Mempersiapkan Pernikahan dengan Seorang Janda atau Duda

Pernikahan yang akan berlangsung terkadang bukanlah pernikahan pertama bagi salah satu atau kedua pihak yang akan melangsungkan perkawinan. Perpisahan maupun kematian pasangan terdahulu seringkali berkontribusi dalam hal ini. Pada kondisi demikian, terdapat beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan dan dipahami oleh masing-masing individu yang akan menjalani kehidupan baru bersama.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami latar belakang hubungan calon pasangan kita. Terdapat perbedaan situasi dan kondisi antara janda/duda yang bercerai (divorcee) dan seseorang yang menjadi Janda/ Duda karena pasangannya meninggal dunia (widow/er).

Seorang divorcee umumnya tidak memiliki pernikahan yang bahagia sebelumnya, sementara seorang widower/er, sangat mungkin memiliki pernikahan yang bahagia dan hubungan yang solid dengan pasangannya terdahulu. Para divorcee seringkali memiliki kenangan yang bercampur-baur (antara positif dan negatif) tentang pasangan dan hubungan pernikahan, dimana kenangan serta emosi yang negatif kerapkali lebih mendominasi dalam hal ini. Sementara para widow/er, umumnya memiliki memori yang positif tentang pasangan yang telah tiada. Hal-hal negatif mengenai pribadi dan hubungan tersebut cenderung dilupakan, sementara hal-hal positif terus dikenang sepanjang hayat.

Tidaklah mengherankan, apabila kemudian, para divorcee seringkali lega karena hubungan sebelumnya telah berakhir, dan lebih antusias untuk memulai hubungan yang baru. Sementara para widow/er seringkali ragu-ragu ataupun kurang bersemangat untuk memulai hubungan baru dengan orang lain. Mereka pun terkadang dihinggapi oleh rasa bersalah karena merasa tidak setia atau mengkhianati almarhum pasangannya.

Dengan kondisi demikian, bagaimana sebaiknya memulai dan mempersiapkan hubungan dengan pasangan yang sudah pernah menikah sebelumnya?

  1. Menetapkan Batasan. Penting bagi seseorang yang akan menikah dengan janda atau duda untuk menyampaikan batasan, mengenai hal-hal yang terkait dengan isu masa lalunya. Idealnya, hubungan ini dibawa pada jenjang pernikahan hanya apabila para divorcee/widower telah siap untuk melepaskan semua trauma serta kenangan negatif yang terkait dengan pasangan yang terdahulu. Dengan demikian, ia akan lebih dapat mencintai pasangan barunya dengan sepenuh hati, serta tidak hanya menikah untuk sekedar mengisi kekosongan yang ada.
  2. Memberikan waktu. Memberikan waktu yang cukup untuk mengenal pribadi, keluarga, anak-anak dan gaya hidup dari masing –masing pihak, penting untuk dilakukan agar dapat benar-benar memahami kehidupan yang akan dijalani bersama kelak. Mengamati cara berinteraksi calon pasangan dengan keluarga dan teman-teman, mantan istri/suaminya, menghabiskan waktu senggang, serta mengelola finansial sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru. Sebaiknya, kedua belah pihak juga mempertimbangkan apakah masing-masing pihak dapat menerima dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup calon pasangannya, termasuk menerima apabila sosok mantan istri/suami dari para divorcee tetap terlibat dalam pengasuhan anak.
  3. Melakukan pendekatan secara bertahap, baik pada anak-anak, keluarga dan teman-temannya. Seringkali tidak mudah bagi anak-anak atau keluarga dari seorang Janda/ Duda (baik divorcee maupun widower) untuk menerima kehadiran sosok baru dalam keluarga.   Calon Ayah atau ibu baru sebaiknya menerima bahwa anak-anak dari pernikahan terdahulu akan selalu memiliki hubungan spesial dengan orangtua kandung mereka, dan tidak menuntut untuk melupakan almarhum orangtuanya.
  4. Menjadi diri sendiri. Tidak perlu selalu mengikuti cara atau aturan yang telah ditetapkan oleh mantan atau mendiang pasangan. Idealnya, seseorang yang akan menikah dengan Janda/Duda dapat menghargai peninggalan dari hubungan sebelumnya, namun tidak menjadikannya beban, serta dapat menetapkan hal-hal yang penting bagi dirinya sendiri maupun hubungan barunya.
  5. Menghindari kompetisi dengan sosok almarhum suami/istri pasangan. Pihak yang akan menikah dengan seorang widow/er, perlu menerima bahwa pasangannya akan selalu memiliki hubungan dan memori khusus dengan mendiang pasangannya. Namun demikian, hal ini bukan berarti bahwa ia tidak mencintai pasangan barunya dengan sama besarnya.

Anna Dauhan, S.Psi, MSc, Psikolog adalah psikolog klinis dewasa yang tertarik dengan isu hubungan romantis dan perkawinan, eksistensi diri, midlife crises, dan work life balance. Anna sedang menjalani proses sertifikasi untuk menjadi Certified Sandplay Therapist dari International Society for Sandplay Therapy, dan saat ini membuka praktek pribadi selain   berpraktek di Rumah Konsultasi/Pusat Informasi Tiga Generasi-Jakarta. Dapat dihubungi melalui annamdauhan@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *