Jessica dan Erlangga: Acara Lamaran Hangat yang Sarat akan Budaya Jawa

Style Guide

Color Brown Red

The Vendors Who Made This Happen

Buat kamu yang sudah nonton film Critical Eleven yang sempat tayang di bioskop-bioskop di Indonesia beberapa waktu yang lalu, kamu pasti tahu cerita kehidupan Ale dan Anya yang berasal dari dunia yang berbeda, namun dipertemukan oleh destiny. Cerita Ale dan Anya ini mungkin bisa dibilang serupa dengan kisah cinta Jessica dan Erlangga yang keduanya berasal dari dua dunia yang berbeda, namun dipertemukan oleh destiny. Mau tahu kisah lengkapnya? Yuk langsung aja simak ceritanya disini!

Meskipun sempat sama-sama kuliah di Institut Teknologi Bandung, Jessica dan Erlangga tidak saling mengenal di masa kuliah karena memang mereka berasal dari fakultas yang berbeda. Jessica di Fakultas Seni Rupa dan Desain, sedangkan Erlangga di fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Kedekatan mereka justru bermula saat masing-masing sudah mulai bekerja, Erlangga bekerja di Delta Mahakam yang berlokasi di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, dan Jessica bekerja di Jakarta sebagai seorang Brand Consultant. Menjalani hubungan LDR tidak pernah jadi penghalang bagi mereka berdua untuk tetap menjaga komunikasi. Menurut Jessica, jarak yang jauh justru membuat mereka menjadi lebih kreatif dalam mencari cara untuk tetap rutin berkomunikasi. Apabila sinyal hilang atau pesan WhatsApp tidak kunjung terkirim, Jessica seringkali membuat puisi yang ditujukan untuk Erlangga agar dapat dibaca ketika sinyal sudah ada. Berikut sedikit kutipan puisi Jessica yang dibuatnya untuk Erlangga..

Ku kirim rangkaian kata cinta buatanku sendiri.

Kukirim melalui hati.

Kadang telepati

Karena signal telepon mungkin kadang ingkar janji

Tapi yang ku tahu, signal hati tak pernah mati.

“Lawakan garing, diskusi mengenai hal yang tidak penting mengenai konspirasi alam semesta, pesan yang pending karena signal hilang dan quality time yang seru antara Kota Jakarta dan Bandung menjadi saksi kisah dari perjalanan cinta kami,” kenang Jessica.

Dua tahun menjalani hubungan LDR Jakarta – Balikpapan tidak pernah mengurangi keseriusan Jessica dan Erlangga untuk serius menjalani hubungan mereka. Menurut Jessica, hubungan LDR yang mereka jalani cukup seru dan tidak pernah terasa membosankan. Serunya lagi, sebenarnya hubungan mereka bisa disebut sebagai hubungan semi LDR karena Erlangga bekerja di perusahaan yang memiliki jadwal dua minggu onsite dan dua minggu off, jadi setiap bulan Jessica dan Erlangga memiliki waktu dua minggu untuk menghabiskan waktu bersama, dan itu mereka gunakan untuk sebagai waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Sejak pertama kali berkomitmen untuk menjalani hubungan, Jessica dan Erlangga memiliki tujuan yang sama, sehingga hubungan semi LDR yang dijalani tidak terasa berat dan dapat dijalani dengan santai namun tetap serius dan saling percaya satu sama lain.

28 Desember 2016 menjadi tanggal yang tidak terlupakan bagi Jessica dan Erlangga karena di tanggal itu Erlangga akhirnya membuktikan niatnya untuk serius dan mengajak Jessica untuk menikah. Suatu hari saat mereka berdua sedang menghabiskan akhir minggu menjelang pergantian tahun di Bandung, setelah makan malam tiba-tiba Erlangga mengajak Jessica ke teras rumah untuk mengobrol. Sempat curiga karena sikap Erlangga tidak seperti biasanya, Jessica tetap berusaha untuk santai dan mereka berdua pun sempat terdiam sejenak di teras rumah sambil menikmati cuaca malam hari itu. Setelah beberapa lama dan setelah membulatkan tekadnya, Erlangga akhirnya bertanya kepada Jessica, “aku sudah capek pacaran, nikah yuk?”. Pertanyaan spontan itu sontak membuat Jessica kaget dan sempat terdiam sejenak. Dalam hati, Jessica sebenarnya sudah tahu bahwa mereka menjalani hubungan ini sangat serius dan sama-sama bercita-cita untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius, tapi tetap saja Ia tidak menyangka Erlangga akan bertanya malam itu. Sudah merasa yakin Erlangga adalah sosok yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya, akhirnya Jessica pun menjawab singkat, “ayo!”.

“Momen lamaran personal itu menurutku sangat memorable karena Mas Erlangga bertanya tanggal 28, yang merupakan tanggal jadian kita. Lalu Mas Erlangga juga bilang, jadi kapan aku bicara dengan orang tua kamu?,” cerita Jessica. “Akhirnya, satu bulan setelah momen itu tepatnya pada tanggal 21 Januari 2017 pukul 11:11 WIB di Jakarta, Mas Erlangga datang ke rumah aku dan mengutarakan keinginannya di depan kedua orang tua aku,” tambahnya.

Acara lamaran resmi keluarga diselenggarakan di kediaman keluarga Jessica pada pagi hari tanggal 21 Januari 2017 dengan suasana yang sangat intim, hangat dan juga syahdu. Tema yang diangkat untuk acara tersebut adalah perpaduan unsur budaya Jawa dan Palembang serta kecintaan terhadap puisi dari Ibunda menjadi nafas yang kuat terasa dalam keseluruhan proses acara lamaran mereka. Latar belakang budaya Jawa dan Palembang juga berhasil membuat Jessica, Erlangga dan seluruh keluarga yang hadir menjadi semakin kaya akan budaya sehingga memperkuat rasa saling melengkapi, saling menghormati dan menjunjung tinggi Tuhan yang Maha Esa.

Keseluruhan dekorasi yang diangkat untuk acara lamaran Jessica dan Erlangga memiliki makna matahari terbit yang melambangkan kehidupan dan semangat untuk melangkah menjalani petualangan baru sebagai pasangan suami istri. Kombinasi warna bunga yang hangat, eksotis dan elegan dipadu dengan latar belakang Gebyok khas budaya Jawa yang merupakan warisan keluarga memberi sentuhan budaya yang sangat personal bagi Jessica maupun Erlangga. Selain itu, mereka juga mempersiapkan souvenir DIY, yang walaupun dikemas secara sederhana namun memiliki makna yang indah dan diharapkan dapat memberi makna tersediri bagi seluruh keluarga yang hadir hari itu. Untuk dress code, Jessica memilih batik Solo yang memberikan kesan sakral dan cocok dipadukan dengan keseluruhan dekorasi acara. Dalam memilih batik, Jessica langsung memilih dan membeli batik tersebut di Solo.

Masih mengangkat latar belakang bidaya Jawa, tidak ketinggalan Jessica juga menyiapkan Loro Blonyo, yang merupakan patung khas budaya Jawa yang berwujud sepasang pengantin Jawa yang menggunakan pakaian adat jawa dengan atribut lengkap, menggunakan beskap untuk pengantin pria dan basahan untuk pengantin putri. yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa, dimana Loro Blonyo menggambarkan makna pernikahan yang harmonis, dimana pasangan suami istri dilambangkan untuk dapat saling sayang dan saling melengkapi dalam membangun kehidupan keluarga bersama nantinya.

Menurut Jessica, momen yang paling berkesan dari seluruh rangkaian acara lamaran ini adalah saat Ia menunggu untuk dijemput keluar dari kamar setelah Ayah Erlangga menyampaikan tujuan kedatangannya ke rumah keluarga Jessica, yaitu untuk melamarnya untuk Erlangga. Momen lainnya yang juga sangat berkesan menurut Jessia adalah saat sore hari dimana teman-teman Jessica datang ke Bandung dan Erlangga menceritakan acara Lamaran dan Seserahan yang sudah berlangsung pagi harinya kepada teman-teman yang hadir.

Jessica juga berbagi cerita mengenai top-3-vendor untuk acara lamarannya:

  1. Nona Manis Creative Planner
    “Team Nona Manis memang bisa menghasilkan dekorasi yang benar-benar manis. tidak berlebihan tapi juga tidak terkesan minimalis dan kosong. Mereka pintar dalam “merias ruangan” sehingga dekorasi ruangan dapat menggambarkan sebuah cerita dan tidak merubah jiwa dan interior rumah yang sudah ada. Mereka memberi nilai lebih dengan sentuhan manis dan balance terhadap keseluruhan atmosfer ruangan.“
  2. Fita Angela
    “MUA asal Bandung ini sangat recommended, hasil makeup yang bagus dan tidak menjadikan wajah saya terlihat sebagai orang lain tapi tetap terlihat sebagai diri sendiri.“
  3. Hieros Photography
    “Mas Yusuf yang merupakan fotografer dari Hieros ini benar-benar komunikatif dan helpful! Selalu membangkitkan rasa kepercayaan diri dengan mengarahkan pose yang oke. Senang banget bisa bekerja sama dengan fotografer yang open mind dan tidak sungkan untuk berdiskusi. Selain itu, Mas Yusuf dapat mengabadikan momen sakral dan intim ini dengan sangat baik dan profesional.”

Tidak ketinggalan Jessica juga memberikan tips untuk pada brides-to-be dalam mempersiapkan acara lamaran:

Pick your engagement theme and put your own personal touch! Tema dalam proses lamaran sangat penting karena akan mempengaruhi semua unsur didalamnya, mulai dari dekorasi, pemilihan warna jenis bunga sampai pattern baju yang akan dipakai oleh kedua belah pihak keluarga.  Personal touch juga sangat mempengaruhi nuansa lamaran agar menjadi lebih sakral dan terasa dekat di hati. DIY Souvenir, Puisi dari Ibunda juga bisa menjadi salah satu unsur yang bisa membuat suasana menjadi lebih hangat dan terasa dekat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *