Menikah dengan Suasana Alam ala Asri dan Andhika

By Rebebekka on under The Wedding

Style Guide

Style

Venue

Outdoor

Colors

Pertemuan pertama mereka bermula saat mereka sama – sama bergabung dalam komunitas Indonesia Mengajar. Namun ketika itu mereka sempat berpisah selama setahun karena masing – masing ditugaskan ke pelosok daerah di Pulau Sumatera. Asri berangkat menuju Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, sedangkan Andhika menuju Kabupaten Aceh Utara. Sepulang dari bertugas mereka kembali bertemu dan semakin dekat. Terlebih saat mereka memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta dan bekerja sama dengan para petani di daerah tersebut. Bersama – sama mereka menjalankan sebuah social enterprise yang bergerak di bidang pangan dan pertanian. Asri mengaku bahwa tidak ada proposal romantis yang dilakukan Andhika, namun keduanya sadar bahwa mereka memiliki visi dan misi yang sejalan dalam hidup, sehingga memutuskan untuk “naik kelas” ke jenjang pernikahan. “Secara personality Andhika memiliki kepribadian yang baik, sangat memimpin dan santun. Selain itu Andhika merupakan mahkluk yang sangat bisa mengontrol emosi, mampu menenangkan saya yang suka overthinking, pekerja keras dan juga sangat sensitive dengan keadaan sosial lingkungannya,” ungkap Asri.

Salah satu hal yang paling The Bride Dept suka pada pernikahan Asri dan Andhika adalah prosesi akad nikah. Apabila biasanya diadakan di Mesjid atau gedung, kali ini mereka memilih air terjun sebagai latar belakang upacara akad nikah mereka. Sebelumnya mereka berencana untuk melangsungkan akad nikah di pematang sawah milik orang tua karena mereka ingin pernikahannya berhubungan dengan petani, sesuai dengan goals kehidupan mereka yang bekerja sama dengan komunitas petani. Akan tetapi hal tersebut tidak memungkinkan karena bertepatan dengan musim tandur (musim tanam).

 

Walaupun ada sedikit perubahan rencana, Asri tetap bahagia karena bisa melaksanakan momen sakral tersebut dengan latar air terjun. “Air terjun memiliki kenangan tersendiri bagi aku. Bapak sering mengajakku waktu kecil untuk melihat air terjun di banyak lokasi di Indonesia. Kebetulan Bapak memang mengembangkan daerah – daerah yang belum mendapatkan listrik,” jelas Asri. Asri juga menceritakan bahwa tantangan melakukan akad nikah di depan air terjun yang terletak di tengah – tengah perkebunan teh adalah tidak adanya supply listrik sama sekali. Sehingga mereka hanya mengandalkan microphone dengan tenaga accu yang hanya bertahan beberapa jam saja. Namun hal tersebut justru membuat suasana akad berlangsung sangat khidmat, ditemani oleh suara air terjun, tiupan angin dan kibasan dedaunan. Sounds wonderful, right?

Asri dan Andhika menggunakan adat Yogyakarta lengkap pada pernikahan mereka, mulai dari siraman, midodareni, panggih serta tumplak punjen. Orangtua Asri menyelenggarakan prosesi Tumplak Punjen karena Asri adalah anak perempuan terakhir di keluarganya. Tumplak dalam bahasa Jawa berati tumpah atau keluar semua, sedangkan Punjen sering diartikan sebagai pundi – pundi, atau harta hasil jerih payah orang tua yang tidak lain adalah anak – anak mereka. Prosesi Tumplak Punjen diadakan sebagai simbol bahwa orangtua Asri telah menyelesaikan kewajiban mereka sebagai orangtua yaitu menikahkan anak – anaknya. Bagi Asri sendiri prosesi adat yang paling berkesan untuk dirinya adalah saat prosesi siraman yang terasa haru dan khidmat.

Setelah melakukan prosesi akad nikah yang luar biasa indah, malam hari dilanjutkan dengan secret dining yang berlokasi di pelataran Rumah Panaruban. Secret dining berlangsung dengan suasana yang intimate karena dihadiri oleh keluarga dan sahabat terdekat yang tidak lebih dari 80 orang. Asri dan Andhika yang merupakan pasangan “petani” tentu saja membuat sesuatu yang berbeda. Gelas mereka buat dari bambu sedangkan bangku dan meja dibuat dengan memanfaatkan sisa sampah olahan kayu kebun teh milik orangtua.

Sebelumnya mereka ingin menyewa bangku dan meja, namun semua vendor menolak karena lokasi yang jauh dari pusat kota. Mereka tidak menggunakan jasa catering namun meminta bantuan dari ibu – ibu PKK sekitar untuk mengangkat kreasi pangan lokal setempat seperti gepuk jantung pisang, sayur asam kecombrang dan lain – lain. Lalu bagaimana dengan waitress saat secret dining? Rupanya Asri dan Andhika meng-hire para karang taruna setempat yang semuanya merupakan lulusan Manajemen Perhotelan. Souvenir pernikahan tidak kalah unik. Mereka memberikan tamu – tamu souvenir berupa berupa media jamur dan bibitnya di dalam jar, yang awalnya disangka oleh para tamu itu adalah selai kacang, hehehe. Hal ini mereka tujukan agar para tamu bisa juga merasakan asiknya menanam tumbuhan.

Pada saat secret dining tersebut, para tamu tidak akan menemukan tissue dan olahan makanan yang mengandung MSG, minyak sawit, ayam broiler ataupun daging sapi. Semua menu wajib berasal dari lokal, sehat dan tanpa sentuhan industri. Jarang sekali bisa menemukan menu seperti ini dalam pernikahan pada umumnya. Untuk menginspirasi kamu, The Bride Dept berikan contekan menu secret dining Asri dan Andhika :

Minuman :

  • Kombucha diinfused dengan apel dan kayu manis

Makanan pembuka :

  • Sup Selada Air

Makanan utama :

  • Grilled Tuna yang fresh karena diambil langsung dari laut di Pacitan
  • Sorghum rice + Saus Chimichurri Tomat – Kecombrang
  • Salad sayur lokal
  • Pickle Rose Petal

Penutup :

  • Tiramisu thiwul “cream cheese”
  • Kacang mete dengan taburan nib kakao

Tentu saja awalnya beberapa tamu agak bingung dengan makanan serba sayur, bahkan ada yang sampai kaget karena pickle bunga mawar tersaji di hadapan, namun mereka tetap melahapnya. Asri dan Andhika tahu benar beberapa dari mereka sama sekali tidak suka makan sayur, tetapi setelah mencoba mereka jadi tahu kalau sayuran bisa diolah menjadi sangat lezat dan enak. Bahkan ada yang meminta resep untuk belajar makan makanan sehat kepada Asri dan Andhika. Semua menu yang disajikan ludes, terutama menu favorit para tamu yaitu Gepuk jantung pisang dan Sup selada air serta Kombucha.

“Semuanya sungguh memorable buat kami. Teman – teman yang berkenan jauh – jauh hadir ke luar kota, ikut serta sumbang tenaga dalam acara kami hingga salah satu sahabat kami menjadi project manager dadakan di beberapa hari sebelumnya. Kami sangat berterima kasih dan merasakan besarnya dukungan dari lingkungan kami,” cerita Asri.

Asri menyebutkan 4 vendors saat ditanyakan tentang top 3 vendors pilihan Asri, yaitu :

1. Ayu Larasati, sang kakak dan Bapak tercinta

“Telah berhasil menyulap suasana dengan dekor begitu indah”

2. Letusee.yk 

“Pangan Lokal berhasil diolah menjadi sangat cantik dan lezat”

3. Bu Mar dari Sanggar Peni Semarang

“Bu mar telah berhasil membuat Asri  terlihat cantik dan manglingin dengan riasan adat Yogyakarta.”

4. Ella Tuttaqwa

“Selaku event organizer yang telah banyak mebantu Asri dan Andhika selama persiapan acara.”

Kepada para pembaca The Bride Dept, Asri memberi pesan sebagai berikut :

“Perkawinan adalah acara yang sangat sakral menurut kami. Kami menginginkan acara yang sangat humble, intimate dan mencerminkan kami sesungguhnya. Melaksanakan acara pernikahan tanpa Wedding Organizer memang lebih repot dan menghabiskan banyak waktu. But it’s really paid off ketika seluruh keluarga, sahabat dan teman – teman mau jauh – jauh datang ikut kerja sama bahkan untuk hadir dan mendoakan saja rasanya bahagia sekali. Kami merasa bahagia sekali dikelilingi orang – orang seperti ini,” pesan Asri.

Kemudian tips dari Asri jika ingin mengadakan pernikahan outdoor sebaiknya tamu undangan tidak terlalu banyak sehingga ambiance tetap terjaga. Tentukan dress code yang nantinya akan membuat tamu nyaman karena berada diluar ruangan.