dekorasi venue pernikahannya. “Sebagai seorang arsitek saya sangat sensitif dengan tata ruang. Venue yang kita pilih memiliki lahan yang luas dan tamu harus terbagi di dua lantai. Hal ini membutuhkan tata letak zoning yang baik agar acara dapat berjalan lancar. Pengaturan tata letak panggung, meja, lounge dan blocking saya desain sendiri. Dekorasi panggung, bridal table dan family table juga saya desain sendiri dan kemudian saya serahkan kepada vendor untuk mewujudkannya. Untuk panggung saya menginginkan dekorasi hanya menempel pada lantai, tidak ada dekorasi vertikal karena akan menutupi pemandangan cliff yang indah terutama saat sunset. Dekorasi pada meja pun tidak semata hanya indah difoto tapi harus nyaman untuk makan dan ngobrol. Jadi saya hanya menggunakan dedaunan dan gold cutleries. Chandelier sebagai aksen dan ghost chair dipilih agar dekorasi terkonsentrasi pada meja saja,” jelas Sheryl.

Tidak hanya dekorasinya yang cantik, namun Sheryl juga tampil anggun dengan wedding dress yang dibuat mengadaptasi bawahan mermaid agar mudah bergerak dan cocok dengan suasana Bali. Gaun Sheryl memiliki dua tampilan. Saat pemberkatan gaun Sheryl diberi tambahan overskirt sehingga terlihat anggun di gereja. Lalu untuk malam, Sheryl mengenakan cape tambahan agar terkesan lebih santai namun tetap anggun. Detail motif bahan didesain secara khusus oleh designer agar memberi kesan ramping, yaitu salur vertikal dengan sedikit wave. Pada saat pemberkatan, Shery yang sangat mencintai batik mewajibkan semua para tamu undangan termasuk bridesmaid dan bestman untuk mengenakan batik. “Saya mencari bahan dan mendesain sendiri pakaian untuk bridesmaid dan bestman. Ternyata tema batik ini disambut hangat oleh tamu. Saya sangat senang melihat semua orang berpartisipasi menggunakan pakaian batik ke gereja,” tambah Sheryl. Para bridesmaid membuat pernikahan Sheryl semakin berwarna. Terutama saat dimana Ryan dikerjai oleh para bridesmaid yang meminta Ryan mengucapkan janji secara spontan sebelum bertemu Sheryl di hari H. Bagi Sheryl, momen itu adalah momen yang paling berkesan untuknya.

“Enjoy the day from the very beginning cause you’re gonna miss it. Pastinya momen di hari itu tidak akan bisa terulang lagi. Lupakan kekecewaan jika ada yang berjalan tidak sesuai harapan, jaga mood selama hari H,” pesan Sheryl kepada brides to be.

Top 3 vendor pilihan Sheryl :

  • AXIOO

“Dari awal persiapan sampai setelah hari H, AXIOO sangat profesional menangani segalanya. Totalitas fotografer tidak diragukan, hasil pun sangat memuaskan. Semua momen berharga ditangkap dan dikemas secara artistik.”

  • Fedya MUA

“Hasil make up sangat rapi dan tahan lama serta dapat mengeksekusi permintaan klien dengan baik tanpa menghilangkan ciri khasnya.”

  • Cindy Tandiyah

“Cindy selalu mencoba hal baru, detail akan pekerjaannya dan aktif memberikan saran agar klien mendapatkan desain sesuai dengan kepribadian dan bentuk tubuhnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *