Lamaran Tiesha dan Gema yang Santai dan Penuh Kesan Kekeluargaan

By Leni Marlin on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Private Residence

Event Styling & Decor DIY & Anind Florist

Photography Namora Pictures

Make Up Artist Gyanda Agtyani

Hair Do Salon by Houzcall

Catering Emen Catering

Bride's Attire Tandamata

Seserahan Sentra Bunga Seserahan

Tiesha dan Gema bertemu saat keduanya kuliah di Universitas Indonesia, Depok, 2007 silam. Hobi musik dan event organizing pun mempertemukan mereka dalam sebuah kepanitiaan “Jazz Goes to Campus”.

“Sebetulnya, kami sudah saling mengenal sejak tahun pertama kuliah, tapi kami baru menjadi lebih dekat setelah tergabung dalam kepanitiaan tersebut. Awalnya, kami banyak berdiskusi tentang pekerjaan. Bahkan saat first date, bukannya nonton bioskop atau dinner, Gema malah mengajak saya ngopi dan lagi-lagi diawali dengan diskusi soal pekerjaan. Berawal dari kecocokan itu, kami merasa ada chemistry yang kuat dan akhirnya mulai berpacaran,” ujar Tiesha memulai kisahnya.

Setelah keduanya lulus kuliah, mereka ternyata memiliki interest yang sama di bidang industri capital market. Bekerja di industri yang sama membuat hubungan Tiesha dan Gema semakin langgeng. “Karena selain sebagai pacar, Gema juga merangkap sebagai mentor saya”.

Setelah berpacaran selama enam tahun, mereka memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. “Gema bukan orang romantis, saya juga. Jadi, saat memutuskan hal itu, proposalnya lebih seperti proses diskusi tanpa arrangement romantis seperti candlelight dinner dan sebagainya. Waktu ia memberikan cincin pun, he’s doing it in his own way. Jadi, waktu itu kami sedang menunggu makan malam disajikan di restoran, tiba-tiba Gema bilang, ‘Sini jarinya.’ Lalu, ia memasukkan cincin ke jari manis saya.”

Tiesha dan Gema memilih 5 November sebagai momen yang tepat untuk acara lamaran karena pada tanggal yang sama, tujuh tahun lalu, keduanya resmi berpacaran. Persiapan yang dilakukan cukup singkat, yaitu kurang dari satu bulan. Acara lamaran yang diadakan di rumah ini memang cukup simple. “Kami ingin menonjolkan kesan kekeluargaan dan santai.”

Tiesha pun memilih warna-warna pastel yang warm dan netral seperti cokelat muda, putih, dan pink untuk attire keluarga inti serta dekorasi. Sementara itu, untuk konsep acara, mereka menginginkan alur acara yang ringkas sehingga keluarga justru memiliki banyak waktu untuk berkenalan dan ngobrol-ngobrol santai sambil makan siang. Untuk dekorasi, Ibu dan Tante Tiesha memanfaatkan meja kabinet, cermin, dan pajangan yang sudah ada di rumah sebagai center point. Lalu, dihias dengan bunga-bunga berwarna baby pink dan putih.

Top 3 vendor yang direkomendasikan Tiesha adalah:

1.Tandamata

“Dari awal melihat desain Tandamata (Mbak Christina Pangaribuan) dan ciri khas bordirnya, saya sudah jatuh hati. Rancangan Tandamata bisa menjadi alternatif untuk bride to be yang tidak ingin mengenakan kebaya di hari lamaran. Yang lebih menyenangkan, proses pemilihan model dan pemesanan semua bisa dilakukan via telepon dan Whatsapp tanpa harus ke boutique-nya untuk measuring dan fitting. Hal ini membantu sekali di tengah-tengah kesibukan saya bekerja.”

2. Anind Florist

“Dengan bujet yang limited, Tante Anind bisa membuat dekorasi bunga yang cantik dan sesuai dengan selera kami. Dengan kreativitasnya, meja kabinet dan cermin yang sudah ada di rumah disulap menjadi center point yang cantik.”

3. Gyanda Agtyani

“Berhubung ini pertama kalinya saya di-makeup oleh make up artist, saya spend waktu lumayan lama untuk mencari-cari MUA sampai akhirnya ketemu Instagram account Mbak Anda. Tanpa request ini itu, Mbak Anda mengerti sekali kalau saya ingin make up yang terkesan warm dan cocok untuk acara rumahan.”

Menurut Tiesha, momen yang paling berkesan adalah pada saat persiapan acara lamaran. “Kami tidak menggunakan jasa EO sehingga persiapan susunan dan konsep acara baru dilakukan satu hari sebelum hari-H. Waktu itu, kami akhirnya sepakat untuk mempersingkat alur acara formal dan memperpanjang waktu santap makan siang.”

Tiesha mengatakan, tujuannya supaya acara tetap berjalan kasual dan tidak kaku. Tamu-tamu dari luar kota pun tidak kelelahan. “Saat waktu makan siang, kami senang sekali melihat kedua keluarga besar bisa nge-blend dan ngobrol-ngobrol seru. Mereka bisa saling berkenalan dan beramah-tamah. Rasanya, semua usaha untuk menyelenggarakan acara ini pun terbayar.”

Nah, Tiesha pun membagikan tips untuk brides to be supaya acara lamaran dapat berjalan dengan lancar. Berikut di antaranya:

  • Acara lamaran bisa dibilang merupakan exercise sebelum kamu menyiapkan acara dengan skala yang lebih besar seperti resepsi. Penting sekali untuk berkoordinasi dengan keluarga kamu dan keluarga pasangan sehingga persiapan acara lamaran bisa semakin mendekatkan kedua keluarga sebelum persiapan acara resepsi.
  • Jaga acara lamaran tetap intimate karena tujuan awal acara ini adalah supaya keluarga besar kamu dan pasangan bisa saling mengenal. Di area makan, ada baiknya kamu bisa menyediakan round table kecil-kecil sehingga keluarga besar bisa nge-blend selama waktu makan.
  • Peranmu dan pasangan selama acara ini untuk saling mengenalkan om, tante, dan saudara-saudara juga sangat penting.
×