Javanese Wedding at Amanusa Bali

By Rebebekka on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah & Wedding Reception

Venue Amanusa Hotel Bali

Event Styling & Decor Akar Daun

Photography The Good Guys Pictures

Bride's Attire Carmanita

Make Up Artist Darwyn Tse

Pemandu Adat Hias Rias

Pernahkah terbayang olehmu menikah dengan teman masa kecil kita? Bagaimana juga repotnya mengurus pernikahan di tempat yang jauh dari tempat tinggal kita dan seperti apa serunya pernikahan di pinggir pantai yang hanya dihadiri oleh orang terdekat? Simak cerita tentang Nikita dan Ari berikut ini ya, brides!

“We’ve known each other since I was a baby!” jawab Nikita ketika ditanya tentang pertemuan pertamanya dengan Ari. Rupanya keluarga Nikita dan Ari sudah saling mengenal mulai dari kakek dan nenek mereka. Bahkan keluarga mereka sering melakukan trip keluarga bersama. Di masa kecilnya, Nikita yang berteman dengan Tizka, adik Ari, menganggap bahwa Ari merupakan kakak bagi mereka berdua. Pada tahun 1999 Ari pindah ke Sydney untuk sekolah dan kemudian di tahun 2005 Nikita pun pindah ke kota yang sama untuk kuliah. Walaupun sama – sama tinggal di Sydney, mereka tidak intens bertemu. Sampai suatu ketika, saat orangtua Nikita datang ke Sydney dan mengadakan acara di rumah Nikita, Ari datang dan bertemu Nikita. “Di acara ini aku baru pertama kali benar – benar ngobrol sama dia tentang banyak hal. We really getting to know each other as who we are, di luar hubungan kita yang dulu hanya sekedar teman keluarga. Sejak hari itu kita nggak berhenti ngobrol deh,” cerita Nikita bahagia.

Mereka berdua memiliki kesamaan hobi yaitu travelling. Semasa pacaran mereka banyak melakukan perjalanan bersama, salah satunya ke Jepang. Ketika itu Nikita mengajak Ari untuk mengunjungi Naoshima Island yang terkenal akan gedung – gedung arsitek yang artistik dan satu karya art Yayoi Kusama yaitu “Pumpkin” . Perjalanan menuju Naoshima Island tidaklah mudah dan melelahkan, namun Ari dengan senang hati menemani Nikita yang berprofesi sebagai arsitek untuk melihat – lihat hasil karya arsitek favorit Nikita di pulau tersebut. Walapun Ari sempat nyeletuk kepada Nikita “jadi kita jauh – jauh ke pulau ini cuma buat liat pumpkin?”. Tahun 2014 mereka kembali ke Jepang dan Ari semangat mengajak Nikita mengunjungi Naoshima Island. “Malam itu kita mau dinner di salah satu restoran. Saat sedang jalan ke arah restoran Ari mengajak melihat pumpkin. Setibanya di depan pumpkin, tiba – tiba dia berlutut! Lucunya, dia lupa bawa cincinnya. Jadi sebenarnya dia tidak ada rencana untuk melamar pada saat itu. He just felt that it was the perfect moment when he saw the pumpkin. So I got a temporary key-ring instead. Setelah selesai dinner, dia baru kasi cincinnya. Dia bikin sendiri cincinnya, dipotong dari metal tube! I’m an occasional jeweler, so to get a ring that he made himself was the romantic thing ever!” kenang Nikita.

Nikita dan Ari pun mempersiapkan pernikahannya yang mereka adakan di Bali. Bali mereka pilih sebagai lokasi pernikahan dengan alasan agar memudahkan para tamu yang hadir dari Jakarta dan Sydney. Konsep pernikahan mereka yang simpel dan santai membuat mereka mantap memilih Amanusa Bali yang sudah sangat cantik tanpa perlu banyak dekorasi sebagai venue pernikahan mereka. Tantangan terbesar dalam persiapan pernikahan bagi Nikita dan Ari adalah jarak. Mereka berdua menetap di Sydney sedangkan keluarga berada di Jakarta dan lokasi pernikahan di Bali. Nikita mengaku bahwa mereka menyerahkan sepenuhnya persiapan pernikahan pada keluarganya. “Mereka yang sibuk kerjasama dengan tim vendor, kita berdua update info via Skype. Masalah busana dan make up kita ambil jalur nekat tetapi sudah percaya. Dari dulu aku suka dengan Carmanita, jadi kita hanya sms-an saja untuk diskusi masalah busana. Ukur badan dari jarak jauh dan fitting serta tes make up hanya 2 minggu sebelum hari H. Untung semuanya cocok. We were both pleasantly surprised to end up with something beyond expectation,” cerita Nikita.

 

Mereka mengusung adat Jawa dan Sunda dalam pernikahan mereka yang dihadiri oleh 200 tamu undangan dari kalangan saudara dan sahabat terdekat. Diawali dengan siraman yang dilakukan di lokasi yang sama namun bergiliran. Nikita melakukan siraman dengan adat Jawa sedangkan Ari dengan adat Sunda sesuai dengan background keluarga masing – masing. Orangtua Nikita dan Ari pun melakukan prosesi menjual dawet dan kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ngeuyeuk Seureuh yang digabung dengan acara Midodareni.

Hari berikutnya Nikita dan Ari melakukan prosesi akad nikah dan Panggih di siang harinya. Acara pun masih berlanjut hingga malam hari. Mereka menyiapkan beach party untuk penutupan perayaan pernikahan mereka. Semua yang hadir dibebaskan untuk memakai busana yang casual dan tidak beralas kaki karena acara diadakan di pantai. Nikita dan Ari menyiapkan satu meja sepanjang 50 meter! Meja ini memuat 200 tamu yang hadir dan disuguhi makanan Indonesia dari stall – stall yang tersedia. Beruntung Nikita memiliki sepupu seorang talented singer yaitu Sashi Gandarum yang didaulat untuk menghibur para undangan bersama DICE band.

Nikita ingat ketika hari menjelang pernikahan, seorang teman berpesan kepada Nikita dan Ari. Nikita merasa pesan ini penting untuk diteruskan kepada semua brides to be, Do not forget to enjoy the moment. Step back every now and then to look around you and capture the memories in your heads. It will be over before you know it”. Itu sebabnya ketika tim The Bride Dept menanyakan highlight dari acara pernikahan mereka, Nikita pun menjawab “We both felt that every single moment throughout the wedding days were our favourite moments. The smiles, the laughter, the happy tears. The blue sky, the sun, the breeze. The music, the conversations, and the wishes each person whispered to us. It was the happiest day of our lives.”

Top 3 Vendors pilihan Nikita :

1. Amanusa and Akar Daun

They were amazing in turning the already beautiful venue into an even more magical place. Mulai dari area villa untuk hari pertama sampai ke lobby dan taman untuk Akad dan pantai di malam hari. Komunikasi dari masa persiapan sampai hari-H nya juga sangat bagus, sigap dan teliti.

2. Carmanita

She was unbelievable, to be able to turn conversations and ideas via text messages into a collection of beautiful attires for all the events. Dari awal aku memang mau sesuatu yg aku bisa pakai kembali. Hasilnya semua attire-nya dari Ngeuyeuk Seureuh/Midodareni, Akad dan Beach party bisa kita pakai kembali dan sesuai dengan selera.

3. Darwyn dan Ibu Lie

“Darwyn hebat banget. Aku nekat karena baru pertama kali ketemu dan test make-up 2 minggu sebelum hari H. Aku memang nggak terlalu suka di make up apalagi terlalu tebal. Jadi aku minta senatural mungkin. Saat sesi test make up aku sudah merasa nyaman. Darwyn has this interesting approach of putting on make up as if he was painting, karena latar belakangnya dia sebagai pelukis. Ibu Lie dari Hias Rias yang mengerjakan paes juga sangat tenang, kalem dan santai dan membuat aku merasa tenang. Mereka berdua tim yang sangat baik.