Lamaran Adat Betawi dan Minang ala Dea dan Audy

By Cynthia on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Acara Lamaran

Venue Private Residence

Photography Fotologue Photo

Make Up Artist Allyssa Hawadi

Catering Akasya Catering

Banyak kisah cinta manis yang berasal dari bangku SMA. Coba ingat lirik lagu yang dinyanyikan oleh almarhum Chrisye, “..kisah kasih di sekolah”, atau lagu yang berjudul “Galih dan Ratna”. Namun bagaimana jika kisah cinta yang manis justru dimulai seusai tamat di bangku SMA? Kisah cinta yang dialami oleh Dea dan Audi ini salah satunya. Mulai berkenalan dari bangku SMA, kemudian saling menyukai dan memendam perasaan. Tapi tidak kunjung jadian karena keduanya memiliki pasangan masing-masing. Namun yang namanya jodoh pasti tidak akan lari kemana, kan?

Awalnya Dea dan Audi merupakan teman satu sekolah di SMAN 8 Jakarta. Sampai akhirnya mereka jadi teman sekelas, mulai dekat, kemudian jadi teman curhat. Saat itu, sebenarnya keduanya sama-sama tahu kalau masing-masing memendam rasa, namun mereka berdua memutuskan untuk jadian dengan orang lain. Setelah lulus SMA pada tahun 2008, Dea dan Audi masuk ke universitas yang berbeda, sehingga jarang bertemu. Selama itu, Dea masih memendam rasa untuk Audi. Ia selalu menanyakan kabar Audi ke teman-temannya. Sesekali Dea bertemu Audi di acara reuni. Tapi kalau ketemu pun mereka tidak pernah banyak mengobrol untuk menjaga perasaan pasangan masing-masing.

Akhirnya pada tahun 2013, Dea dan Audi putus dari pasangan masing-masing. Kemudian mereka berdua mulai dekat lagi sebagai teman. Sekitar bulan Agustus, mereka bersama dengan teman-temannya berlibur bersama ke Bali. Dari situ hubungan Dea dan Audi menjadi semakin dekat. Akhirnya mereka memutuskan untuk jadian di bulan Desember.

Setelah jadian, cinta mereka harus diuji lagi. Di bulan itu Dea harus meninggalkan Audi karena harus melanjutkan sekolah di London. Awal-awal LDR memang terasa cukup berat, apalagi mereka baru saja jadian. Belum genap sebulan, mereka sudah harus berpisah. Namun Audi menganggap bahwa LDR itu merupakan salah satu ujian yang membuat pondasi sebuah hubungan menjadi semakin kuat. Dengan menjalankan LDR, mereka bisa saling melatih untuk saling percaya dan menghargai satu sama lain.

Setelah Dea menyelesaikan sekolahnya dan pulang ke Jakarta, Audi menginginkan hubungan mereka semakin serius. Akhirnya Audi bertemu dengan kedua orang tua Dea untuk meminta izin melamar. Namun sebelumnya Audi telah melamar Dea dengan romantic proposal.

Audi melamar Dea di Singapura pada bulan Mei 2014 saat mereka sedang liburan bersama dengan teman-teman dekat mereka. Lamaran romantis dimulai ketika Dea stay di apartemen adiknya, sedangkan Audi dan teman-temannya menginap di apartemen salah satu teman Dea bernama Nicko yang bekerja di Singapura. Saat hari kedua, Audi melakukan sesuatu yang membuat Dea menjadi sangat kesal. Saking kesalnya, Dea akhirnya meninggalkannya bersama teman-teman ketika berbelanja. Akhirnya Dea pulang ke apartemen adiknya. Beberapa jam kemudian Audi pun menjemput Dea. Ia ingin minta maaf dan mengajaknya pergi makan malam. Namun ternyata di tengah perjalanan ia ingin mampir sebentar ke apartemen Nicko. Sesampainya di apartemen Nicko, mereka pun menuju ke area kolam renang.

Di situ kejutan pun dimulai. Ternyata seluruh area kolam renang sudah dipenuhi dengan banyak lilin-lilin kecil dan balon. Audi menujukkan keseriusannya dengan mendekor area swimming pool dengan suasana candle light serta balon yang dibawanya langsung dari Jakarta. Teman-teman mereka pun berdiri sambil megang balon untuk menjadi saksi. Salah satu teman mereka juga ada yang memegang cincin sambil memainkan lagu Train “Marry Me”. Audi pun langsung bended on his knee dan propose Dea. Ternyata Audi memang sengaja membuat Dea menjadi kesal. Hal tersebut juga sudah direncanakan dari awal.

Setelah berhasil melamar Dea dengan romantis di Singapura, keduanya pun sepakat menggelar acara pertunangan pada 6 Desember 2015. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan anniversary kedua mereka. Untuk konsep lamaran serta pernikahannya diambil dari adat yang dimiliki oleh mereka berdua masing-masing. Acara lamaran memakai adat Betawi yang diambil dari keluarga Dea dan adat Minang dari keluarga Audi. Karena adat Betawi identik dengan warna yang colorful dan bright, mereka memilih pakaian yang terkesan santai dan tidak kaku dengan konsep warna gold, light goldenrod, pale blue, pink, dan white.

Seluruh keluarga besar Dea mengenakan pakaian khas Betawi berupa kebaya encim untuk perempuan, sedangkan untuk laki-laki menggunakan baju koko yang dipadupadankan dengan celana kain batik, peci, dan sarung di leher.

Acara lamaran dimulai pukul 10 pagi. Keluarga besar Audi datang ditandai dengan bunyi petasan sebagai sambutan atas kedatangan mereka. Sempat terkejut dan dan takut juga cathering serta rumah tidak cukup untuk menampung seluruh tamu undangan, karena perkiraan awal yang datang hanya sekitar 20 orang. Ternyata tamu yang datang lebih dari 30 orang. Keluarga besar Audi datang membawa berbagai macam seserahan (seserahan dari Rose Arbor), Roti Buaya sebagai lambang adat Betawi, buah-buahan, dan makanan khas Minang (keluarga Audi berasal dari Bukittinggi).

Beberapa momen mengharukan yang terjadi saat prosesi lamaran dijalankan ialah saat Audi menceritakan kisah awal mula mereka bertemu, mulai dari kenalan hingga saat memutuskan ke hubungan yang lebih serius. Audi menceritakan kisah mereka berdua di di depan seluruh keluarga. Audi juga meminta izin orang tua Dea untuk melamarnya secara resmi, meskipun ia berada dalam keadaan lesu. Memang beberapa hari sebelum lamaran, Audi sempat jatuh sakit. Namun syukur ia tetap bisa berbicara dengan lancar di depan seluruh keluarga.

Beberapa prosesi yang dijalankan Dea dan Audi antara lain adat Betawi yang ditandai dengan pemasangan khas Betawi yang panjangnya sekitar 4 meter. Audi juga membawa sepasang roti buaya untuk seserahan. Kemudian berbalasan pantun yang termasuk dari bagian dari upacara adat palang pintu. Biasanya upacara tersebut dilakukan ketika akad nikah, sehingga saat prosesi lamaran tidak ada berbalas pantun. Setelah itu ada hidangan ayam utuh bernama Ayam Dedare yang merupakan khas Betawi juga. Makanan ini dijadikan sebagai makanan ‘balasan’ lamaran untuk keluarga CPP. Ayam yang dimasak juga harus ayam dara (yang belum pernah bertelur) sebagai pertanda bahwa yang akan dipinang adalah wanita yang masih gadis dan belum pernah menikah.

Untuk masalah pakaian, Dea mempercayakan kebaya yg dipakainya di tempat jahit langganan mama Dea di Pasar Sunan Giri. Awal menemukan material kebaya tersebut ialah saat Dea hunting bahan-bahan kebaya di Pasar Mayestik bersama mamanya. Kebetulan bahan tersebut juga merupakan bahan terakhir yang sudah tidak masuk lagi ke Jakarta. Untuk model kebayanya, Dea mengaku ia hanya sekedar browsing dari Instagram saja, kemudian meminta model yang mirip di tukang jahit yang ia percayakan. Harga jahitnya juga tidak terlalu mahal. Jahitannya pun sangat rapi. Banyak yang mengira bahwa Dea menghabiskan banyak biaya untuk membuat kebaya tersebut, padahal tidak sama sekali.

Top 3 Vendors Pilihan Dea dan Audi

1. Akasya Catering

Rasa makanan yang disajikan tidak pernah mengecewakan. Pelayanannya juga cepat, ramah, dan bagus. Sebelum lamaran, Dea dan Audi diajak untuk melakukan test food terlebih dahulu (padahal hanya untuk lamaran saja, bukan pernikahan). Tak hanya itu saja, porsinya juga banyak, kemudian dekorasinya bagus. Akasya Catering memberikan pelayanan yang sangat memuaskan.

2. Allyssa Hawadi

Pertama booking sempat mengalami sedikit miscom mengenai waktu mulai make-up, sehingga Allyssa dan tim datang terlambat. Namun walaupun hanya memiliki waktu make-up hanya selama 1 jam, hasilnya sangat bagus. Tidak berantakan sama sekali. Semua orang sempat melontakan pujian kepada Dea karena make-up yang bagus, natural, tidak berlebihan, namun tetap bikin pangling.

3. Fotologue

Tim Fotologue datang tepat waktu, ramah, dan hasilnya memuaskan. Banyak foto dengan konsep candid yang sangat bagus angle pengambilannya. Dea dan Audi sempat merasa kebingungan, ingin mencetak yang mana karena banyak foto yang hasilnya memuaskan. Selain itu, hasil fotonya juga cepat karena tidak sampai seminggu sudah terkirim ke rumah.

Tips mempersiapkan acara lamaran dari Dea dan Audi

Sebaiknya persiapkan acara lamaran minimal H-2 bulan, karena beberapa vendor yang bagus biasanya akan cepat full booked. Pertama, buat to-do-list dan minta keluarga dan saudara terdekat atau Wedding Organizer untuk membantu persiapan acara lamaran. Sebaiknya harus rajin-rajin browsing untuk bisa membandingkan kualitas antara vendor yang satu dengan lainnya. Terkadang yang murah belum tentu kualitasnya tidak bagus (terutama kalau mau membuat acara yg low budget). Dan yang terpenting, rajin-rajin membangun komunikasi dengan keluarga calon besan mengenai prosesi adat suku masing-masing (apalagi kalau berasal dari 2 adat dan suku yang berbeda), biar tidak ada bentrok dan kesalahpahaman.

×