Pernikahan Adat Jawa di Hotel Bidakara

By NSCHY on under The Wedding

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Gaia Nata Slaras

Photography Soe & Su (Candi)

Make Up Artist Upan Duvan Make Up

Hair Do Tari Donolobo

Bride's Attire Merras

Catering Akasya Catering

Wedding Organizer Amaya Wedding

Wedding Reception

Venue Hotel Bidakara

Event Styling & Decor Gaia Nata Slaras

Photography Soe & Su (Candi)

Make Up Artist Irwan Riady

Hair Do Tari Donolobo

Bride's Attire Merras

Catering Akasya Catering

Wedding Organizer Amaya Wedding

“I don’t know when the first time I met you, but all I know is I love you.”  Itu adalah kata-kata yang tepat untuk mewakilkan hubungan percintaan Sarah dan Indra ini. Indra mengaku sudah mengenal Sarah sejak 5-7 tahun lalu, sedangkan menurut Sarah, mereka bertemu sekitar 3 tahun lalu. “Waktu itu saya hanya menemani teman saya yang ingin menjodohkan Indra dengan seorang teman saya yang lain. Pada waktu itu juga saya sedang punya pacar.” Jawab Sarah sambil mengulang masa itu. Pertemuan itu ternyata berlanjut hingga ke pelaminaan dan mereka mengadakan pernikahan adat Jawa di Hotel Bidakara dengan konsep dan dekorasi yang indah. Yuk, kita baca selengkapnya!

Namun sepertinya, perjodohan itu bukan untuk Indra dan teman Sarah, melainkan ditakdirkan untuk menjadi sebuah jalan yang menuntun Sarah kepada Indra yang membuat mereka memulai berhubungan intens sejak Februari 2014. Bertepatan dengan bulan kasih sayang, pada suatu hari di bulan Februari Sarah dan Indra janjian untuk makan siang bersama. “Sebenarnya saya termasuk orang yang susah untuk bertemu orang baru, tapi nggak tau kenapa hari itu saya nekad saja.” Curhat Sarah.

Namun ternyata pada hari tersebut terjadi miskomunikasi yang membuat Indra telat dua jam dan membuat Sarah kesal dan balas dendam dan sengaja membuatnya selama satu jam. “Niatnya sih hanya ketemu sebentar, 15-30 menit, ternyata pas udah ngobrol nggak terasa sampai 1,5 jam.” Hm, mungkin itu yang disebut “No pain without gain”. Keduanya saling menanti untuk obrolan 1,5 jam mereka yang membawanya ke hubungan yang lebih jauh dan membuat mereka bertemu setiap hari selama satu minggu. Singkatnya, mereka memutuskan untuk berpacaran setelah saling berkenalan lebih jauh selama satu minggu.

Ternyata Tuhan mempercepat segalanya untuk Sarah dan Indra. Setelah perkenalan intens lebih jauh selama satu minggu yang membawa mereka ke jenjang pacaran, ternyata berpacaran tiga bulan saja sudah cukup untuk Indra yakin bahwa “she is the one”. Di suatu hari setelah pulang dari pesta pernikahan teman, mereka kelaparan dan memutuskan untuk makan di restoran favorit Sarah, Toscana. Di tengah-tengah keseruan perbincangan, tiba-tiba Indra mengeluarkan sebuah kotak cincin. “Saya kaget setengah mati. Saya nggak mau GR karena bisa aja itu kalung.” Papar Sarah.

Ya, itu merupakan suatu waktu saat Indra memutuskan untuk menjalani tahap untuk menjadikan Sarah sebagai teman hidupnya. Ia mengajukan ‘pertanyaan’ tersebut namun karena salah tingkah, bukannya membuka kotak cincin tersebut, Sarah malah meletakannya di bawah meja. Mengetahui bahwa pujaan hatinya tengah dilanda kegembiraan tiada tara sehingga membuatnya salah tingkah, Indra menjelaskan maksud dan tujuannya dan membantu Sarah membuka kotak yang memang berisi cincin itu. “Nggak tau kenapa, mungkin ini yang namanya ‘klik’. Saya menanggapinya dengan positif meskipun hubungan kami baru saja 3 bulan.” ungkap Sarah.

Setelah malam yang tak terlupakan itu, mulailah cinta mereka diuji untuk dikenalkan lebih dalam lagi. Mereka mempersiapkan pernikahan 8 bulan sebelumnya yang sebelumnya dilakukan lamaran yang jatuh pada 9 Agustus 2015 lalu, tepat sehari setelah ulang tahun Sarah. Berkenalan tiga bulan rasanya tidak cukup siap untuk mempersiapkan pernikahan bersama mengingat bahwa mereka belum mengenal satu salam lain. Namun ternyata itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membina rumah tangga, bahkan membuat mereka menjadi lebih mengenal sifat satu sama lain dan berjalan bersama untuk menyikapi tekanan dan juga masalah.

“Di sini kami pelan-pelan belajar mempelajari sifat satu sama lain dan bagaimana menyikapi satu sama lain. Semakin dekat dengan pernikahan, semakin banyak tekanan di dalam hubungan kami dan semakin sulit untuk menyikapi satu sama lain.” Sarah yang ekstrovert ternyata berhasil menyikapi Indra yang introvert, juga sebaliknya. Sebagai anak pertama, Sarah mengikuti permintaan sang ayah yang ingin menikahkan putrinya di rumah.

Sebagai wanita yang berasal dari Jawa, ia memutuskan untuk menggelar pernikahan adat Jawa. Untuk akad nikah, Sarah memilih adat Jogja dan menggenakan kebaya putih. “Kain kebaya ini saya beli sendiri, saya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kain tersebut. Menurut saya, akad nikah itu inti dari pernikahan, makanya saya ingin menjadikan momen ini sangat spesial dengan kebaya yang spesial juga yang saya request dengan sangat detail.”

Suasana akad nikah persis seperti yang diharapkan Sarah, hangat dan intim yang ditemani dengan dekorasi ruangan perpaduan warna pastel dengan kombinasi biru, ungu dan putih. Untuk acara resepsi diadakan di Hotel Bidakara dengan menggunakan adat Solo. Sarah dan Indra adalah anak pertama yang membuat para orang tua berani mengundang tamu dengan angka yang besar sehingga Hotel Bidakara yang dipilih untuk menampung 3000 tamu mereka.

Ternyata, Hotel Bidakara tak hanya mampu menampung 3000 tamu undangan, ia masih sanggup memberikan ruang kosong di tengah-tengah tamu untuk ber-flash mob. Ya, ternyata di tengah-tengah pesta, para sahabat Sarah memberikan kejutan dengan flash mob dance yang sukses membuatnya semakin berbahagia di hari besarnya.

Untuk resepsi, Sarah memilih sesuatu yang fun dengan pemilihan warna terang dengan kombinasi fuschia, hijau daun dan ungu tua dan menekankan konsep intim dan hangatnya dengan tema kebun yang dipenuhi dengan bunga-bunga cantik dengan ditemani cahaya lampu yang sedikit redup. Ia juga menyiapkan banyak bench dan kursi untuk para tamu. Ia tidak hanya menyiapkan dekorasi, namun juga berani mengubah tata letak panggung menjadi di dekat pintu masuk. Menurutnya, supaya ruangan lebih luas dan berbeda dengan yang lain. “Dari dulu saya suka cari tahu tentang pesta pernikahan, jadi waktu menentukan konsep, dekor dan semuanya, saya sudah tau mau saya dengan spesifik.”

Ternyata, risetnya selama beberapa bulan untuk mewujudkan pernikahan impiannya ini membuahkan hasil yang maksimal. Ia mengetahui dengan jelas dan spesifik apa yang ia mau. Bahkan ia tak pernah lepas dari setiap detail pernikahannya, mulai dari pemilihan warna bunga, jenis bunga, dan kombinasi warna untuk dekorasi, dan yang lainnya sehingga semuanya lengkap sesuai keinginannya.

Pesan Sarah, “Banyak-banyaklah research! Saat kita sudah tau vendor mana saja yang kemungkinan besar akan kita pakai dan konsep yang kita mau, semua akan berjalan lebih mudah dan efisien.”

Top 3 Vendors pilihan Sarah:

1. Soe and Su Photographer

“Mas Candi dan Heince sangat membantu dan baik sekali terhadap kami.”

2. Gaia Nata Decoration

“Tante Ina sangat-sangat sabar menghadapi mulut bawel saya yang banyak mau tapi juga masih dengan senang hati membantu saya”

3. Amaya Wedding Organizer

“Syita dan team nya yang sangat-sangat spektakuler mengatur semua jalan nya acara dari A – Z, saya sangat puas!”

×