Lamaran Bertema Chinoiserie di Kota Bogor

By Cynthia on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Lamaran

Photography Why Moments

Event Styling & Decor Garda Dekorasi

Siapa sangka kalau teman mengobrol di dunia maya bisa menjadi teman hidup? Sebelas tahun yang lalu, Yuvie dan Ershad ‘bertemu’ untuk pertama kalinya. Kenapa ada tanda kutip di kata bertemu? Karena pertemuan mereka itu bukan pertemuan biasa. Yuvie dan Ershad bertemu di dunia maya di tahun 2005. Saat itu, Ershad yang baru kembali dari Amerika Serikat kehilangan kontak teman-temannya di Indonesia, iseng-iseng Ershad gabung di chat room MIRC. Dibujuk temannya, Yuvie pun juga mencoba chatting di MIRC. Ershad menjadi teman chatting pertama Yuvie disana, dan sejak pertama kali mengobrol, keduanya merasa cocok. Dari sana keduanya semakin rajin membangun pertemanan mereka di dunia maya. Mulai dari zaman Friendster, MSN, hingga Facebook mereka terus menjaga kedekatan lewat sosial media. Komunikasi mereka sendiri terkadang intens namun kadang juga mereka bisa saling tidak berbicara berbulan-bulan, meskipun begitu hubungan mereka tidak pernah terputus.

Bertahun-tahun berteman, Ershad selalu ingat untuk mengucapkan selamat setiap Yuvie ulang tahun. Dari situ biasanya mereka menjadi cerita tentang kesibukan masing-masing dan saling bertukar pikiran. Sifat perhatian Ershad seperti itulah yang membuat Yuvie nyaman dengannya. “Dia orangnya sopan sekali, pembawaannya tenang, tapi ga pendiam juga. Dari awal kenalan juga ga pernah dia ga sopan apalagi centil, atau anggep saya remeh biarpun saya anak kecil sotoy minta ampun sok tua hahaha,” puji Yuvie.

Sembilan tahun keduanya menjalani pertemanan mereka tanpa pernah bertemu. Selama itu, keadaan selalu menjauhkan mereka, Ershad kuliah di Malaysia, yang kemudian berlanjut ke China, sementara Yuvie menjalankan studinya di Indonesia. Namun suatu hari di bulan Januari 2014, Ershad menyapa Yuvie di facebook, mereka lalu menceritakan kabar dan kerjaan masing-masing. Ternyata saat itu Ershad sudah kembali tinggal di Indonesia. Ketika itu Ershad berkata, “Kita sembilan tahun kenal belum pernah ketemu loh vie, jangan sampai nunggu sepuluh tahun ya!” Yuvie mengaku dia hanya tertawa saja di saat itu. Beberapa hari kemudian mereka memutuskan untuk bertemu. Pertemuan mereka ini juga hampir tertunda karena saat itu Jakarta sedang dilanda banjir. Beruntung banjirnya cepat reda, sehingga Yuvie dan Ershad bisa bertemu langsung untuk pertama kalinya.

Pertemuan pertama mereka berjalan lancar, keduanya tidak merasa canggung berbicara satu sama lain. “Rasanya kaya reunian sama teman lama aja, cuma bedanya kali ini ga perlu diketik obrolannya,” cerita Yuvie. Setelah hari itu mereka sering jalan dan menjadi semakin dekat hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pacaran. Sejak awal pacaran Ershad sudah bertanya kapan Yuvie siap menikah. Uniknya, pasangan ini tidak memiliki proposal seperti pasangan kebanyakan. Mereka memutuskan bersama di tahun 2015 untuk menikah di tahun 2016.

Awalnya pasangan ini tidak berencana membuat acara lamaran. Yuvie yang berdarah chinese berniat hanya mengadakan sangjit sebulan sebelum pernikahan. Tetapi di bulan Desember mereka memutuskan untuk melakukan lamaran untuk memperkenalkan kedua keluarga. Yuvie mengakui selama mempersiapkan lamaran dia sempat merasa panik, “Persiapan lumayan bikin panik di awal karena aku ga tau susunan acara dll, tapi untungnya semua vendor bisa tanggal itu. Satu-satunya yang susah cari makeup artist karena acaraku di Bogor dan banyak makeup artist di Jakarta udah ada job, akhirnya aku cari di Instagram dan ketemu Ikea Makeover yang lokasinya di Bogor dan bisa tanggal segitu”.

Tema lamaran ini adalah peranakan, menyesuaikan dengan Yuvie yang keturunan chinese. Dekorasinya sendiri memakai tema pastel chinoiserie, untuk menambah kesan hangat lamaran yang dilangsungkan di pagi hari ini. Garda Decor, vendor dekorasi di acara ini, berhasil memenuhi permintaan Yuvie yang menginginkan dekorasi bunga berwarna pastel dan guci serta keramik cina di lamarannya. Di lamaran ini, Yuvie memilih untuk menggunakan kebaya kutu baru dengan warna pale blue dipasangkan dengan batik warna dusty pink yang senada dengan kemeja batik Ershad dan tema warna di acara ini.

Yuvie dan Ershad memilih untuk tidak menjalani prosesi adat di acara ini. Yuvie menjelaskan kalau di lamarannya dia memilih menginkorporasikan warna merah di hantarannya seperti kebiasaan orang Cina. Yuvie menjelaskan, “Hantarannya itu makanan aja, untuk seserahan pakaian dll nanti dikasih saat sangjit. Jadi saaat lamaran hanya ada makanan wajib seperti kue mangkok merah, apel, jeruk, sisanya sih makanan kesukaan aku aja yang penting semuanya harus berisi makanan manis-manis”.

Ketika ditanyakan apa momen paling berkesan di lamaran ini, Yuvie memilih momen saat dia dijemput orangtuanya. “Saat aku dijemput sama mama papa dari kamar dan mereka menanyakan kesediaan aku dilamar Ershad aku merinding banget. Aku juga ikut sedih karena mama papa sampai meneteskan air mata saat menanyakan aku saat itu, tapi disaat yang bersamaan aku juga bahagia banget karena aku menjalani momen penting ini didampingi sahabat-sahabat aku,”  jawab Yuvie.

×