Menghindari Pengalaman Buruk dengan Fotografer

By alandakariza on under How To

Saat ini, penyedia jasa fotografi untuk acara lamaran dan pernikahan ada banyak sekali. Dengan bermunculannya media sosial seperti Instagram, melihat portfolio fotografer menjadi semudah mengetik tagar #bandungweddingphotographer atau #medanprewedding. Karya yang para fotografer tampilkan di situs maupun halaman media sosial mereka pun pastinya bagus-bagus! Namun, ternyata, ada saja pengalaman buruk dengan fotografer yang dialami sejumlah pengantin, yang tentunya kita harap tidak terjadi di pernikahan kita.

Berikut sejumlah cerita dari beberapa pengantin yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran.

“Foto dari pernikahanku sedikit sekali. Fotograferku memang memotret banyak momen, tapi tidak memotret baju maupun sepatu yang aku kenakan. Padahal, detil seperti itu kan penting bagi pengantin. Kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk memilih pakaian pernikahan kita, tapi ternyata justru tidak terekam dalam foto pernikahan.” – Diana

Kiat untuk menghindari hal ini: Diana menyarankan untuk memilih fotografer perempuan, yang mungkin lebih mengerti hal-hal yang “penting” bagi pengantin perempuan. Namun, jika fotografernya laki-laki pun seharusnya tidak apa-apa. Kita bisa membuat list foto yang harus fotografer ambil, dan bahkan membuatkan mood board berisi contoh shot yang kita inginkan. Bahan mood board ini bisa diambil dari portfolio mereka, portfolio fotografer lain, maupun dari Pinterest!

“Karena fotograferku belum terbiasa memotret acara pernikahan, saat akad nikah yang harusnya sakral dan hikmat, tim fotograferku terlalu sibuk mengambil momen sampai mengganggu jalannya acara.” – Risa

Kiat untuk menghindari hal ini: Sebisa mungkin, pilih fotografer yang sudah terbiasa memotret acara pernikahan. Jika tidak, ingatkan mereka untuk menghormati jalannya prosesi, terutama akad nikah atau pemberkatan.

“Kertas yang digunakan untuk membuat album foto pernikahanku tidak sebagus yang dijanjikan.” – Mala

Kiat untuk menghindari hal ini: Sebelum melakukan deal dengan fotografer, lihat hasil album yang pernah mereka produksi dan tanyakan apakah album yang akan kita dapat berdasarkan paket yang kita pilih akan sama seperti itu atau tidak.

“Fotografer dokumentasi yang bertugas untuk memotret keluargaku memotret dengan asal-asalan dan sering berkata kurang sopan dengan keluargaku, termasuk para sesepuh, hanya untuk mengatur kerapian barisan. Akhirnya, hasil foto pun kurang maksimal.” – Kisha

Kiat untuk menghindari hal ini: Minta ke fotografer utama untuk memberikan tim yang terbaik, tidak hanya untuk fotografer candid, tapi juga untuk fotografer dokumentasi.

“Fotograferku menjalankan bisnisnya sendiri. Ia bahkan tidak memiliki sekretaris maupun perwakilan marketing, padahal jadwal memotretnya padat sekali. Ia melupakan banyak hal, seperti fakta bahwa aku sudah melunasi pembayaran. Pembuatan album pun jadi molor karena tidak ada asisten yang mengingatkan fotograferku.” – Alina

Kiat untuk menghindari hal ini: Cari fotografer yang memiliki perwakilan marketing, atau minimal asisten. Biasanya, mereka lebih teliti dalam hal administratif dan lebih mudah dihubungi daripada fotografernya sendiri.

Nah, semoga membantu kamu ya, brides!

Shop