Martin Civita Intimate Garden Wedding Ubud Bali

Intimate Garden Wedding di Ubud ala Martin dan Civita

Style Guide

Venue Outdoor

The Vendors Who Made This Happen

Holy Matrimony
Wedding Reception

Martin dan Civita pertama kali bertemu pada sebuah acara gereja sekitar 2012 lalu. “Kami belum ngobrol, hanya berkenalan saja,” ujar Civita memulai kisahnya. “Besoknya, aku diajak saudara sepupuku ke rumah teman dekatnya. Di sana sedang ada acara dinner rame-rame. Ternyata, Martin juga datang.”

Di acara tersebut, mereka pun sempat mengobrol sebentar. Setelah malam itu, Civita berangkat ke London untuk mengambil sisa barang-barangnya serta mengurus beberapa hal. Sebelumnya, ia memang kuliah dan bekerja di London selama 7 tahun.

“Jadi, itu masih dalam masa penyesuaian. Setelah 3 bulan, aku balik lagi ke Jakarta. Aku bertemu kembali dengan Martin di acara gereja. Kali ini, ia mulai mengajak aku untuk makan siang bersama,” kenang Civita. Itulah awal mula kisah jadian mereka. Tiga tahun berlalu, mereka memutuskan untuk menikah.

Konsep Pernikahan

Martin dan Civita sama-sama menyukai kegiatan travelling. Mereka berdua pun suka segala sesuatu yang berhubungan dengan nature. Khusus Civita, ia mengaku sangat menyenangi anything related with real wood.

Karena itu, mereka menggunakan konsep pernikahan yang bersentuhan dengan alam. Begitu pula untuk wedding ring yang custom-made, ada guratan-guratan kayu (tree bark) di sana. “Selain itu, pemilihan pakaian untuk best man dan bridesmaid juga lebih santai.”

Hal yang paling berkesan bagi Civita pada momen persiapan wedding ini adalah keterlibatan teman-teman dan saudara mereka. “Aku nggak pakai WO profesional. Yang jadi WO adalah teman-teman kami. Ada yang dari Jakarta, ada juga dari Bali. Untuk musik, teman kami sendiri yang menyanyi. Begitu pula pemain musik dan MC. Bahkan, untuk katering, dimasak oleh teman mamaku yang sudah seperti saudara sendiri.”

My brother made the dessert for us. Almost all of our friends and family help us. Meskipun total guest hampir 80 orang, tamu sebenarnya hanya 50 orang. Selebihnya adalah teman atau saudara yang membantu acara wedding kami. Jadi, wedding kami very intimate, not so many people and we know everyone there and very relax. We really love it. Tanpa kehadiran mereka, acara wedding ini nggak akan seperti sekarang. So we are really grateful for them that they make time for our special day.”

Acara pernikahan yang digelar di ruangan terbuka ini mengusung konsep nature, green, white, rustic, dan bohemian tropical. Untuk holy matrimony, ada meja altar yang simple dengan wedding arch macrame. Sementara itu, untuk wedding reception, area holy matrimony diubah, dari bench menjadi meja-meja dengan carpet sebagai alas duduk. Tersedia pula bantal-bantal sehingga tamu bisa makan dan duduk dengan santai.

Venue dan Wedding Dress

Venue yang dipilih oleh Martin dan Civita untuk melangsungkan acara spesial ini adalah Villa Kelusa. Ia menyebutkan, lokasi villa ini sangat bagus karena menghadap ke lembah. “Kalau langitnya bersih, kita bisa melihat gunung dari situ. Very nice view dan juga nggak sepanas di daerah pantai.”

Untuk wedding dress, Civita tidak langsung bisa mendapatkan ide yang cocok. Ia mengaku memang tidak begitu memahami seluk-beluk fashion. “Setelah di-propose 3 bulan, I still have no idea what kind of dress that I want to wear. Padahal, orang-orang bilang when you want to get married, you will know what kind of dress you want to wear it. Yang ada di pikiranku adalah dress yang simple, nggak panas, dan gampang kalau dipakai untuk berjalan.”

Akhirnya, ia meminta temannya, Claudya dan Valerie, pemilik Vintage Treasure Bali, untuk menolongnya mencari motif kain serta desainnya. “They really know how to design the dress to suit my personality.”

Top 3 vendors menurut Civita:

1. Vintage Treasure Bali

“I love the design karena sesuai dengan personality-ku”

2. Tessy Penyami

We love her pictures karena bisa memotret kami secara candid, nggak hanya yang pose aja. Apalagi buat aku, personally lebih suka foto candid dan Tessy adalah best photographer untuk itu. Jadi, foto-fotonya lebih real dan also really capture the moment. Love it!”

3. Sweetbella Project

“Dengan 2 kali meeting saja, mereka bisa mengerti apa yang aku mau. Walaupun waktunya minim, hasilnya sangat excellent.”

Highlight acara pernikahan ini menurut Civita adalah pada saat gratitude for parents.

I broke down into tears when I say thank you to my grandmother. I spent a lot of time with her when I was little and she always support me and encourage me everytime when I was down.”

Selain itu, ia juga terkesan dengan isi vow-nya Martin yang intinya berbunyi, “Martin berjanji untuk nggak banyak janji.”

Nah, untuk para brides to be, Civita memberikan beberapa tips, yaitu:

  • Selalu berdoa agar semua berjalan dengan lancar.
  • Selain fokus untuk persiapan wedding, fokus juga pada relationship selama persiapan wedding dan seterusnya. Wedding is only a day event, marriage is for a lifetime.
  • Be yourself. For me, it’s really important to wear a comfortable dress and shoes and also make up yang natural sesuai dengan personality kita serta tidak berlebihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *