Kanya and Radit: An Intimate and Convenient Wedding at Teuku Umar Mansion

By Renya Nuringtyas on under The Wedding

Kanya and Radit: An Intimate and Convenient Wedding at Teuku Umar Mansion

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Teuku Umar Mansion

Event Styling & Decor Mawarprada Decor

Make Up Artist Akad Nikah by Marlene Hariman

Make Up Artist Resepsi by Christina Martha

Hair Do Firma Melati

Photography Katakita Photo

Catering Umara Catering

Catering D'Crepes

Bride's Attire Bride by Adriani Muzamil

Groom's Attire Sanggar Rias Sriwijaya

Jewellery & Accessories Sanggar Djus Masri

Wedding Shoes Cava Prive

Wedding Entertainment Anarvy Sound System

Souvenir Imaji Printing Blok M Square

Invitation Imaji Printing Blok M Square

Wedding Organizer Indah Sarwono

Others Seserahan by Istje Seserahan

Perkenalan Kanya dan Radit berawal saat mereka masih sama-sama balita, tepatnya disaat kedua orang tua mereka sama-sama bertugas di Kendari, Sulawesi Selatan. Sejak saat itu, kedua keluarga mereka pun menjadi dekat bahkan kedua ibu mereka pun bersahabat sampai sekarang. Tapi kemudian mereka tidak terlalu sering bertemu lagi karena keluarga Radit kemudian beberapa kali pindah kota dan keluarga Kanya pun kembali lebih dulu ke Jakarta. Mereka baru bertemu kembali tahun 2011 saat Kanya sedang melanjutkan kuliah di Canberra, Australia dan disaat Radit hendak melanjutkan kuliah S2-nya di Newcastle, Inggris. Kemudian di tahun 2016 mereka akhirnya bertemu kembali saat keduanya sudah settle bekerja di Jakarta, dan tidak lama setelahnya mereka pun pacaran.

Karena sudah merasa cocok dan kedua keluarga juga sudah saling mengenal dan tentunya sangat mendukung hubungan mereka, tidak butuh waktu lama bagi Radit untuk melamar Kanya. Setelah kurang lebih 7 bulan berpacaran Radit pun resmi melamar Kanya untuk menjadi istrinya. Kanya sendiri mengaku tidak kaget karena memang sudah ada pembicaraan serius dari Radit untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang berikutnya. Selain itu Kanya juga sudah sempat mendapat bocoran kalau Radit sudah memesan cincin untuknya. “Radit melamar di restoran BBQ Korea di Lotte Shopping Mall setelah kita pulang kantor, dan restoran itu juga dipilih karena paling sepi pengunjung. So not much of a sweet proposal but still a very happy one!,” cerita Kanya.

Setelah itu mereka berdua langsung mulai persiapan rangkaian acara pernikahan. Kanya dan Radit memutuskan untuk membagi acara Resepsi menjadi 3 bagian di hari yang sama karena keterbatasan kapasitas venue yang dipilih. Akad Nikah sendiri dilangsungkan di pagi hari, sedangkan acara Resepsi dibagi menjadi 3 sesi dimana Resepsi siang khusus untuk keluarga, Resepsi sore untuk teman dekat Kanya dan Radit, serta teman dekat orang tua mereka, dan Resepsi Malam khusus untuk kolega dan teman kantor mereka berdua. “Kami sengaja membagi tamu yang datang agar seluruh tamunya saling kenal dan bisa sekalian reunian,” tambah Kanya.

Untuk acara Akad Nikah Kanya dan Radit sepakat menggunakan adat Jawa yang sudah lebih dulu digunakan saat menjalani prosesi Siraman dan Midodareni sehari sebelumnya, dan dilanjutkan dengan proses Panggih sesaat setelah Akad Nikah. Adat dan budaya Jawa juga digunakan untuk acara Resepsi siang dan Resepsi sore supaya mereka tidak perlu mengganti riasan sampai sore, mengingat persiapannya lumayan panjang untuk mengganti riasan dalam waktu yang singkat, terutama untuk pengantin perempuan. Penggunaan adat Jawa ini menjadi suatu hal yang baru untuk keluarga Radit yang berasal dari Palembang, dimana seluruh keluarganya mengenakan baju Jawa untuk pertama kalinya.

Untuk Resepsi sore yang khusus untuk teman-teman dekat saja, tema yang diangkat adalah intimate wedding dan jumlah tamu yang diundang pun tidak terlalu banyak. Ingin para tamu nyaman, Kanya sengaja tidak memakai panggung dan hanya menggunakan karpet, jadi seluruh tamu bisa mingle dan foto bersama pengantin dengan lebih leluasa. Seluruh tamu juga sangat menyukai booth D’Crepes yang sengaja diadakan untuk menyediakan snack yang ringan dan disukai oleh banyak orang. Ternyata booth D’crepes menjadi salah satu highlight dari acara tersebut dan para tamu pun happy bisa makan D’Crepes sepuasnya, terutama tamu anak-anak.

Untuk Resepsi Malam, tema yang diangkat adalah kombinasi adat Padang Kotogadang dan adat Palembang, karena keluarga Kanya memiliki keturunan Jawa-Padang dan keluarga Radit berasal dari Palembang. Untuk pakaiannya sendiri, keluarga Kanya mengenakan busana adat Padang dan keluarga Radit mengenakan busana adat khas Palembang. Acara Resepsi malam dibuka dengan arak-arakan Gendang Sriwijaya dan dilanjutkan dengan persembahan tari Pagar Pengantin khas Palembang oleh Kanya yang mengenakan busana Padang Kotogadang. “It was fun and unique at the same time. Acara diisi dengan tarian Padang dan lagu-lagu Palembang untuk membangun suasana khas Sumatera,” ujarnya.

Untuk Venue, mereka sengaja memilih Teuku Umar Mansion karena gedung dan ruangannya yang sangat cantik serta lokasinya yang strategis di Jakarta Pusat. “It was love at first sight for Radit, our parents and me. We were so biased and impressed that other venues became bland after we visited Teuku Umar Mansion,” ujar Kanya. Tempatnya sangat cantik dan tanpa berpikir panjang mereka pun langsung memilih venue tersebut untuk acara pernikahan ini. Namun karena kapasitasnya yang tidak terlalu luas, Kanya kemudian memutuskan untuk membagi acara Resepsi menjadi 3 sesi.

Sedangkan untuk dekorasinya sendiri, sejak awal Kanya ingin dekorasi yang bisa menyesuaikan konsep dekorasi Teuku Umar Mansion yang sudah sangat cantik dan sangat berkarakter. Kanya mengaku proses pencarian vendor dekorasi sedikit unik, karena ia menemukan beberapa vendor yang memberikan kesan tersendiri, contohnya ada vendor harus dikejar-kejar dan berkesan seperti tidak tertarik untuk ‘jualan’, ada juga vendor yang sempat datang ke lokasi tanpa izin untuk mengambil gambar kemudian menghilang tanpa jejak. Tapi ia bersyukur karena akhirnya bertemu dengan Mawarpada yang punya gaya dekorasi simple dan mampu memenuhi keinginan Kanya dan keluarga untuk menyiapkan dekorasi yang sesuai dengan venue, tidak berlebihan dan tanpa menggunakan terlalu banyak bunga dan resources untuk acara yang hanya berlangsung 1 hari saja. “Saya senang sekali dengan hasil kerja tim Mawarpada di hari H yang seperti menyatu dengan karakter venue, Very recommended!,” ujar Kanya.

Untuk busana yang dikenakan oleh Kanya dan Radit, mereka memakai baju pernikahan Jawa tradisional dengan bahan velvet yang dipakai oleh kedua orang tua Kanya 30 tahun yang lalu. Kanya mengaku luar biasa senang karena baju tersebut masih dalam kondisi yang bagus dan cukup untuk dikenakan oleh Kanya dan Radit. Untuk perlengkapan tambahannya Kanya menyewa dari Firma Melati dan Anggun Busana. Untuk Resepsi malam, tema warna yang diangkat adalah merah maroon dengan sentuhan gold agar lebih mudah memadukan warna kain tenun Palembang (yang cenderung lebih cerah dengan daras emas kuning) dengan kain tenun Padang Kotogadang (yang cenderung gelap dengan dasar tembaga). Kanya mengaku sempat kesulitan mencari tempat penyewaan baju Kotogadang yang masih tradisional, karena menurutnya sebagian besar sudah diberikan sentuhan modern agar terlihat lebih glamor dan mewah. Tapi berkat hasil riset Instagram yang lumayan panjang, Kanya akhirnya bisa bertemu dengan Tante Adriani Muzamil yang memiliki koleksi busana adat Padang Kotogadang tradisional.

Saat ditanya mengenai tantangan yang dihadapi dalam mempersiapkan acara pernikahannya, menurut Kanya adalah disaat ia dan Radit harus menjelaskan konsep pernikahan yang ingin diangkat kepada kedua orang tua mereka, karena konsep mereka memang berbeda dari konsep acara pernikahan pada umumnya.

Konsep pernikahan yang ingin diangkat adalah Convenient and Intimate Wedding, dimana definisi ‘nyaman’ bagi Kanya dan Radit adalah venue indoor dengan air conditioner, lahan parkir yang mencukupi, makanan yang lezat dan tamu yang memberikan kebahagiaan untuk mereka. We didn’t want a wedding like no other, we wanted to make everyone involved happy because it was an important point and celebration in our lives.” Berdasarkan konsep ini juga, Kanya dan Radit memutuskan untuk tidak memakai panggung dan live music/band supaya tidak terlalu berisik dan tamu bisa berbincang-bincang dengan leluasa. Sebagai gantinya, mereka memilih memainkan playlist lagu tradisional dan instrumental dari Spotify.

Tantangan lainnya adalah pencarian venue yang mendukung konsep intimate wedding dengan lahan parkir yang luas. Tapi Teuku Umar Mansion menjawab kebutuhan itu dengan menyediakan jasa valet dan bekerjasama dengan pemilik lahan parkir di lingkungan sekitar, jadi tamu yang hadir tidak perlu kesulitan mencari parkir.

Dari seluruh proses mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai tantangan yang harus dihadapi sampai akhirnya acara dapat terlaksana dengan lancar, Kanya juga tidak lupa berbagi cerita mengenai momen yang menurutnya paling berkesan:

“The happy warm ambiance and the opportunity for the bride and groom to interact with the guests. Our guests also complimented the venue, food, and informal moods—most importantly, they said that the wedding is very convenient and hassle free.”

Top 3 Vendor pilihan Kanya:

  1. Katakita Photo

“Finding Katakita was a love at first sight experience. I love their shoots, whatever the theme is and whoever the brides and grooms are, the results are always lovely and full of love. Aku memakai Katakita untuk semua rangkaian acara dari lamaran, prewedding, upacara tradisional, akad dan resepsi. Tim Katakita juga fun dan sangat membantu selama masa persiapan dan hari H. This one is a highly recommended vendor!”

  1. Umara Catering

“Keluargaku sudah cukup lama langganan Umara sejak mereka masih menangani acara kecil. Banyak sekali tamu yang hidangan Umara sejak acara lamaran dan hari H. Memang beberapa menu seperti Nasi Daun Jeruk dan Lidah Cabe Ijo Umara sudah banyak fansnya termasuk aku sendiri. Selain itu Umara juga sangat memperhatikan tampilan dan dekorasi area catering sehingga cantik dan menyatu dengan keseluruhan dekorasi.”

  1. Mawarprada Decor

“Teuku Umar Mansion sudah memiliki desain bangunan yang berkarakter dan kami tidak ingin dekorasinya malah menutupi kecantikan Teuku Umar. Tantangan lainnya, pernikahan kami dilaksanakan dalam dua adat dan warna dasar yang berbeda pula. Mas Ario dan Mas Anwar sukses membuat dekorasi yang cantik dan elegan untuk memenuhi konsep tradisional yang menyatu dengan unsur kolonial Teuku Umar.”

Kanya juga memberikan tips untuk kamu yang sedang mempersiapkan acara pernikahan:

  • Good communication is key. Pelajari cara komunikasi yang sesuai untuk pasangan atau keluarga dan cari waktu yang nyaman untuk berdiskusi. Avoid problem and issues and try to come up solution options before communicating them to your partner or family. Di Indonesia, pernikahan adalah kegiatan sosial yang melibatkan banyak sekali stakeholders, so you must use your words wisely to keep everyone at peace.
  • Concept, research, and plan. Every bride faces different situation in preparing their wedding and most of the time we are all first-timer. Kita akan dihadapi dengan banyak sekali pilihan dalam waktu singkat, jadi untuk mempermudah prosesnya lebih baik dari awal kita sudah tentukan konsep dan budget acaranya. Then take few weeks to do research and develop your concept into a plan. Lebih bagus lagi kalau sudah punya bayangan atau konsep dari jauh-jauh hari, beberapa teman aku sudah follow bridal accounts di sosial media walaupun mereka belum ada rencana menikah dan menurutku akan sangat membantu.
  • Choose your focus. Planning a wedding could be very stressful but it is not your job alone. Kemarin aku memutuskan untuk bagi tugas dan tanggung jawab dengan Radit dan keluarga. Jangan lupa untuk bernegosiasi dan berdiskusi pada setiap pemilihan vendor.
  • Libatkan pasangan. Menurutku persiapan pernikahan adalah cara yang baik untuk melihat kerjasama dengan pasangan kita.
×