Lamaran Adat Lampung Nyighok Ngikok Trianti & Aland

By Ikke Dwi A on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Engagement Reception

Venue Private Residence

Event Styling & Decor @philiashop

Photography Surga Photography

Photography Roy

 Tradisi lamaran Lampung Nyighok Ngikok mungkin masih asing terdengar di sebagian orang. Indonesia memang kaya akan budaya dan beruntunglah masih banyak generasi muda yang mau melestarikan budaya leluhurnya, salah satunya Trianti Muvalevi dan Aland Setiadi

Ria dan Aland yang mengaku pertama kali diperkenalkan oleh kedua Ibundanya ini memutuskan menggunakan Nyighok Ngikok untuk acara lamarannya. Keduanya yang mulai berpacaran 30 Maret 2013 ini memang sama-sama suku Lampung. Dan kesamaan suku inilah yang membuat mereka ternyata bisa bertahan walaupun selama pacaran menjalani long disctance relationship, di mana Trianti tinggal di Lampung, sedangkan Aland di Jakarta.

“Jodoh itu sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa, kami dipertemukan dan dikenalkan oleh Mama masing-masing, dan kami tidak menyangka walaupun berbeda kota akan tetapi kami berdua sama-sama berlatar belakang adat Lampung. Tidak susah untuk menyatukan kebiasaan dan sifat kami karena pada dasarnya kami memiliki adat budaya yang sama. Hingga kami dapat mengenal dan belajar satu sama lain,” cerita Ria mengengenai kisah cintanya dengan Aland.

Masa Persiapan Lamaran

“Menikah adalah komitmen yang paling serius dari setiap hubungan, bukan untuk sesaat tapi untuk selamanya, jodoh dunia dan akhirat Amin,” ungkap Ria. Setelah berpacaran selama dua setengah tahun, Ria dan Aland pun memutuskan untuk menikah. Dan lamaran terlebih dahulu dilakukan pada 26 September di kediaman Trianti di Bandar Lampung.

Persiapan lamaran ini memakan waktu enam bulan dan memang cukup lama mengingat tempat tinggal mereka yang berbeda. Mulai dari mencari tempat perhiasan untuk cincin lamaran dan pernikahan dilakukan berdua. Namun untuk mencari bahan baju untuk lamaran, vendor stylist, dekor, fotografi, dan makeup dilakukan oleh Ria, termasuk dalam menyiapkan detail DIY. Mengingat Aland sedang sibuk berkerja dan kuliah S2, dan Ria memiliki waktu luang lebih banyak.

“Tantangan terbesar adalah mencari dan mempersiapkan acara lamaran itu sendiri mulai dari mencari penjahit untuk baju lamaranku, undangan lamaran, event stylist dan decor, photography serta makeup, semua itu aku lakukan sendiri tanpa ada vendor di acara lamaranku, dan dibantu juga oleh keluarga dalam mempersipkan acara lamaranku.”

Prosesi Adat Nyighok Ngikok

Nyighok Ngikok merupakan acara lamaran adat Lampung. Memiliki makna mengikat calon pengantin wanita, di mana calon pengantin wanita telah diikat oleh calon pengantin pria sebelum dilaksanakannya acara pernikahan.

Selama acara ini calon pengantin wanita dinyatakan telah menjadi miliki calon pengantin pria. Dalam prosesi ini juga memiliki makna keluarga calon pengantin pria melamar calon pengantin pria. Ada beberapa ketentuan adat turun temurun yang harus dilakukan saat melangsungkan prosesi Nyighok Ngikok ini:

1. Kain Jung Sarat Nyighok. Dipakaikan oleh ibu calon pengantin pria sebagai tanda calon pengantin wanita sudah diikat atau sudah menjadi milik calon pengantin pria.

2. Mengikatkan tali benang lutan ke pinggang calon pengantin wanita yang terdiri dari tiga warna yaitu merah, hitam, dan putih. Menurut kepercayaan Tetua Lampung, prosesi ini memiliki makna semoga berjodoh dan dijauhkan dari segala halangan sampai prosesi acara pernikahan nanti.

Untuk dekorasi, Ria dan Aland tetap memilih nuansa adat Lampung namun dengan sentuhan simple modern. Ria sengaja memilih dekorasi berkonsep simple dengan tumpukan bunga-bunga bewarna pastel sebagai backdrop. Adat Lampung masih terasa kental namun lebih manis dengan sentuhan dekorasi ala Ria.

Pakaian Adat Lamaran

Busana yang dikenakan Ria dan Aland di acara lamaran “Nyighok Ngikok” merupakan khas adat Lampung. Ria mengenakan atasan kebaya dan bawahan kain tapi (kain khas adat Lampung yang disumal menggunakan benang emas). Sedangkan Aland mengenakan setelan jas bewarna hitam dan topi/songkok serta kain tumpal yang dillingkarkan ke celana pria. Baik itu topi/songkok dan kain tumpal merupakan busana khas adat Lampung yang disulam menggunakan benang emas.

Memorable Moments from Their Engagement Reception

Ria mengaku prosesi dipakaikannya kain Jung Sarat Nyighok oleh Ibu Aland dan diikatkannya tali benang Lutan tiga warna merupakan moment paling berkesan. Moment lainnya yang berkesan yaitu saat keduanya melakukan acara adat suap-suapan atau dalam adat Lampung dinamakan “Mosok”.

Acara “Mosok” merupakan bagian dari rangkaian “Nyighok Ngikok”, di mana kedua orangtua calon pengantin pria dan calon pengantin wanita serta keluarga dari kedua belah pihak menyuapi calon pengantin. Suapannya berupa gula merah yang dicampur parutan kelapa. Memiliki arti semoga kehidupan pernikahan dan berumahtangga dapat berjalan manis seperti gula.

Mau mendapatkan acara lamaran berkesan dengan nuansa adat istiadat yang kental seperti Ria dan Aland? Berikut ini tips dari Ria untuk pembaca The Bride Dept:

Tidak ada yang salahnya kalau kita mengikuti dan memahami makna dari setiap adat budaya kita. Karena masing-masing adat budaya pasti memiliki makna yang harus dijunjung tinggi. Dan kita dapat melestarikan budaya Indonesia itu sendiri.

 

×