Long Distance Marriage: Bagaimana Cara Menghadapinya?

By alandakariza on under How To, Relationship

Maraknya kesempatan untuk belajar dan bekerja di luar negeri tentunya berimplikasi pada fenomena pernikahan. Di satu sisi, sebagian dari kita bisa ikut dengan suami ke luar negeri, atau justru mengajak suami untuk mendampingi kita sebagai dependent. Namun, sebagian pasutri memilih untuk menjalankan pernikahan jarak jauh (long distance marriage) karena berbagai alasan, misalnya pasangan tidak ikut karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan atau harus menjaga orangtua yang sudah sepuh atau sakit.

Tentunya, berpisah dari pasangan — apalagi setelah menikah, bisa menjadi hal yang sangat menantang untuk dilakukan. Butuh trik tertentu untuk bisa menjalani hal ini dengan mudah. Untuk itu, The Bride Dept mewawancarai beberapa perempuan yang terpaksa untuk menjalani long distance marriage agar bisa mengejar impian masing-masing. Berikut beberapa cerita dan tips dari mereka.

“Kalau kita yang pergi kuliah sementara suami tidak ikut mendampingi, kita harus fokus dengan niat untuk belajar itu selama sedang berjauhan. Dengan begitu, kita bisa menjaga supaya kerinduan pada suami tidak mengganggu jalannya kuliah, maupun prestasi yang kita raih. Selain itu, penting sekali untuk saling menjaga kepercayaan dan berkomunikasi secara konstan. Jangan lupa untuk memberi kejutan-kejutan spesial di momen tertentu, seperti ulang tahun, anniversary, dan sebagainya,” ujar Tasha yang sedang mengenyam pendidikan S2 di London. Baru-baru ini, suami Tasha yang bekerja di sebuah startup di Jakarta mengirimkannya bunga ke London sebagai ucapan selamat ulang tahun, lho! Mereka berdua menikah pada bulan Agustus 2016, satu bulan sebelum mulai menjalani long distance marriage mereka.

Selain Tasha, juga ada Izza yang memiliki kisah yang mirip. Izza sedang S2 di Manchester, dan langsung meninggalkan suaminya di Indonesia setelah dua bulan menikah. Mereka melaksanakan taaruf, sehingga kebersamaan mereka pun baru dijalani dengan begitu sebentar. Izza memberi masukan yang kurang lebih sama seperti Tasha.

“Tantangan long distance marriage itu ya kalau sedang merindukan satu sama lain. Solusinya telepon dan terutama video call, tetapi kadang-kadang itu saja tidak cukup, apalagi di saat kita membutuhkan pasangan secara fisik. Dalam menjalaninya, kita harus banyak bersabar dan selalu ingat bahwa long distance marriage hanya sementara. Dalam waktu dekat, insha Allah kita akan bertemu lagi dengan pasangan — untuk bareng-bareng seterusnya. Yang terpenting menurut aku sih kita harus menjaga komunikasi. Sejak sebelum berpisah, aku dan suami sudah sepakat bahwa kami harus berkomunikasi setiap hari, baik melalui chat kalau sedang sibuk, maupun melalui telepon.”

Jika Tasha dan Izza sama-sama masih menjalani long distance marriage, The Bride Dept pun mengobrol dengan Puti. Segera setelah menikah, Puti pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani pendidikan S2 selama lebih dari dua tahun, diikuti program magang. Saat ini, Puti dan suaminya telah melewati fase tersebut dan kembali bersama di Jakarta.

“Dari pengalaman kami, komunikasi memegang peranan yang sangat penting. Kami selalu menyempatkan untuk video call. Karena perbedaan waktunya 12 jam, kami menjadwalkannya ketika aku hendak tidur dan suami hendak berangkat kerja, dan sebaliknya. Komunikasi ini penting untuk menjaga agar kita bisa mengetahui hal yang paling ‘update’ dari pasangan, dan sedikit mengobati rasa rindu. Kadang-kadang, di acara-acara penting, kita juga melakukan video call supaya bisa merasakan ‘kebersamaan’ di momen-momen tersebut. Kedua, menurutku, suami dan istri harus sama-sama sibuk. Dengan begitu, kita tidak mengganggu kesibukan satu sama lain dan bisa lebih fokus dengan tugas masing-masing selama satu hari penuh. Interaksinya baru dilakukan di pagi atau malam hari. Tentunya, hal ini bisa membantu kita mencapai impian masing-masing — karena itulah yang menjadi alasan mengapa long distance marriage ini kami pilih meski berat. Ketiga, walau berada dalam long distance marriage, sempatkan juga untuk bertemu paling tidak enam sampai duabelas bulan sekali, supaya bisa ‘recharge’. Terakhir, dan yang paling penting, adalah harus saling percaya, apalagi kita sudah terikat secara agama. Harus punya pikiran positif — supaya kangen, dan bukannya curiga,” tukas Puti.

Dari pengalaman tiga orang ini, ternyata hal yang paling penting untuk digarisbawahi memang menjaga komunikasi agar berjalan dengan baik. Apa kamu juga menjalani long distance marriage? Ayo, bagi pengalamanmu di kolom komentar di bawah!

 

Check Out The Vendor

Comments

Nike utari

Saya dan suami memutuskan long distance sejak pacaran. Saya di surabaya dan dia di bandung.Hal ini setelah menikah kami pun mengalami hal yang sama. Saya masih di Surabaya dan suami di Jakarta. Tantangan adalah ketika pasangan ketika sedang berada di kondisi yang tidak fit atau sedang down membutuhkan kehadiran fisik. Ini yang menciptakan rasa Kangen pasti dan harus kangen lah. Komunikasi dan kepercayaan penting. Serta mau menerima dan mengerti keadaan masing2.. itu tips yang saat ini kami berdua sedang jalani dan terus belajar memahami pasangan walaupun long distance..

Reply

Luthfiahra

Saya dan suami juga sedang menjalani LDM. Tepat 2 minggu setelah hari pernikahan dan honeymoon, kami pun harus terpisah jarak karena tuntutan masing-masing pekerjaan. Suamk di Jakarta, sementara saya di Cilacap. Kendala utama yang pasti adalah rasa rindu dan kehadiran fisik suami saat saya sedang lelah. Mungkin beliau juga begitu. Namun, kami menjalani hari demi hari dengan komunikasi yang lancar. Sesekali kami berjanjiam untuk ‘siapa yang mengunjungi siapa’ di waktu akhir pekan. Fokus terhadap goals kita berdua masing-masing, berpikir positif, dan komunikasi yang baik akan membawa hubungan menjadi baik juga

Reply

Winda

Sejak menikah juli 2016 saya dan suami menjalani LDM. Suami bekerja di jogja, dan saya bekerja di ambon. Menjadwalkan pertemuan singkat di sela kesibukan adalah jadwal rutin kami, tiga bulan sekali kami bertemu. Saat bertemu maksimalkan waktu yang ada untuk quality time berdua.
Dua bulan lalu, suami saya pergi ke jerman untuk melanjutkan study. Tantangan lebih berat bagi pernikahan kami. Perbedaan waktu lumayan cukup membatasi komunikasi kami. Jadwal saturdate online sambil videocall selalu kami nikmati hingga berjam2. Tapi kesibukan studynya disana mulai semakin membatasi. Semoga saya bisa segera menyusul suami ke sana.

Reply

dara pratiwi

saya banget ini! hahaha. 5 tahun jauh-jauhan dari pacaran sampai menikah (4 tahun pacaran, 1 tahun menikah), saya di balikpapan dan suami di jatinangor, alhamdulillah sekarang sudah sama2. bahagianya tak terhingga 😊. dari dulu saya dan suami sudah sepakat bahwa kami memang serius dan akan meneruskan ke jenjang pernikahan. kalau boleh sedikit berbagi saran, yang terpenting menurut saya untuk menghadapi LDR dan LDM yaitu 3K — komitmen, kepercayaan dan komunikasi. dari kedua belah pihak harus memiliki komitmen untuk serius menjalani hubungan, harus memiliki kepercayaan satu sama lain dan saling berkomunikasi dua arah dengan baik. In Shaa Allah semua pasti akan berjalan dengan baik. semoga yang masih menjalani LDR dan LDM disegerakan bersama-sama ya. semangat! 😉

Reply

Maretta

Sayaaa dan suami juga sudah menjalani LDM 1,5tahun sejak awal menikah. Karena suami sayaa bekerja di proyek di Batam dan saya di jakarta. Tapi mmg komunikasi hal paling penting, kadang kalau komunikasi by wa bisa miss hal2 kecil bisa jd masalah. Doakaan ya smoga suami saya sgera dpindah tugaskab ke jakarta supayaa kita bisa sama2

Reply

Ghaitsa

Saya dan suami juga menjalani LDM. Dari awal kenal dengan suami sebenarnya sudah LDR haha suami di kuala lumpur, saya di Bengkulu. Kami mulai berpacaran di awal tahun 2017 dan memutuskan menikah di pertengahan tahun. Yess begitu singkat, alhamdulillah kami sudah nyaman satu sama lain. 2 minggu setelah menikah dan honeymoon, saya langsung ditinggal LDM lagi, karena saya harus balik bekerja di bengkulu dan suami pun begitu harus kembali kerja di KL. alhamdulillah akhir tahun Allah mendengarkan doa saya, saya pindah ke Jakarta dan memudahkan saya lebih sering ketemu suami, walopun sebenernya masih LDM (Jakarta -KL) tapi seengga nya sudah lebih dekat. Prinsipnya untuk menjalani LDM kita harus saling percaya satu sama lain, dan yang pasti Komunikasi nomer satu. InsyaAllah walopun LDM kalo ketemu ttp masih brasa pengantin baru hahahha. Semangatt ya semua nya bagi pejuang LDM.

Reply

Yozeu N Permata Wangsa

Menarik sekali bahasannya, ini yg sedang saya alami bgt skrg..saya menikah bulan oktober dan bln november sudah tdk bersama suami..7 tahun kita dlu pacaranpun LDR karena suami sedang menempuh pendidikan di magelang selama 4thn memang sih jarak kita tdk sampai di luar negara, tp hanya berbeda pulau dia di aceh dan saya di bandung, kebetulan profesi suami saya tentara 😊 dan dinas di sana.. sebenarnya sedih dan berat sih LDM gini apalagi keadaan saya skrg sedang hamil muda..sangat butuh sosok suami sekali 😢 well tp saya berpikir ini demi kebaikan kita berdua juga, di bandung juga saya sedang melanjutkan kuliah S2,serta berbisnis untuk masa depan kami berdua, kami mensiasatinya dengan selalu komunikasi terus menerus, baik tlp, video call dan memang jika saya free saya selalu meluangkan waktu minimal 8 hari saya ke tempat suami, ataupun jika suami dpt cuti pasti selalu pulang ke bandung hehe..intinya sih komunikasi yg baik, alhamdulilah jalan 8thn skrg dari saya pacaran hingga menikah saya bisa dan fine2 saja, kadang memang ada perselisihan paham karena telatnya membalas atau apalah tp kami selalu sepakat jika ada masalah langsung di selesaikan saat itu juga, jadi bsk ktika bangun pagi sudah clear dan kita tdk ada masalah lg hehe..dan alhamdulilah sampai skrg berasa masih pacaran

Reply

Abe selina

Sebelum menikah saya dan suami pacaran selama 7tahun dan kami menjalani LDR selama itu. Banyak yg bilang hubungan kami tidak wajar karna selama LDR kami hanya bertemu setahun 3x. Tapi akhirnya Tuhan menjodohkan kami, dan di tahun ke 8 kami menikah dan menjalani LDM 2thn.
Buat pejuang LDR dan LDM di luar sana jangan khawatir jika kalian saling percaya, saling komunikasi dan saling mengalah hubungan yg indah dan sempurna bisa kalian perjuangkan.

Reply
PUSPITA

Nastiti Puspitasari

Aku juga long distance marriage. Jakarta-Semarang. Karena kami sama sama bekerja maka aku ga bisa ikut suami ke jakarta. Beberapa bulan setelah melahirkan, suami pergi ke jakarta. Dari pagi bangun tidur kita sudah kominikasi melalui chat sampai nanti malam kita hampir pasti video call. Dan 3x weekend suami plg ke smg, begitu seterusnya. Dan sisanya sy biasanya gunakan untuk facial atau kegiatan lain about my self. Ada tantangan tersendiri memang apalagi memiliki anak masih kecil, tapi di sisi lain kita belajar untuk saling percaya dan malah di tiap kesempatan bertemu menjadi hal yg istimewa dan yg di tunggu tunggu.

Reply

Ayako Gemidhea Lady Antariksa

Saya dan suami sejak pertama kenal dan memutuskan untuk pacaran sudah LDR, sampai memutuskan untuk menikah kamipun menjalani Long Distance Marriage.. Bagi sebagian orang tentu sangat berat, namun jika sudah terbiasa untuk di jalani akan santai dan justru..masing2 memiliki kesempatan untuk upgrade diri ke hal yang lebih positif, misalnya saya dengan gaya saya berusaha menjadi single fighter mendidik anak kami.. Yang sebisa mungkin no gadget (karena kalo papa nya pulang pasti di kasi gadget) automaticly perdebatan kecil tidak sering terjadi, atau.. Saya dengan hoby saya..menata rumah dengan furniture yg saya kehendaki.. Pak suami yg penting taunya ketika pulang, rumahnya cantik dan tidak banyak komentar.. Siapa sih yang tidak mau berkumpul bersama..namun.. Anggap saja jarak saat ini adalah kesempatan yang diberikan tuhan untuk kita berdua menyiapkan masa depan.. Dan paling benar adalah menjaga komunikasi… Serta harus punya target untuk berkumpul bersama lagi.

Reply

Shasanti

Saya dan suami juga long distance marriage, saya di jakarta dan suami kerja di laut. Komunikasi lewat telpon atau internet dalam 1 bulan belum tentu bisa tersambung karena tergantung sinyal di lokasi bekerja suami bahkan kadang dalam 1 bulan tidak ada komunikasi sama sekali. Sekalinya bisa komunikasi kita manfaatkan sebaik mungkin dgr cerita apapun yg terjadi selama tdk komunikasi. Saling memberi semangat dan percaya serta selalu mendoakan supaya pasangan kita dalam keadaan sehat selalu dan jauh dari bahaya adalah suatu keharusan bagi kita. Kejujuran yg ditanamkan bersama dalam hubungan juga sangat penting. Kami hanya bisa bertemu kembali dlm kurun waktu yg lama 6 bln-1 thn. Ketika bertemu manfaatkan waktu sebaik mungkin dengan quality time pergi berdua saja. Semoga pengalaman ini bisa jd tips dan memberi semangat utk yg menjalani LDM. Tetap berpikiran positif terhadap pasangan kita dan jgn berpikir kalau LDM tidak bisa bahagia.

Reply

Shasanti

Saya dan suami juga long distance marriage, saya di jakarta dan suami kerja di laut. Komunikasi lewat telpon atau internet dalam 1 bulan belum tentu bisa tersambung karena tergantung sinyal di lokasi bekerja suami bahkan kadang dalam 1 bulan tidak ada komunikasi sama sekali. Sekalinya bisa komunikasi kita manfaatkan sebaik mungkin dgr cerita apapun yg terjadi selama tdk komunikasi. Saling memberi semangat dan percaya serta selalu mendoakan supaya pasangan kita dalam keadaan sehat selalu dan jauh dari bahaya adalah suatu keharusan bagi kita. Kejujuran yg ditanamkan bersama dalam hubungan juga sangat penting. Kami hanya bisa bertemu kembali dlm kurun waktu yg lama 6 bln-1 thn. Ketika bertemu manfaatkan waktu sebaik mungkin dengan quality time pergi berdua saja. Semoga pengalaman ini bisa jd tips dan memberi semangat utk yg menjalani LDM. Tetap berpikiran positif terhadap pasangan kita dan jgn berpikir kalau LDM tidak bisa bahagia. Keep happy…

Reply
×