Javanese Mixed Minang Wedding by Alana & Harvi

By NSCHY on under The Wedding

Javanese Mixed Minang Wedding by Alana & Harvi at ICE BSD

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Event Styling & Decor Farah Decor

Make Up Artist Laode Yusuf

Hair Do Paes by Nani Nazeh

Photography Mindfolks Wedding

Bride's Attire Rumah Kebaya

Wedding Organizer Promessa Weddings

Seserahan Seserahan Indonesia

Master of Ceremony Fadli Rahman

Wedding Reception

Venue Indonesia Convention and Exhibition

Event Styling & Decor Azka Anggun Art

Photography Mindfolks Wedding

Make Up Artist Laode Yusuf

Hair Do Putisarah

Bride's Attire Putisarah

Wedding Organizer Promessa Weddings

Invitation Book Idea

Wedding Entertainment Svasana Entertainment

Master of Ceremony Fadli Rahman

Others Usher by The Einhardt

Love at the first sight, itu kalimat yang tepat untuk kita,” cerita Alana. Acara komunitas kampus yang membuka jalan untuk mereka menjadi lebih dekat dan sering menghabiskan waktu bersama, bahkan, pulang dan curhat bareng sudah menjadi kebiasaan. Sampai akhirnya, Alana dan Harvi melangsungkan pernikahan dengan tema Javanese Mixed Minang Wedding by Alana & Harvi. Simak ceritanya dibawah ini!

Waktu itu, Alana dan Harvi sudah memiliki pasangan masing-masing, sudah kenal dengan pasangan masing-masing, dan tau kisah cinta masing-masing. Tiga tahun berlalu, mereka berpisah dengan pasangan masing-masing dan menghabiskan waktu galau bersama.

“Karena kita sering menghabiskan waktu bersama, tiba-tiba Harvi nanya, ‘Al, kalau gue deketin lo, boleh nggak? Gue izin dulu karena kita udah temenan banget, gue nggak mau nanti jadi friendzone,’ yang aku jawab dengan ‘silakan’.” cerita Alana.

Singat cerita, di usia hubungan ke dua tahun, mereka harus menjalani LDR Malang – Jakarta selama 2 tahun. Di tahun keempat, saat Alana sudah menyelesaikan studinya, dan mendekati momen sumpah dokternya, Harvi dan keluarga Alana datang ke Malang. Di momen itu juga, Harvi, Alana dan adiknya jalan-jalan sekitar kota Malang. Katanya, Harvi mau jalan-jalan sekitar kampus untuk nostalgia.

“Saat tiba di bundaran tengah kampus, kita nggak sengaja ketemu teman yang memang seorang fotografer. Lalu dia bilang ingin mengambil foto kita bertiga, tapi baru beberapa menit foto-foto, tiba-tiba sudah banyak temanku berbaris sambil membawa balon bertuliskan ‘Marry me’, dan Harvi berlutut di depanku sambil membawa cincin. Aku dilamar. Rasa haru luar biasa nggak bisa aku tutupi karena beberapa minggu sebelumnya, Harvi bilang kalau rencananya dalam membina rumah tangga masih dalam 2-3 tahun lagi.” cerita Alana.

Keesokan harinya, Harvi menemui orang tua Alana untuk meminta izin menikahinya. Reaksi orang tua Alana seakan sudah mengetahui apa yang akan terjadi dan bercerita, “inilah yang terjadi 27 tahun lalu, saat bapak sudah kerja di Jakarta dan ibu masih kuliah di Malang. Bapak datang untuk mendatangi wisuda ibu, sekalian melamarnya, di kota ini, sama seperti cerita kalian, berteman bertahun-tahun, menjalani LDR, dan akhirnya menikah,” cerita sang ayah.

Soal pertemuannya, Alana juga mendapatkan cerita unik dari nenek Harvi, katanya, di hari pertama OSPEK sewaktu kuliah dulu, Harvi pernah cerita kepada neneknya bahwa ia melihat mahasiswi kedokteran yang menurutnya cantik. Beberapa tahun kemudian, sang nenek cerita bahwa Harvi mau mengenalkan perempuan tersebut kepadanya, dan orang itu adanya Alana.

Sejak melihat foto-foto pernikahan orang tuanya, Alana semakin ingin mengenakan sunting di hari pernikahannya, yang juga ditambah dengan momen siraman. Untuk bisa memiliki kedua hal tersebut, diputuskanlah untuk menggunakan adat Jawa untuk acara pranikah seperti siraman dan midoradeni, sedangkan adat Minang untuk akad dan resepsi, “kebetulan, keluarga Harvi juga berasal dari Minang dan Jawa, dan orang tuanya juga mengenakan adat Minang di resepsi pernikahannya,” cerita Alana.

Sama seperti momen siraman lainnya, di acara itu, Alana dimandikan oleh orang tua, nenek, dan orang-orang yang dituakan di keluarganya  yang dilanjutkan dengan acara Dodol Dawet dan pelepasan ayam dara dan Dulangan. Malam harinya, Midodareni dilaksanakan.

“Rasanya excited membayangkan Harvi akan datang ke rumah bersama keluarganya, tapi sayang, aku nggak bisa ketemu, bahkan mendengar suaranya karena aku hanya boleh berdiam diri di kamar. Kita dipingit selama 7 hari menjelang pernikahan, dan tidak berkomunikasi 2 hari menjelang hari H. Beberapa saat kemudian, orang tuaku menanyakan kesiapan dan keyakinanku untuk menikah keesokan harinya, dan kemudian, keluarga Harvi juga masuk untuk melihat keadaanku,” cerita Alana.

Alana mengenakan adat Jawa Solo dalam acara akad nikah keesokan harinya yang diadakan di rumahnya agar terasa sakral dan hangat karena diadakan di rumah sendiri. Setelah akad nikah, mereka menggelar acara Panggih.

“Momen akad nikah sangat berkesan karena benar-benar deg-degan rasanya mendengar ijab kabul dari dalam rumah, dan lega akhirnya sah dan bisa bertemu dengan Harvi,” kata Alana.

Pada malam hari, acara dilanjutkan dengan resepsi yang menggunakan adat Minang. Seperti yang sudah-sudah, acara adat Minang sangat meriah dengan perpaduan warna merah, rose gold, peach dan champagne, yang menurut Alana eye catching namun tetap manis.

Bagi Alana dan Harvi, mempersiapkan pernikahan di tengah-tengah kesibukan masing-masing menjadi sebuah tantangan tersendiri, dan membuat mereka jadi lebih sensitif. Karena kesibukan masing-masing, justru mereka yang lambat membalas komunikasi dengan vendor, tapi mereka bersyukur, bisa melewati semuanya, dan bisa mempersiapkan semua kebutuhan berdua, dan membagi tugas dengan baik.

“Karena sudah mantap dengan konsep, dari awal, kita hanya butuh menentukan vendor terbaik. Kita sempat bingung karena takut paes Jawa yang aku kenakan saat akad nikah akan berbekas saat mengenakan sunting pada waktu resepsi, tapi untungnya, dengan waktu yang cukup, paesnya bisa dihapus sampai bersih,” cerita Alana.

Top vendors:

1. Promessa Wedding

Wedding organizer atau planner memang vendor pertama yang kita cari. Dengan kesibukan kita, kita merasa harus mencari WO terbaik. Mas Tama ramah, memberikan penjelasan dengan sabar, dan usianya pun tidak terlalu jauh dari kita, makanya kita merasa cocok. Selama persiapan, Promessa sudah menjadi seperti 911 bagi kita. Pernah suatu hari kita bingung memilih vendor lain, keesokan harinya, Promessa langsung mengatur waktu bertemu kita untuk mencari solusi bersama. Kapanpun kita galau atau bingung, tim Promessa akan menelepon, yang membuatku merasa sangat tenang. Saat hari H, seluruh kru Promessa benar-benar ramah dan menenangkan, keluarga pun juga bilang begitu. Tanpa perlu dipantau, semuanya beres. Bahkan, karena masih seumuran, Harvi juga sering main game online dengan tim Promessa.”

2. Mindfolks Wedding

Mindfolks juga menjadi salah satu top vendor di pernikahan kita, mulai dari lamaran, semua hasil foto-foto Mindfolks sangat bagus. Apalagi Bang Jack, Mas Rulli dan yang lainnya bisa mencairkan suasana, jadi ekspresi kita di foto terlihat natural. Saat mati gaya, Bang Jack bisa mengarahkan, disaat tegang, Mas Rulli bisa ngelawak. Semua pujian dan terima kasih juga datang dari keluarga untuk Mindfolks!”

3. Laode Yusuf

“Kak Ode berhasil menyulapku menjadi manglingi. Bahkan, sampai sekarang, masih banyak pujian yang aku terima, karena menurut orang-orang, aku benar-benar terlihat berbeda di hari pernikahanku. Yang membuatku salut, walaupun Kak Ode sudah menangani banyak klien, namun dia tetap rendah hati dan ramah sekali. Kak Ode mau mengikuti keinginanku dan bisa mewujudkannya.”

4. Azka Anggun Art

“Azka Anggun adalah top vendor bagi orang tua kita. Aku dan Harvi memang tidak banyak meminta, kita hanya menyampaikan konsep yang kita mau dan menyampaikan nuansa resepsi kita adalah merah, dan tidak mau sesuatu yang terlalu ngejreng. Kita baru lihat pelaminan pada saat kirab, dan hasilnya benar-benar luar biasa! Perpaduan warna merah, champagne dan sedikit bagonjong, dan ornamen Minang ada di pelaminan. Semua keluarga dan kerabat memuji dekorasi ini.”

Tips untuk brides to be:

“Untuk bride to be, mempersiapkan pernikahan memang cukup membuat stress dan melelahkan. Bertengkar dengan pasangan atau keluarga itu wajar, tapi yang perlu selalu diingat adalah, akan ada hal indah terjadi setelah semua kelelahan ini selesai. Stress dan lelah akan terbayar saat melihat rangkaian acara dan semuanya bahagia. Bahkan, setelah acara selesai, kita akan melupakan rasa-rasa negatif yang ada, dan yang tertinggal hanyalah perasaan bahagia dan puas karena acaranya berjalan lancar.”

×