Home Intimate Engagement ala Naida & Aria

By NSCHY on under The Engagement

The Bride Dept: Home Intimate Engagement ala Naida & Aria

Style Guide

Style

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Event Styling & Decor EQ Pro

Photography Visuel Project

Make Up Artist Kartika Sari

Hair Do Wantie Hairstylist

Catering Alfabet Catering

Hand Bouquet Masbunga

Wedding Organizer Maheswara Wedding Planner

Berkenalan sejak awal masuk kuliah, tepatnya delapan tahun yang lalu, tidak pernah terlintas di benak Naida untuk menjalin hubungan dengan Aria, seniornya yang baginya tidak menarik dikala itu.

Dua tahun setelah lulus, Naida dan Aria sempat beberapa kali bertemu, tepatnya saat hangout bersama teman inner circle mereka. Dari situ, Aria mulai melakukan pendekatan dan meningkatkan intensitas obrolan. Kebetulan, dua-duanya memang masih sendiri kala itu.

We went on a first date, and to be honest, I hadn’t felt the sparks between us. Aku juga jadi agak malas melanjutkan PDKT-nya.”

Saat itu, Naida merasa bahwa tidak memiliki komunikasi yang asyik, nyaman dan nyambung dengan Aria. Setelah itu, keduanya masih tetap berhubungan, namun tidak ada yang spesial.

“Dua bulan kemudian, di awal tahun 2017, di acara pernikahan sahabatku, aku ketemu Aria lagi. Kebetulan, dia suka fotografi dan iseng ambil foto portrait-ku dan diunggah ke Instagramnya. Jujur, walau saat itu masih belum tertarik dengan Aria, aku ada perasaan ge-er.”

Setelah foto pertama Naida yang diunggah ke akun Instagram pribadinya, entah kenapa saat itu Naida yang memulai langkah dengan minta sebuah traktiran karena sudah menjadi model untuk fotonya, “saat itu, aku kepikiran, ‘apa salahnya memberikan kesempatan kedua?’.”.

Kencan kedua pun berlalu. Saat itu, Aria sudah mulai lebih terbuka dan tidak jaim. Obrolan mereka pun juga jadi lebih nyambung, seru dan mengalir apa adanya. Dari situlah, Naida sudah mulai merasakan kenyamanan berada di dekat Aria, “entah kenapa, aku juga merasa Aria beda, jauh lebih dewasa daripada yang aku kenal saat kuliah dulu,”.

Sejak saat itu, keduanya jadi semakin dekat dan sejak awal pun Aria memang sudah mengungkapkan bahwa ia ingin menjalani hubungan yang serius, ia ingin berkomitmen dengan Naida.

“Aku tidak pernah benar-benar memikirkan soal pernikahan sampai akhirnya Aria datang ke hidupku. Tidak lama setelah kita bersama, aku mulai berpikir bahwa dia adalah orang yang aku inginkan untuk menjadi teman menghabiskan hidupku.”

Setelah keduanya sudah sama-sama yakin dan siap, mereka mempertemukan kedua belah keluarga untuk makan malam. Saat itu pula, obrolan pernikahan pun diseriuskan.

Meski tanpa proposal personal antar keduanya, namun Aria mengikuti cara melamar ala budaya Indonesia, yaitu meminta izin dan restu dari orang tua pasangannya, yang menurut Naida, ia lakukan secara manis dan sempurna di hari lamarannya ini.

“Acara lamaran ini memang hanya sebagai formalitas agar kedua belah keluarga berkenalan. Sengaja diadakan di rumahku, agar lebih intim dan kekeluargaan. Untuk dekor pun juga sangat sederhana, hanya ditambah dengan dekorasi bunga-bunga. Kita ingin ambience yang nyaman, namun tetap terkesan homey. Kita pun juga melewatkan acara pertukaran cincin, kita memutuskan untuk hanya melakukannya pada saat akad saja.”

Bagi Naida, momen yang paling berkesan untuknya adalah saat Aria melamar dan meminta izin serta restu dari orang tua Naida di depan keluarga dan teman-teman dekat. Dengan simple, tanpa basa-basi, Aria menyampaikannya dengan tegas dan sempurna.

“Siapa yang sangka kalau pada akhirnya kita malah bersama. Lucu aja, aku yang awalnya ogah-ogahan dan malas sama Aria, tau-tau dilamar sama dia. Selain itu, di hari lamaran inilah pertama kali aku dapat bunga dari Aria, karena selama hampir dua tahun bersama, tidak pernah sekalipun Aria memberikanku bunga.”

Top 3 vendor:

1. EQ Pro

“Apa yang aku inginkan benar-benar jadi kenyataan; rumahku jadi super cantik. Aku benar-benar terkesima dan puas dengan hasilnya. Hanya dengan memberikan moodboard dan diskusi kecil mengenai dekor keinginan kita, semuanya terealisasikan, bahkan dengan hasil yang jauh lebih baik. EQ Pro ini benar-benar tidak perhitungan, benar-benar menyesuaikan dengan keinginan dan budget. Dari awal pun, kita sudah merasa cocok. Sayangnya, EQ Pro tidak aktif di sosial media, jadi cukup susah untuk ditemukan. Kalau mau dekor dengan EQ Pro, harus lewat Maheswara, kalau tidak, ia akan menolak jadi vendor.”

2. Alfabet Catering (@alfabetcatering)

“Alfabet Catering ini sangat juara! Tidak ada satupun yang bilang makanannya tidak enak. Kita tidak salah pilih untuk vendor katering ini di hari lamaran kita.”

3. Maheswara (@maheswara_wedding)

“Awalnya, aku hanya mau pakai jasa wedding organizer tanpa planner, karena mau mengurus semuanya sendiri. Tapi tiba-tiba ketemu Maheswara, dan kita sudah klop sejak pertama kali. Untuk acara lamaran, aku memang tidak pakai jasa WO, tapi Maheswara ini termasuk 3 vendor terbaikku karena berjasa dalam persiapan lamaran ini. Tanpa bantuan dari Maheswara, aku rasa persiapan dan jalannya tidak ada serapih itu. Aku bersyukur bertemu Maheswara.”

Tips untuk brides to be,

“Selalu berusahalah untuk tenang dalam mempersiapkan segala hal. Jangan terburu-buru dalam membuat keputusan dan lakukan riset agar yakin dengan vendor pilihannya. Selalu komunikasilkan segala hal dengan pasangan, karena kalian akan melibatkan kedua belah pihak keluarga. Jadi komunikasi itu sangat penting untuk kelancaran persiapan dan jalannya acara. Jangan lupa juga untuk minta pendapat dari WO atau WP kalau ada, karena mereka lebih mengerti dan berpengalaman dalam hal itu. Jangan dibawa stress, nikmatin aja prosesnya!”

×