Langsung Punya Anak Setelah Menikah?

By Rebebekka on under How To

Setelah menikah saya langsung berangkat ke Seoul untuk menemani suami bekerja. Sesampainya disana, saya iseng-iseng Skype dengan sahabat saya. Saya bertanya kepadanya –yang telah lebih dulu memiliki anak– bagaimana cara cepat bisa hamil. Dia pun memberikan tips dan triknya. Mulai dari mengkonsumsi tauge, istirahat yang cukup, sampai pada posisi seks yang tepat dan meletakkan bantal di bawah bokong sehabis bercinta. Setelah membeberkan semuanya, teman saya bertanya, “Lo yakin mau buru-buru punya anak? Nikmatin aja dulu masa-masa pacaran di awal pernikahan lo.”

Peer pressure. Mungkin itu salah satu alasan yang membuat saya sedikit menggebu-gebu ingin memiliki anak, walaupun saya baru menikah kurang dari sebulan.

“Gimana, sudah isi belum?”

“Udah ada kabar positif ?”

“Mau tunggu apa lagi, ga usah ditunda-tunda ya…”

Kenyataan bahwa saya tinggal jauh dari tanah air tidak membuat kuping saya adem dari pertanyan-pertanyaan yang “terlalu peduli menjurus ke jahil” seperti itu. Saya jadi seperti kejar target untuk memiliki anak.

Hingga akhirnya, beberapa minggu kemudian, saya menyadari bahwa saya tidak lagi menstruasi namun keram perut hampir setiap hari. Saya demam setiap sore. Menggunakan bahasa tarzan di depan penjaga apotek orang Korea yang tidak bisa berbahasa Inggris, saya membeli test pack. Saya melakukan gerak-gerik seperti orang mau pipis dan kemudian berakting hamil. Setelah ditertawakan oleh sayang apoteker nya dan orang-orang yang berada di sekitar saya, akhirnya saya mendapatkan test pack tersebut.

Saya coba sendirian di kamar mandi sambil berdebar-debar menunggu hasilnya. Ini adalah perubahan besar dalam hidup saya setelah menikah dan menjadi istri seseorang. Hasilnya dua garis positif! Perasaan saya campur aduk, antara senang, kaget, dan bingung. Ternyata keram perut dan demam yang sebelumnya saya alami adalah tanda-tanda kehamilan yang tidak saya sadari. Saya terakhir mengalami menstruasi tepat pada hari pernikahan kami. Hal itu berarti saya tidak mengalami jeda menstruasi dan langsung hamil setelah menikah. “Wah, tokcer banget!” Begitu komentar orang-orang ketika saya mengabarkan kehamilan kepada saudara dan teman-teman.

Saya menjalani kehamilan sendirian di negeri orang dan dengan info minimum tentang kehamilan serta bayi. Kondisi kehamilan setiap wanita berbeda-beda: ada yang menjalaninya dengan santai, namun ada pula yang sulit. Kehamilan pertama saya sangatlah tidak gampang. Trimester pertama saya muntah dan mual sepanjang hari. Morning sickness hanyalah bualan belaka, karena yang ada adalah all-day sickness. Niat hati mau keliling Korea setelah menikah terpaksa ditunda karena kehamilan yang sulit. Jangankan untuk traveling, bangun dari tempat tidur saja sudah susah payah. Saya merasa sangat lemah dan manja sepanjang kehamilan.

Setelah bayi lahir, saya yang bisa dikatakan hamil dengan kurang persiapan malah terkena baby blues. Saya cemburu buta dengan si bayi. Yang biasanya hanya berdua dengan suami di rumah, tiba-tiba muncul “stranger”, itu yang ada di pikiran saya ketika itu. Ucapan selamat dari orang-orang, terutama yang telah memiliki anak, selalu disertai dengan kata-kata “selamat begadang, ya”. Saya baru mengerti apa arti kalimat tersebut setelah membawa pulang si bayi dari rumah sakit. Malam harinya kami hampir tidak tidur karena si bayi menangis sepanjang malam. Ya, sepanjang malam. Setelah kehadiran sang bayi, kami sangat sibuk mengurusnya sampai tidak ada waktu untuk berduaan. Tidak ada bala bantuan dari ART atau babysitter. Kami lupa mengobrol. Kami tidak sempat untuk sekedar berciuman atau berpelukan seperti sebelum ada bayi. Kami juga tentu saja menjalani “puasa” selama 40 hari sampai masa nifas berakhir. Semua waktu tercurahkan untuk si newborn. Saya jadi sering marah-marah ke suami karena kurang tidur dan juga pengaruh hormon. Kami berdua shock dengan perubahan besar ini.

Saat ibu saya datang ke Seoul untuk membantu mengurus bayi, saya dan suami akhirnya punya kesempatan pergi berdua saja. Ketika suami menggandeng tangan saya, saya sampai ingin menangis rasanya. Lupa rasanya bergandengan tangan dan mengobrol santai setelah memiliki bayi. Ternyata ini yang dimaksud teman saya untuk menikmati dulu masa-masa berdua di awal pernikahan sebelum ada anak. Rupanya setelah kehadiran sang anak menjadi sulit untuk bisa punya quality time berdua dengan suami. Sulit loh ya, bukan tidak bisa.

Apakah punya anak sehoror itu?

Tentu saja tidak!

Setelah dua bulan, bayi sudah tidak terlihat ringkih dan jadwal tidur sudah mulai teratur. Kami sudah mulai terampil merawat bayi. Saat inilah kami baru sadar bahwa memiliki anak memberikan kebahagian yang sulit dideskripsikan; semacam dapat hadiah besar namun tidak ternilai. Menggendong bayi seperti memakai aksesoris hidup yang membuat kita banyak dilihat orang.

“Anaknya lucu banget! Gemesin!” Ketika menggendong bayi, ada saja yang datang dan menggodanya. Saya tentu bangga sebagai ibunya. Melihat anak tidur seperti melihat malaikat. Wajah mereka benar-benar polos dan bersih. Wangi mulutnya dan bau badannya bisa bikin ketagihan!

Selanjutnya hubungan saya dan suami semakin kompak dengan kehadiran bayi. Suami memijiti saya selagi menyusui atau dia yang menyusui dengan ASI perah. Kami berdua jadi memiliki tujuan pernikahan yang lebih jelas setelah punya anak. Suami lebih semangat kerja karena sadar ada tanggung jawab anak yang harus dibesarkan.

Nah, pilihannya adalah kamu ingin langsung punya anak setelah menikah atau menundanya terlebih dahulu supaya bisa menikmati masa-masa di awal pernikahan. Hal ini tentu saja menjadi kesepakatan antara kamu dan suami. Bahkan pilihan untuk punya ataupun tidak punya anak sekalipun. Cheers!

×