Lamaran Cantik Bernuansa Lime Green ala Dinta dan Derry

By Renya Nuringtyas on under The Engagement

Lamaran Cantik Bernuansa Lime Green ala Dinta dan Derry

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Event Styling & Decor Classytent Decor

Photography Karna Pictures

Make Up Artist Makeup by Zaneta

Bride's Attire Andhita Siswandi

Groom's Attire DMSJMN

Catering Pagi Sore Group

Catering Dcrepes

Catering Toko Kopi Tuku

Perkenalan Dinta dan Derry berawal dari SMA. Kala itu, mereka hanya sebatas teman ngobrol, “Derry adalah teman cowok yang nyambung banget ngobrol sama aku, karena kita punya selera musik yang sama,” ujar Dinta. Kesamaan mereka dalam selera musik lah yang akhirnya membuat mereka jadi sering ngobrol mengenai musik, mulai dari seputar konser musik sampai album baru dari band kesukaan mereka yang saat itu belum banyak diketahui orang banyak.

Mereka juga pernah sekelas saat di SMA, dan itu membuat mereka jadi lebih mengenal karakter satu sama lain. Bagi Dinta, Derry adalah sosok cowok yang smart dan cool. Sedangkan bagi Derry, Dinta adalah sosok cewek yang populer, ramah, tidak macam-macam, dan mandiri. Namun kedekatan mereka tidak lantas membuat mereka langsung berpacaran, karena kebetulan saat itu Dinta sudah memiliki pacar. Mereka tetap berteman bahkan sampai lulus SMA, dan mereka pun masuk ke Perguruan Tinggi yang sama meskipun di jurusan yang berbeda; Dinta masuk ke jurusan Psikologi sedangkan Derry masuk ke jurusan Manajemen.

Saat kuliah, Dinta dan Derry kerap bertemu dan berpapasan di kampus, tapi karena mereka kuliah di jurusan yang berbeda, pertemuan pun jadi lebih singkat dan obrolan mereka juga tidak sebanyak saat mereka SMA dulu. Terlebih lagi, saat itu Derry juga sudah punya pacar.

Selama tiga tahun setelah lulus kuliah, komunikasi mereka tetap berlanjut, meski hanya sebatas saling sapa melalui media sosial saja, sampai akhirnya ada satu masa dimana Dinta dan Derry sama-sama single. Mengetahui Dinta sedang single, Derry langsung menghubungi Dinta dengan menyapanya melalui chat, yang disambut baik oleh Dinta. Pembahasan mereka pun mengalir dengan topik yang masih sama, yaitu musik. Dari situ mereka kemudian semakin menemukan banyak kesamaan lainnya seperti sama-sama suka mengkhayal atau daydreaming, sama-sama superheroes geek, suka film dengan genre yang sama, dan banyak kesamaan lainnya. “Di masa-masa itu aku langsung relate banget dengan kalimat ‘you know when you know he’s the one’ karena benar-benar ada feeling di hati bahwa he is the one,” kenang Dinta.

Setelah itu Dinta dan Derry pun mulai berpacaran, tepatnya di tahun 2013, dan mereka pun mulai menemukan warna baru dari kepribadian mereka masing-masing. Dinta mengaku meskipun ia dan Derry bisa dibilang pasangan yang ‘klik’ banget, mereka juga menemukan banyak perbedaan. Mulai dari perbedaan sifat, pandangan, opini, dan sebagainya. Tidak jarang mereka juga kerap bertengkar seperti layaknya pasangan lain, yang disebabkan oleh perbedaan pendapat. Tapi bagi Dinta itu tidak menjadi halangan, “Tapi yang aku suka dari Derry selama ini adalah dia bisa membimbing aku dan selalu menjaga hubungan kita untuk tetap berjalan on the right track,” cerita Dinta.

Menurut Dinta, Derry juga selalu menjaga keutuhan hubungan mereka. Tidak pernah ada masa dimana Derry melepaskan Dinta atau membiarkan hubungan mereka memburuk saat mereka sedang bertengkar atau berselisih paham. Hubungan mereka berdua dilandasi oleh rasa saling menghargai dan selalu mengingatkan satu sama lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik. “Perjalanan hubungan aku dan Derry selama lima tahun pacaran tentunya tidak hanya berisi senang-senang saja, tapi juga ada masa dimana salah satu dari kami down, tapi tetap saling support satu sama lain,” tambah Dinta.

Perjalanan menuju keputusan untuk menikah juga sangat panjang. Ada masa dimana Dinta dan Derry mempertimbangkan apakah mereka yakin untuk menikah atau masih ingin meng-explore kehidupan terlebih dulu, karena Derry masih ingin fokus mengembangkan usahanya dan Dinta pun masih sibuk dengan kuliah S2-nya sambil berkarir. Tapi semua keraguan dan pertimbangan terjawab saat Derry melamar Dinta, di waktu yang menurut Dinta sangat tepat, “dan sepertinya sudah jalan Tuhan seperti itu,” tutup Dinta.

Derry melamar Dinta tepat di hari Anniversary mereka yang ke-lima. Saat itu Derry mengajak Dinta makan malam di sebuat café yang suasananya sangat enak dan nyaman untuk ngobrol. Derry sengaja memilih tempat itu karena mereka berdua adalah tipe orang yang tidak terlalu suka keramaian. Mereka lebih memilih untuk pergi ke tempat yang nyaman untuk menghabiskan quality time berdua.

Malam itu, tidak disangka Derry tiba-tiba mengeluarkan kotak cincin dan mengajak Dinta untuk menikah. Menurut Dinta, ucapan Derry saat itu terdengar seperti gumaman karena menurutnya Derry terlihat sangat tegang bahkan sampai gemetaran. Dinta sendiri saat itu sangat kaget dan tidak menyangka, karena walaupun mereka berdua sudah sangat mengenal dan merasa nyaman satu sama lain, reaksi mereka berdua tetap sangat natural saat menghadapi momen lamaran ini, ”dan menurut aku proposal yang Derry lakukan sangat sweet, karena kita berdua berada di waktu dan tempat dimana kami bisa menjadi diri sendiri yang sederhana,” kenang Dinta.

Dalam mempersiapkan acara lamaran keluarga, Dinta dan Derry menggabungkan latar budaya kedua keluarga mereka, dimana Dinta berasal dari suku Minangkabau sedangkan Derry berasal dari suku Jawa dan Betawi. Kedua keluarga besar mereka juga sangat excited karena perbedaan budaya mereka bisa menjadi hal yang unik untuk diabadikan.

Untuk proses lamaran sendiri, mereka memutuskan untuk menyelenggarakannya dengan berlatar belakang adat budaya Betawi. Prosesnya diawali dengan tradisi Palang Pintu, yang berarti berkomunikasi dengan bertukar pantun. Konon katanya, tradisi ini merupakan simbol kesiapan dan kesediaan lahir batin seorang lelaki Betawi untuk mengarungi kehidupan berumah tangga.

Di tengah acara, Dinta dan Derry juga berbalas pantun. Derry menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya untuk melamar Dinta melalui pantun yang romantis, yang dibalas dengan jawaban Dinta yang menerima lamaran Derry melalui balasan pantun yang manis.

Untuk tema warna acara lamaran, Dinta dan Derry memilih warna Lime Green untuk memberikan sentuhan ceria dan terang. Busana yang dikenakan oleh Dinta dan Derry pun berwarna Lime Green yang sengaja mereka buat agar serasi saat acara lamaran. Untuk keluarga inti, Dinta dan Derry juga menentukan dress code seperti untuk para Ibu dan kakak perempuan, dress code-nya adalah kebaya encim dan sarung Betawi. Untuk para Bapak dan kakak laki-laki, baju koko dan sarung yang dikalungkan serta peci menjadi dress code-nya, dan semuanya benar-benar menggambarkan ciri khas kebudayaan Betawi. Semua terlihat cantik menyatu dengan dekorasi ruangan yang dipenuhi oleh bunga berwarna-warni, “overall proses lamaran berjalan dengan sangat lancar dan semua senang, hehe..” ujar Dinta.

Momen yang paling berkesan dari acara lamaran ini menurut Dinta asalah saat ia dan Derry berbalas pantun. Saat itu reaksi keluarga, para tamu dan teman-teman yang hadir juga sangat cair penuh dengan canda tawa, membuat suasana terasa lebih intim dan hangat. Tanpa disangka Derry juga menceritakan bagaimana ia mengenal Dinta selama delapan tahun, dimana ia menunggu Dinta selama tiga tahun untuk menjadi pacarnya. Kedua momen ini menjadi momen yang tidak terlupakan bagi Dinta.

Top 3 vendor pilihan Dinta dan Derry:

  1. DMSJMN: “Merupakan vendor busana pria yang top banget. Desainnya terlihat sangat classy!”
  2. Andhita Siswandi: “Kalau yang ini fashion designer yang bisa memahami keinginan aku..“
  3. Classytent Decoration: “Dekornya memuaskan, sangat bagus!”

Dan berikut tips dari Dinta, khusus untuk kamu yang sedang mempersiapkan acara lamaran:

“Aku adalah tipe orang yang ingin involve di seluruh persiapan acara lamaran sampai pernikahan aku. Aku mencari vendor sendiri dengan melakukan research di Internet dan tanya sana sini. Aku pun mencari vendor yang sesuai dengan konsep aku, budget friendly, dan tentunya responsive dan peduli dengan keinginan aku. Hal ini tentunya tidak mudah, terlebih aku tidak memakai WO untuk acara lamaran ini. Tapi beruntung aku bisa meminta bantuan dari kakak perempuanku untuk jadi konseptor yang memberi gambaran konsep yang ‘nyambung’ dengan ide aku, dan tentunya free of charge, hehehe.. Intinya adalah kamu bisa mewujudkan keinginan kamu, asalkan sabar dan mau melihat detailnya satu persatu, dari segi harga, style, dan juga service-nya. Selain itu, kamu bisa mencoba untuk minta bantuan dari 1 – 2 orang terdekat untuk membantu membuat konsep dari ide kamu, untuk membantu kamu nantinya. So, good luck, girls!

×