Lamaran Nuansa Kekeluargaan ala Michiko dan Fandri

By Cynthia on under The Engagement

Style Guide

Style

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Kebaya Teeas Rubismo

Photography Antijitters Photo

Make Up Artist Alvina Tania

Cerita manis sepasang kekasih yang dimulai dari bangku sekolah maupun kuliah memang sudah tidak asing lagi kita dengar. Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta semasa sekolah memang indah, namun belum tentu bisa lanjut sampai ke pelaminan. Realita yang terjadi, banyak pasangan yang mulai memutuskan hubungan dengan kekasihnya semasa sekolah ketika mulai masuk ke dunia kerja. Tapi ternyata masih banyak juga pasangan yang berhasil membawa ‘cinta semasa sekolah’ sampai ke pelaminan, seperti kisah Michiko dan Fandri berikut ini.

Awalnya mereka bertemu ketika semester dua saat kuliah. Mereka berdua sama-sama tergabung dalam panitia sebuah acara yang diselenggarakan di kampus. Saat itu Michiko memang baru putus dengan mantan pacarnya saat SMA. Tiba-tiba teman mereka menjodoh-jodohkan Michiko dan Fandri. Michiko mengaku bahwa ia memang sempat tertarik dengan Fandri, namun Fandri malah cuek dengan dia. Akhirnya Michiko pun jadian dengan pria lain.

Dua tahun kemudian saat Michiko masih memiliki pacar, tiba-tiba Fandri pun menghubunginya kembali dengan alasan menanyakan tentang sebuah kegiatan himpunan kemahasiswaan. Namun setelah itu Fandri pun menghilang kembali. Setelah itu, Michiko malah putus dengan mantan pacarnya karena sesuatu hal. Michiko pun memutuskan untuk tidak cerita ke siapapun mengenai hal tersebut karena saat itu ia merasa malas untuk berpacaran lagi. Namun beberapa bulan setelah itu, Fandri pun mulai mengajaknya berbicara lagi, sampai akhirnya mereka jadian.

Setelah menjalani hubungan jarak jauh yang cukup lama, Fandri berada di Bandung sedangkan Michiko berada di Tangerang Selatan, mereka pun langsung memutuskan untuk bertunangan. Lamaran romantis dimulai dari percakapan yang dilakukan mereka melalui telepon sekitar bulan Juli 2015. Namun perbincangan serius di telepon tersebut pun baru dilanjutkan bulan Agustus 2015 ketika Michiko ada perjalanan dinas selama 3 minggu di luar kota. Akhirnya Fandri pun pergi ke rumah Michiko saat itu. Awalnya mereka hanya melakukan percakapan seperti biasa. Namun tiba-tiba Fandri malah mengeluarkan sebuah buku berwarna putih dari tasnya. Ternyata buku tersebut adalah a wedding planner book. Saat Michiko membuka buku tersebut, di dalamnya telah tercantum nama Fandri sebagai pengantin pria. Namun nama pengantin wanita di buku tersebut masih dikosongkan. Sambil menyodorkan sebuah pensil, Fandri pun bertanya pada Michiko, “Mau menikah sama aku nggak? Kalau mau, tulis nama kamu di buku ini ya.” Michiko pun malah menanggapinya dengan sedikit sebal. Ia menjawab dengan nada bercanda, “Loh, kok kamu nyuruh aku nulis namanya pakai pensil? Tapi nama kamu sendiri sudah ditulis pakai bolpen, maksudnya apa? Supaya nanti bisa ganti calon gitu? Ah sebal..”. Lalu Fandri pun panik. Fandri menjelaskan bahwa sebelumya ia mencari bolpen di rumahnya, namun tidak ketemu. Hanya pensil saja yang ada. Mendengar cerita dari Fandri, Michiko malah tertawa. Ia akhirnya menulis namanya di buku tersebut.

Malamnya Michiko dan Fandri langsung berangkat ke Bandung. Rencananya mereka ingin meminta izin ke orang tua Michiko mengenai lamaran ini. Setelah bertemu dengan orang tua Michiko, mereka malah bingung untuk memulai pembicaraan ini karena suasananya lagi santai. Bahkan orang tua Michiko saja memakai pakaian rumah sambil duduk lesahan dan nonton televisi. Mereka berbicara santai mengenai kisah lama orang tua Michiko. Saat ibu Michiko sedang bercerita, tiba-tiba Fandri langsung berkata, “Jadi gini om dan tante, saya kan sudah lama pacaran dengan Chiko…”. Seketika suasana pun jadi hening dan sedikit canggung. Akhirnya Fandri mengungkapkan maksudnya, kemudian orang tua Michiko dapat menerimanya dengan baik. Namun setelah hari itu, ayah Michiko malah protes kepadanya. Ayahnya mengatakan bahwa lain kali jika ingin berbicara serius harus dikasih aba-aba terlebih dulu, biar bisa siap-siap dan serius. Lalu pakaian yang dipakai juga rapi.

Secara keseluruhan, Fandri telah melamar Michiko sebanyak tiga kali. Pertama ketika mereka masih kuliah. Saat itu mereka berdua sedang bertengkar karena Michiko masih belum tahu apakah Fandri memang benar serius menjalin hubungan dengan dia atau tidak. Namun tiba-tiba keesokan harinya Fandri datang membawa balon helium putih dengan jumlah yang banyak, kemudian melamarnya dengan cincin yang terbuat dari permen. Lamaran pertama memang hanya untuk fun saja, sebagai pembuktian kalau Fandri memang serius dengan Michiko. Namun lamaran kedua lebih serius, ketika Fandri membawa wedding planning book berwarna putih serta pensil agar Michiko menulis nama di dalam buku tersebut. Lamaran terakhir ketika acara lamaran digelar. Fandri langsung diminta ayahnya untuk berbicara di depan umum sambil cerita awal mereka berdua bertemu. Tiba-tiba Fandri langsung berlutut di depan Michiko sambil memberikan cincin. Michiko pun langsung terkejut. Sebelumnya Michiko mengira bahwa Fandri hanya akan memberikan cincin dengan cara yang biasa.

Seluruh persiapan acara lamaran ini ditangani sendiri oleh keluarga dan teman Michiko dan Fandri. Mulai dari dessert yang dibuat oleh teman SMA Michiko hingga beragam kebutuhan lainnya. Untuk dekorasi, Michiko membeli kebutuhan bunga di Rawa Belong. Tante Michiko juga membantu merangkai bunga-bunga tersebut. Sedangkan teman-teman Michiko membantu menghias rumah serta cupcake. Tak hanya itu saja, teman kantor ayah Michiko juga ikut membantu dengan mengatur kursi serta sound system. Tidak ada MC di acara lamaran ini karena semua akan kebagian berbicara di depan umum, mulai dari orang tua Fandri, orang tua Michiko, Fandri, dan Michiko. Nenek Michiko juga ikut ‘begadang’ mengatur susunan paper flower yang dipasang ke tembok. Seluruh rangkaian acara lamaran ini bisa berhasil karena kontribusi orang-orang terdekat.

Saat acara berlangsung, Michiko langsung menyambut Fandri dan keluarganya yang datang. Saat perkenalan, biasanya hanya keluarga saja yang diperkenalkan, namun kali ini teman-teman yang hadir juga turut diperkenalkan. Kursi yang diatur tidak berhadap-hadapan antar keluarga, namun bercampur dan dikelompokkan berdasarkan kategori kakek-nenek, tante dan om, dan sepupu-sepupu. Tujuannya agar lebih mengakrabkan dua keluarga yang akan menjadi satu. Saat acara dimulai, ayah Michiko dan ayah Fandri berhasil membuat acara menjadi semakin mengalir, hangat, tidak kaku, dan meriah karena banyak lawakan yang mereka lontarkan. Walaupun banyak momen tertawa, namun ada juga bagian yang mengharukan, yakni saat ibu Michiko ‘menerima’ Fandri menjadi bagian dari keluarga. Bahkan salah satu teman Michiko sejak SMP ikut menangis.

Acara lamaran ini telah dipersiapkan sejak 2 bulan sebelum acara digelar, yaitu sekitar awal Desember 2015. Namun sempat terpotong dengan perjalanan dinas Michiko selama 3 minggu serta liburan keluarga tahun baru selama 1 minggu. Sehingga jika dihitung, waktu efektifnya hanya 1 bulan saja. Kesulitan yang dirasakan oleh Michiko dan Fandri ialah saat mencari vendor makeup. Beberapa makeup artist yang diincar oleh Michiko ternyata sudah fully booked semua. Beruntung ia menemukan Tania di Instagram. Portofolio style makeup serta jadwal Tania cocok. Sedangkan untuk seserahan, mereka bersepakat hanya tukar makanan saja, tapi ayah Michiko tidak mau menggunakan kotak seserahan seperti orang kebanyakan. Akhirnya ayah Michiko sampai ke Sukabumi untuk mencari semacam bakul nasi dari rotan versi ukuran besar, namanya ‘boboko’ kata orang sunda.

Konseptor utama acara ini sebenarnya ayah Michiko. Beliau mau lamaran Michiko berbeda dari biasanya. Ayah Michiko juga bilang bahwa Keluarga Fandri itu sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, jadi suasana acara ini harus kekeluargaan, santai, tidak kaku, dan bebas. Dengan konsep tersebut, akhirnya diputuskan bahwa duduknya tidak berhadap-hadapan tetapi justru berkelompok sesuai kategori umur. Kemudian pengungkapan maksud dan tujuan juga tidak diwakilkan tapi langsung sendiri, sedangkan perkenalan keluarga dan teman tidak hanya dikenalkan saja, tetapi juga diceritakan beberapa momen bersama anggota keluarga yang dikenalkan tersebut. Selain itu, Fandri dan Michiko juga tidak bertukar cincin. Sehingga hanya ada acara Fandri memberikan cincin sebagai tanda pengikat saja. Biasanya dari pihak keluarga wanita juga harus balas memberikan sesuatu, misalnya dengan memberikan jam tangan atau barang lainnya. Kali ini sangat random karena keluarga Michiko memberikan eksternal hard disk untuk Fandri. Kebetulan Fandri juga lagi butuh barang tersebut. Michiko berpikir, daripada membeli barang lain yang tidak terpakai, lebih baik memberikan barang yang berguna, praktis, dan membuat dia bahagia.

Top 3 Vendor di Lamaran Michiko dan Fandri

1. Antijitters Photo

Michiko mengatakan bahwa Ari (fotografer) dan Uung (videografer) berhasil menangkap banyak momen candid saat acara tersebut berlangsung. Bahkan ia juga sempat tidak sadar bahwa ternyata momen tersebut memang direkam, awalnya mereka pikir hanya foto saja. Selain itu, walaupun Ari dan Uung hanya bekerja berdua saja, mereka tetap pintar mengambil posisi. Sehingga acara lamaran tersebut bisa berjalan dengan sangat khidmat serta tidak mengganggu keluarga yang menikmati acara.

2. Teeas Rubismo

Kebaya yang dihasilkan oleh vendor ini sangat rapi, hasil tepat waktu, dan bustier-nya sangat enak dipakai karena tidak membuat sesak nafas selama dipakai. Michiko tidak menuntut vendor untuk membuat model bermacam-macam. Namun ia mempercayakan Teeas untuk membuat model kebaya apapun yang simpel, kemudian payetnya jangan berwarna-warni. And turns out, hasilnya sangat memuaskan.

3. Alvina Tania

Hasil make-up yang dihasilkan Tania super flawless dan tahan lama. Ada sesi foto outdoor setelah acara inti lamaran selesai di mana udara saat itu sangat panas sebenarnya. Namun make-up Michiko masih tetap rapi dan tidak luntur.

Momen berkesan yang dirasakan oleh Michiko saat lamaran ini berlangsung ialah pada saat Fandri tiba-tiba speech mengenai awal perjalanan mereka hingga acara lamaran berlangsung. Kemudian Fandri juga get down on his knee dengan cincin yang sudah dibawa di depan seluruh keluarga dan teman-teman. Fandri itu orangnya sangat pemalu pasif, namun saat itu dia bisa berani seperti itu depan orang banyak. Tentu saja hal ini bikin kaget dan terharu. Momen lainnya ialah saat ibu Michiko ‘menerima’ fandri ke dalam keluarga mereka. Kemudian ibu Fandri juga memberikan pesan-pesan untuk Michiko dan Fandri agar menjadi pasangan yang bisa saling mendukung satu sama lain.

Michiko dan Fandri juga memberikan tips dalam mempersiapkan acara lamaran kepada pembaca The Bride Dept. Intinya, jika banyak keperluan yang ingin dipersiapkan sendiri, sebaiknya ajaklah calon, teman, dan keluarga terdekat kamu. Mengerjakan bersama-sama akan jauh lebih menyenangkan, daripada dikerjakan sendiri. Jangan takut untuk mencoba membuat segala sesuatunya sendiri, selain lebih hemat, pasti hasilnya juga akan lebih memuaskan dan membekas di hati.