Lamaran Adat Lampung ala Putri and Nando

By Valeska on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Engagement Reception

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Afendo Decor

Photography Jacko Zakaria

Videography Jacko Zakaria

Kebaya Dieva Ipeh

Make Up Artist Fauzia Hanum

Catering Afendo Decor

Berawal dari berada dalam kelompok belajar yang sama di kampus, Putri dan Nando pertama kali saling mengenal pada tahun 2007. Menurut Putri, pembicaraan pertamanya dengan Nando adalah seputar bahan diskusi kelompok. “Tepat sebelum diskusi kelompok dimulai, tiba-tiba Nando ngasih aku bahan diskusi. Aku jadi kaget waktu itu,” jelas Putri. Sejak saat itu, mereka kian dekat hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Kedua pasangan ini memutuskan untuk mengadakan lamaran adat lampung setelah beberapa lama bersama. Yuk, simak kisah mereka!

“Proposal romantis? Oh, ngga ada. Kami sebetulnya putus sebelum lamaran,” jawab Putri saat ditanya apakah Nando melamarnya dengan romantis. Putri yang berpacaran dengan Nando selama hampir 8 tahun mengatakan bahwa memang hubungannya tidak selalu berjalan mulus, makanya mereka pun sempat mengalami putus hubungan. “Nando waktu itu bilang bahwa dia dan orang tuanya mau ketemu ibuku setelah aku selesai mengikuti program ko-asisten. Sejujurnya aku lumayan kaget sih ketika pulang ke Lampung diajak ketemu ibunya Nando dan ibuku.”

Mengingat Putri berdarah Lampung, maka adat yang digunakan dalam lamaran Putri dan Nando adalah adat Lampung. Putri menjelaskan bahwa dalam adat Lampung, pasangan haruslah melewati tahapan nindai (mencari tahu) dan perkenalan keluarga terlebih dahulu, namun demi efisiensi waktu, ia dan Nando memutuskan untuk langsung mengadakan lamaran. Sebagaimana lamaran pada umumnya, acara lamaran Putri dan Nando dibuka dengan penjelasan maksud dan tujuan kedatangan keluarga Nando. Setelah keluarga Putri menyetujui, Putri pun dipanggil untuk dihadirkan di tengah-tengah keluarganya. “Aku juga ditanyakan apakah setuju untuk dilamar atau tidak, jadi persetujuan untuk dilamar sebetulnya ngga cuma datang dari keluarga, tapi dari aku juga.”

Inti dari acara lamaran adat Lampung adalah prosesi nyighok ngikok yang dilaksanakan sesudah Putri menyatakan bahwa ia setuju dilamar oleh Nando. Dalam prosesi nyighok ngikok, Putri dan Nando diminta untuk berdiri di atas nampan emas sembari disuapi oleh neneknya Nando dengan kelapa dan gula merah. “Kami diharapkan dapat menjadi pribadi yang bermanfaat dalam hal-hal yang baik untuk keluarga dan orang lain,” kata Putri menjelaskan. Setelah itu, keluarga Nando secara bergantian memasangkan Putri perhiasan yang melambangkan hadiah dari Nando kepada Putri. “Pada hakikatnya, perhiasan ini mirip seserahan dalam lamaran adat lain, karena kalau dalam lamaran adat Lampung, pihak keluarga laki-laki membawa barang-barang kebutuhan perempuan juga kok. Tambahannya cuma peralatan untuk prosesi nyighok ngikok dan kain tapis Lampung.”

Bagian terakhir dari prosesi nyighok ngikok adalah pemasangan kain jung sarat dan selendang mudowaroh. “Biasanya, selendang mudowaroh itu dipakaikan juga saat menikah. Dengan dipakaikan selendang mudowaroh, tandanya aku sudah lamar dan tidak boleh ada laki-laki lain yang deketin,” lanjut Putri menjelaskan. Pemasangan kain dan selendang tersebut ditutup dengan pengikatan yang menggunakan benang lutan tiga warna: merah; hitam; dan putih. “Kurang lebih melambangkan bahwa aku sudah terikat dengan doa agar berjodoh dan dijauhkan dari halangan dalam persiapan pernikahan.”

Kalau kamu perhatikan, Nando memakai sejenis peci dalam acara lamarannya. Ternyata peci tersebut memiliki nama dan maknanya tersendiri, lho. “Namanya punai meghem atau bisa juga disebut peci manuk. Itu peci khas Lampung. Bentuknya kan mirip burung yang sedang mengeram telur tuh, itu karena maknanya agar laki-laki dapat bertanggung jawab terhadap keluarganya nanti.”

Upacara adat Lampung tentunya identik dengan warna kuning keemasan yang terkesan extravagant dan warna tersebut memang mendominasi lamaran Putri dan Nando, namun Putri yang menggemari warna hijau dan salem ingin menambahkan sedikit nuansa dari kedua warna tersebut sehingga terciptalah dekorasi yang terlihat elegan. Selain dekorasi yang elegan ini, Putri juga menyukai prosesi nyighok ngikok yang merupakan inti dari acara lamarannya.

Tidak hanya 3 vendor yang dipilih Putri sebagai top vendors, tetapi 4 vendor, yaitu:

Afendo Decor

Aku suka banget sama dekorasi katering dan desserts-nya karena hasilnya sesuai yang aku mau. Makanannya juga enak-enak!

Fauzia Hanum

Hasil makeup-nya soft dan natural, aku suka banget! Menurutku, Hanum sangat bertanggung jawab dan profesional. Tepat H-1 acara lamaranku, Hanum ketinggalan pesawat karena ada kecelakaan di tol menuju bandara. Alhasil, dia ke Bandar Lampung naik mobil. Wow banget kan!

Dieva Ipeh

Kebayanya nyaman dan membuat aku terlihat langsing!

Fotologue

Aku dan Nando jarang banget difoto, tapi Lukas dan Bisma tetap super baik dan sabar dalam mengarahkan gaya. Hasil fotonya juga super cepat!

Tips persiapan lamaran dari Putri untuk pembaca The Bride Dept:

Kalau lamaran kamu menggunakan adat tertentu, alangkah baiknya untuk mengadakan gladiresik terlebih dahulu supaya kamu bisa mengerti jalannya acara dan tahapan-tahapan yang harus dijalankan, jadi ngga bingung saat pelaksanaannya pada hari H.

×