Intimate Engagement Party by Bulan & Fadhel

By NSCHY on under The Engagement

Intimate Engagement Party by Bulan & Fadhel

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Event Styling & Decor Niq's Project Decoration

Photography Dua Ritme

Make Up Artist Rozana Julani

Hair Do Fajri

Catering Akasya Catering & Co.

Others Tent by Kreasindo Tent

Others Coffee by Slatan

Others Soundsystem by Aku Sewa

Bertambahnya usia memang membuat pola pikir seseorang juga semakin matang. Kalau dulu zaman sekolah masih tren cari pacar, setelah lulus sekolah dan memasuki dunia karir, pola pikir untuk berpacaran sudah berubah maju menjadi hubungan berumah tangga.

Bulan dan Fadhel adalah dua orang teman lama yang sudah saling kenal sejak SMP. Dimulai dari teman bercerita, saat sudah dewasa, ternyata keduanya sama-sama menyadari bahwa sama-sama merasa nyaman dan cocok.

Nggak ada proses tembak-menembak, Fadhel langsung to the point bilang kalau dia malas pacaran kayak zaman SMA dan sudah niat serius untuk mencari calon istri.”

Karena sudah lama kenal, tidak sulit untuk mereka berdua untuk beradaptasi dan menyamakan pola pikir satu sama lain, “kurang lebih, kita pacaran satu tahun sampai akhirnya memutuskan untuk menikah.”

Pada saat itu, Fadhel bilang ke Bulan dia sudah merasa siap untuk melangkah ke tahap selanjutnya dan ingin bertemu orang tua Bulan untuk menyampaikan niat baiknya. Langsung, keesokan harinya, Fadhel datang ke rumah Bulan dan bertemu dengan orang tuanya. Namanya juga niat baik, pasti disambut dengan hal baik pula. Orang tua Bulan menyambut bahagia niat baik Fadhel tersebut.

Awalnya, Bulan mengira bahwa itu cara Fadhel untuk melamarnya. Tapi ternyata tidak.

Sebulan setelah momen tersebut, saat Fadhel dan Bulan sedang berada di Bali untuk menghadiri acara pernikahan teman mereka, Fadhel menyiapkan suatu hal romantis untuk menyatakan keseriusannya.

“Waktu itu, dia maksa aku untuk ke pantai. Dia bilang kalau langitnya lagi bagus dan kita harus ke pantai sekarang. Pas sampai di pinggir pantai, Fadhel maksa aku untuk menghabiskan minumku secepatnya. Ternyata, di dalam minuman itu ada cincinnya. Aku bener-bener kaget sampai nangis.”

Acara lamaran dengan dominasi warna cokelat dan merah tersebut akhirnya terlaksana dengan khidmat dan juga hangat, apalagi saat momen pemakaian songket yang diberikan oleh Ibunda Fadhel kepada Bulan sebagai tanda pengikat.

Soal dekorasi, Bulan dan Fadhel hanya menginginkan perpaduan warna merah, peach dan putih serta dedaunan untuk menghiasi acara lamarannya. Untuk memberikan kesan ruangan yang lebih luas, Bulan dan Fadhel mengikuti saran Mba Niken untuk menambahkan partisi cermin-cermin di sekitar ruangan.

Sedangkan, untuk pakaian, Bulan memilih sesuatu yang sederhana di bagian depan, namun dengan detail di bagian belakang, “meski H-3 bajunya masih kebesaran dan masih banyak yang harus diperbaiki, tapi dalam waktu yang super mepet, semuanya keburu.”.

Tentunya, tiga minggu bukanlah waktu yang panjang untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan lamaran ini, terutama karena disiapkan sendiri.

“Awalnya, sejak menetapkan hari ini, kita kira semuanya bisa ditangani karena masih ada waktu dua bulan, tapi aku lupa memperhitungkan bulan puasa dan libur lebaran yang cukup panjang. Akhirnya, seluruh persiapan baru efektif H-21. Bahkan, hampir semua vendor baru deal H-10.”

Setiap momen punya ceritanya masing-masing. Dalam momen lamaran ini, Bulan merasa tersentuh saat Fadhel berbicara di depan seluruh keluarga besar, meminta izin untuk melamarnya, “aku nggak nyangka kalau Fadhel bisa ngomong gitu di depan keluarga besar karena dia orangnya suka becanda dan jauh dari kata romantis. Yang aku ingat, Fadhel bilang, ‘aku datang ke sini dengan tangan kosong, karena semua yang aku bawa hanya titipan dari Allah, kecuali cinta yang iklhas kepada kamu, niat yang baik untuk ibadah kepada Allah bersama-sama, dan tekad yang kuat untuk membimbing kamu menjadi seorang wanita yang solehah di mata Allah, anak yang berbakti kepada orang tua, dan wanita yang disegani serta dihormati oleh teman-temannya.’.”

Bagi Bulan dan Fadhel, rasanya sulit memilih vendor yang terbaik karena semuanya sangat profesional dan kooperatif untuk menyempurnakan acara lamarannya, mulai dari Mba Ocha (@rozanajulani) yang sudah membantu make up dan berhasil membuat Bulan mendapat banyak pujian, lalu ada Mas Fajri (@fajrinewsalon) yang sudah mendandani bagian rambut Bulan yang bahkan membuat dirinya sendiri pangling. Lalu ada Mba Niken dari Niqs Project (@niqsproject) yang sudah berkreasi dengan dekorasi, bahkan sampai dikira seperti acara akad nikah saling bagusnya. Lalu, ada Mas Wihdi dari Kreasindotent (@kreasindotent) yang siap sedia menyiapkan permintaan last minute, Tim Akasya (@akasyacateringandco) yang sudah menyiapkan makanan super nikmat dan servis yang profesional, Mas Guruh dari Aku Sewa (@akusewa) yang sudah mau direpotkan dengan last minute booking, Tim Slatan Coffee (@slatan150) yang sudah menyediakan custom bottle untuk lamaran ini. Serta ada Mas Abi dari Dua Ritme (@duaritme) yang sabar mengarahkan saat sesi foto.

Tips untuk brides to be,

“Untuk brides to be di luar sana yang lagi menyiapkan acara lamaran yang lumayan mepet kayak aku, triknya cuma satu, yaitu tenang. Percayalah kalau semuanya akan beres tepat waktu. Kamu hanya perlu bikin list prioritas dan vendor-vendor yang harus kamu kejar duluan. Jangan lupa cari back up plan kalau vendor pilihan kamu ngga tersedia, at least punya dua cadangan pengganti. InsyaAllah, kalau tenang dan sudah punya daftar prioritas, pasti selesai kok. Jangan dibawa panik karena pasti ada jalannya sendiri, dan jangan lupa banyak berdoa.”

×