Homey Engagement with a Touch of Bataknese by Nadhira & Pasha

By Pravita Hapsari on under The Engagement

Homey Engagement with a Touch of Bataknese by Nadhira & Pasha at Cafe 33 Mirasari, Kemang Jakarta

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Restaurant

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Cafe 33 by Mirasari, Kemang

Event Styling & Decor Nona Manis Creative Planner

Photography Mindfolks

Make Up Artist Ayura

Hair Do Marcel MUA

Catering Cafe 33 by Mirasari, Kemang

Bride's Attire Dona Nasution

Florist Malya Vedana by Dinarda

Seserahan Lelur Seserahan

Masih berhubungan dengan seseorang sejak lama tapi komunikasi on-off dan tidak pernah ada kejelasan? Siapa tau dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk siap menjalin hubungan yang serius. Seperti Nadhira dan Pasha, walaupun mereka sudah berkenalan sejak lama tapi ternyata mereka baru pacaran selama 6 bulan dan langsung memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius. Seperti apa ceritanya yuk kita simak!

Mereka pertama kali bertemu karena dikenalkan oleh sahabat kuliah Nadhira yang juga sahabat SMA Pasha. Pasha tinggal di Singapore dan Nadhira tinggal di Jakarta membuat mereka hanya beberapa kali chat via Line. Beberapa bulan kemudian mereka pun bertemu di PIM untuk pertama kali dan sayangnya date pertama ini tidak berjalan dengan lancar. Dengan background yang berbeda, membuat mereka sulit mencari topik obrolan dan terasa sangat canggung.

Setelah putus kontak selama 2 tahun, akhir 2016 tiba-tiba Pasha menghubungi Nadhira yang sedang internship di Belanda. “Aku sebenernya udah males banget dengan ketidakjelasan dia. Dan berasa akrab banget nitip oleh-oleh. Tapi berhubung dalam hati masih penasaran (dan sedang sama-sama single), akhirnya aku meng-iya-kan ajakan dia untuk bertemu waktu kita sama-sama di Jakarta,” cerita Nadhira.

Saat mereka bertemu kembali, Nadhira merasa Pasha sudah sangat berubah dan terlihat kalau Pasha punya niat yang serius sama dia. Benar-benar beda sampai Nadhira nggak bisa kalau nggak “naksir”. Ternyata jika dikulik lebih dalam, mereka memiliki banyak interest yang sama, misalnya pada alat musik orkestra dimana Nadhira bermain flute dan Pasha dengan saxophone-nya.

Setelah jadian, Pasha pun akhirnya cerita banyak. Ternyata pertemuan di PIM sebenarnya bukan pertama kalinya kami bertemu. “Dia sudah pernah ketemu aku 7 tahun lalu, waktu dia iseng main ke FKUI (kampusku) dan dia lihat aku sedang ngobrol dengan sahabatnya. Kenapa baru sekarang serius? He said he was sure that someday he will end up with me, tapi saat itu dia belum siap berkomitmen. Ketika akhirnya dia sudah matang dan yakin ga mau main-main lagi, akhirnya barulah dia beneran maju dan menyatakan cintanya ke aku,” kata Nadhira.

 

Keseriusan Pasha tidak berakhir sampai situ, baru beberapa bulan bersama saja Pasha sudah membahas seputar pernikahan. Nadhira sebenarnya termasuk tipe orang yang tidak mau menikah cepat. Baginya banyak ambisi yang harus diselesaikan sebelum menikah, sehingga targetnya menikah itu di umur 27 atau tahun 2022). Tapi tiba-tiba, baru 6 bulan mereka jadian Pasha popped out the question dan mengajak aku untuk menikah.

“Siapa yang sangka, ternyata hanya butuh waktu 6 bulan saja sampai si cowok yang dulu gajelas ini nge-propose aku,” cerita Nadhira. Sekitar bulan Juli 2017, mereka berdua sempat ke Bali karena teman-teman Nadhira juga sedang berlibur dan Pasha menyusulnya. Pasha pun mengajak Nadhira untuk makan di Kupu Barong, Ubud. Lalu mereka berdua diantar ke bagian paling atas resto dan satu-satunya private bird nest disana yang sudah direservasi sebelumnya.

Pasha pun sempat gelisah sejak mereka baru datang kesana, lalu ia memberikan kamera kepada pelayan resto dan mengingatkan untuk mengambil foto mereka berdua saat main course datang. Mereka berdua pun melihat ke arah pelayan untuk diambil fotonya, saat selesai dan Nadhira berbalik tiba-tiba Pasha sudah memegang kotak berisi cincin dan langsung mengucapkan “Will you marry me?”. Beberapa detik setelah itu, mereka berdua sama-sama tertawa ngakak. Bukannya terharu, respon pertama Nadhira justru tertawa dan salah tingkah karena Pasha bukan orang yang romantis. Niat romantic proposal pun menjadi gagal. Walaupun akan menikah 4 tahun lebih cepat dari apa yang direncanakannya, tanpa ragu sedikitpun Nadhira langsung jawab “I will!”

Persiapan Lamaran

Untuk konsep lamaran ini, mereka menginginkan suasana yang homey dengan sentuhan adat Batak (berhubungan ayah Nadhira berasal dari Sumatera Utara dan ingin memasukan nuansa Batak kedalam rangkaian pernikahannya). Berhubung rumah Nadhira yang tidak memungkinkan untuk dijadikan lokasi acara lamaran, ia pun memilih Cafe 33 by Mirasari di Kemang. Mereka jatuh cinta pertama kali dengan restaurant ini karena suasananya yang mirip sekali dengan rumah Nadhira. Terlebih lagi, restoran ini sudah berdiri sejak tahun 1980, sehingga sudah dikenal oleh keluarga mereka sehingga tidak kesulitan mencarinya.

Hal yang paling Nadhira suka dari lamaran ini adalah flower bouquet yang spesial dirangkai sendiri oleh sahabatku sejak 12 tahun lalu. Pemilihan Bunga yang sangat cantik dan berbeda dengan bunga-bunga yang seperti biasa dijual. Memang sebelumnya Nadhira sudah bilang kalau bouquet-nya harus anti mainstream  tapi cantik dan jangan ada bunga mawar. Dia tahu sekali Nadhira bukan flower person, tapi dia berhasil membuatnya jatuh cinta dengan bunga-bunga tersebut.

Dusty pink menjadi pilihan warna untuk acara lamaran mereka karena selalu tampak cantik ketika dipadupadankan dengan warna apapun. Nadhira mengombinasikan kebaya dusty pink dengan ulos turun temurun pemberian keluarga ayahnya berwarna ungu tua. Sedangkan Pasha, memakai kemeja tenun berwarna senada.

Kebaya dusty pink yang digunakan Nadhira ini adalah kebaya kedua yang dijahitnya setelah kebaya pertama gagal karena tidak sesuai ekspektasinya. Untuk kebaya keduanya ini ia membeli kain baru dan mempercayakan pada penjahit lain sampai jadi sesuai dengan keinginan Nadhira yang memakan waktu selama 3 bulan. Dengan saran orangtuanya, ia memilih model kebaya klasik dengan panjang sampai selutut agar modelnya tidak lekang oleh waktu dan terkesan formal. Detail kebayanya ini dipercantik dengan batu-batu svarovsky bernuansa pink dan ungu yang senada dengan ulos pada bagian dada dan lengan, sisanya ditempeli payet berwarna pink tua. Kebaya keduanya ini pun cantik sekali dan mendapat banyak pujian dari tamu yang datang.

Menurut Nadhira, hal yang paling krusial adalah dekorasi. Ia menginginkan dekorasi modern bertema dedaunan, tetapi tetap dengan unsur Batak di dalamnya. Setelah konsultasi dengan Nona Manis Creative Planner, akhirnya mereka pun menemukan konsep yang cocok. “Aku puas sekali dengan Nona Manis karena mereka terlebih dahulu mengirimkan desain dekorasi kepadaku dan baru akan dieksekusi ketika aku sudah benar-benar setuju dengan semua detailnya. Aku sangat senang melihat backdrop untuk photobooth, di mana merupakan gabungan antara dedaunan hijau, bunga-bunga cantik dengan warna putih, peach, dan dusty pink; dikombinasikan dengan dua helai ulos pemberian tanteku di sisi kanan dan kirinya. Tidak lupa ada inisial N P di tengahnya, dan ini adalah saran dari Nona Manis, padahal aku tidak pernah kepikiran sebelumnya karena awalnya aku pikir memakai inisial akan terlihat kurang elegan. Tapi ternyata aku suka sekali! Dan banyak yang memuji backdrop ini sampai-sampai hampir semua tamu ingin berfoto di sana,” cerita Nadhira.

Ada satu lagi hal cantik menurut mereka dari dekorasi ini adalah welcoming sign. Dekoratornya sangat kreatif karena bisa memadupadankan sebuah kaca bening dengan sehelai ulos di belakangnya, sehingga welcoming sign ini terkesan modern namun tetap bernuansa Batak seperti yang mereka minta.

Saat ditanya mengenai momen paling berkesan dalam pernikahannya ini adalah saat Pasha harus menebak suara mana yang merupakan suaranya – kalau sampai salah, artinya lamaran ditolak. Ada 3 suara, dan masing-masing dari mereka mengucap “Assalamualaikum” sementara Pasha harus menebak. Suara pertama adalah suara teman Nadhira dan Pasha yakin itu bukan dirinya. Suara kedua adalah suara Nadhira, dan suara ketiga adalah suara sepupunya. Dua suara terakhir membuat Pasha benar-benar bingung. Ia dengan panik beberapa kali meminta untuk diulang. “He took it too seriously sampai seluruh tamu tertawa melihatnya. Akhirnya aku pun berkata “Dut apa kabar” dan Pasha langsung yakin bahwa suara itulah yang merupakan suaraku,” kata Nadhira.

Tantangan yang dihadapi mereka berdua untuk mempersiapkan lamaran ini adalah waktu dan jarak. Mereka berdua yang tinggal diluar Jakarta membuat mereka agak kesulitan untuk mengatur jadwal yang pas agar bisa berada di Jakarta pada waktu yang sama. Selain itu, kami juga harus siap dengan banyak hal dadakan yang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Misalnya saja tambahan 50 kursi tamu yang tidak kunjung datang sampai H-5 jam lamaran, kebaya yang sempat gagal, dan banyak hal lain yang jangan sampai membuat kita stres dan lupa untuk bahagia.

Top 3 Vendor, menurut Nadhira:

  1. Mindfolks

“Yang paling aku suka dari Mindfolks, khususnya Mas Jack, adalah they took candid pictures – a lot! Bagiku foto-foto candid itu priceless banget, karena menggambarkan momen asli yang tidak dibuat-buat. Semua momen penting dan detail acara terdokumentasi dengan baik. Hasil foto dari Mindfolks menurutku sudah tidak perlu diedit lagi, karena raw photos nya saja sudah bagus banget.”

  1. Ayura

“Datang tepat waktu, dan durasi make up juga tepat waktu. Produk yang dipakai level atas banget, tapi harganya masih cukup affordable. Mba Ayura bisa mengerti tone dan tipe make up yang cocok untuk masing-masing wajah. Makeupnya soft, tapi cantik banget. Yang paling penting dia bisa bikin flawless tanpa harus mengubah wajahku.”

  1. Malya Vedana by Dinarda

“Mereka bukan sekadar asal merangkai, tapi mereka tahu betul nama masing-masing bunga dan bagaimana kombinasi yang cocok. Belum lagi pilihan bunganya banyak sekali, jadi color palette nya sangat beragam! Sehingga bisa benar-benar dicocokan dengan nuansa dekorasi atau warna kebayamu. Jadi untuk kamu yang clueless dengan bunga (seperti aku) tidak perlu takut karena Malya Vedana bisa sekali mewujudkan bunga yang kamu inginkan.”

Nadhira juga memberikan tips untuk pada brides-to-be dalam mempersiapkan acara lamaran yaitu “Sejak awal merencanakan lamaran, sebisa mungkin langsung membuat list yang detail mengenai apa saja yang perlu dipersiapkan. Mulai dari vendor yang harus dibooking, barang-barang yang harus dibeli, sampai rundown detail berisi jam, acara, dan PIC di dalamnya. Walaupun hanya lamaran, tetapi ternyata banyak juga tantangannya. Terlebih untuk kamu yang mempersiapkan dari jarak jauh, jangan segan untuk meminta bantuan keluarga dalam mempersiapkan acara ini. Harus banyak berkomunikasi dengan keluarga, sehingga mereka tahu sudah sejauh mana kita mempersiapkan dan apa yang dapat mereka bantu. Terakhir, jangan lupa berdoa agar acara dapat berjalan lancar dan sesuai dengan yang diinginkan.”