Modern Javanese Wedding ala Kania & Patra

By Pravita Hapsari on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Thamrin Nine Ballroom

Event Styling & Decor Rolas by Suryo Decor

Photography Fotologue Photo

Make Up Artist Diah Ratna Asih

Hair Do Sanggar 27 by Nita Kabul

Bride's Attire Sanggar 27 by Nita Kabul

Groom's Attire Sanggar 27 by Nita Kabul

Catering Akasya Catering & Co.

Jewellery & Accessories FROM by From Tiny Islands

Resepsi

Make Up Artist Marlene Hariman

Hair Do Ambar Paes

Bride's Attire Surya Abduh

Groom's Attire Surya Abduh

Masih ingat dengan first love kalian? Atau malah masih penasaran sampai sekarang? Kania dan Patra mungkin salah satu pasangan yang menikahi first love mereka yang sama-sama mulai “suka” saat masih SD.

Kania dan Patra pertama kali bertemu saat mereka kelas 1 SD di Pekanbaru. Patra yang baru pulang dari long stay-nya di Amerika bertemu dengan Kania saat sedang mencari kelas bersama ibunya. Patra masih ingat sekali dengan kejadian itu karena menurut dia setelah melihat Kania, saat itu juga dia langsung “suka” dan “have a childhood crush on me,” cerita Kania.

Kalau Kania sendiri mulai “suka” sama Patra saat kelas 2 SD, kayak cinta monyet gitu. Rasa suka mereka pun berujung saling malu-malu tapi diem-diem merhatiin satu sama lain, nggak berani ngomong tapi seneng banget kalau nggak sengaja berpapasan. Rasa suka itu berlanjut terus selama mereka SD, sampai akhirnya ayah Kania pindah tugas ke Jakarta dan mereka lost contact. Lalu sekitar tahun 2003 atau 2004 mereka pun bertemu kembali, yang saat itu sudah SMA.

Setelah sekian tahun tidak bertemu dan tidak berhubungan sama sekali, mereka cukup sadar bahwa sebenarnya masih sama-sama penasaran dengan childhood crush mereka dan menjadi first love masing-masing. Patra dan Kania pun masih menyimpan “perasaan”, tapi waktu itu mereka sama-sama masih menjalin hubungan dengan orang lain. Dari situ mereka lost contact lagi, dan mungkin hanya sesekali message di Facebook.

Sampai akhirnya mereka dipertemukan kembali di rumah sakit saat mereka sedang menjenguk sahabat mereka yang sedang kritis. Sahabat mereka ini sangat tahu perjalanan kisah mereka berdua dan selalu optimis kalau suatu hari Kania dan Patra pasti akan bersama. Sebelum sahabat mereka ini koma dan akhirnya meninggal dunia, ia sempat menanyakan keberadaan Kania pada Patra padahal waktu itu ia tahu persis Kania sedang menjalani hubungan yang cukup lama dengan orang lain. Tapi mungkin itu pesan terakhir untuk Kania dan Patra, to chase our dream. Akhirnya setelah kesempatan itu datang, mereka mencoba menjalani dan memelihara hubungannya dengan baik dan ternyata “menjalani hubungan ini bersama adalah keputusan terbaik yang pernah kita ambil,” kata Kania.

Patra sendiri tidak melamar Kania secara romantis, Patra memulainya dengan pembicaraan serius tentang kesiapan mereka untuk menikah. Patra menanyakan apakah mereka siap untuk berkomitmen menjadi partner hidup sebagai suami-istri. Setelah melalui perbincangan yang serius, kesimpulannya adalah mereka siap dan langsung memulai untuk merencanakan pernikahan.

Untuk tema keseluruhan, Patra dan Kania memilih konsep Jawa modern yang elegant dengan sentuhan tropikal. Sejak awal mereka sudah menyampaikan kalau mereka tidak mau menggunakan gebyok-gebyok bernuansa coklat tua yang identik dengan Jawa tradisional. Desain pun fokus pada rumah joglo dengan detail ukiran gebyok yang kemudian direplika menggunakan media lain. Kalaupun ada penggunaan gebyok, warna kayunya juga disesuaikan dengan nuansa tropikal sehingga nuansa bunga yang bold terlihat kontras dengan dekorasi secara keseluruhan. Bunga yang dipilih juga bunga-bunga tropikal dengan bentuk yang unik sementara sentuhan Jawa tradisional masih tetap dipertahankan dengan memasang bunga sedap malam, patung loro blonyo, juga lampu antik khas Jawa di spot-spot tertentu.

Patra dan Kania awalnya tidak berencana untuk menjahit baju resepsi dan lebih memilih untuk menyewa dari sanggar karena berpikir itu hanya untuk sekali pakai. Lalu Kania yang saat itu sedang membuka halaman explore di Instagram, tidak sengaja melihat pengantin Jawa menggunakan busana pengantin yang cantik dan ternyata itu adalah foto koleksi terbaru dari Surya Abduh yang berjudul “Tenggelam dalam Rindu”. Busana ini sangat unik dan belum pernah Kania lihat sebelumnya, selain itu juga sangat cocok untuk tema pernikahan mereka.

Beskap dan kebaya dengan cutting Jawa dibuat menggunakan kain angkin, dengan dasar warna hitam pekat, dan full bordir lengkap dengan cerita indah dibalik desain-nya. Untuk koleksi ini sendiri Mas Abduh sudah melakukan riset selama 2 tahun yang awalnya terinspirasi dari busana pernikahan milik orangtuanya. Hanya melihat fotonya saja Kania sudah bisa membayangkan kalau ia dan Patra dapat mengenakan busana itu untuk pernikahannya. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung booking untuk memakai desain tersebut. “Mas Abduh sendiri sangat peduli dengan keseluruhan tampilan kita saat resepsi, ia pun membantu memilih kain dan aksesoris rambut dari Ambarpaes agar semua filosofinya berkesinambungan dan serasi,” kata Kania.

Saat ditanya seputar tantangannya dalam mempersiapkan pernikahan, menurut Kania tidak ada yang terlalu signifikan. Mereka berdua sangat beruntung bisa bekerja sama dengan vendor yang sangat ahli dan profesional. Yang paling penting, para vendor mendengarkan keinginan kita dan bekerja dengan hati. Mungkin di hari H secara teknis dan timeline-nya sempat membuat mereka khawatir, karena ada satu pernikahan di hari dan jam yang sama dan pasangan ini juga menggunakan banyak vendor utama yang sama dengan mereka seperti MUA untuk pengantin wanita, designer busana pegantin mereka, sanggar untuk seragam keluarga, bahkan sampai penghulu. Untungnya semua bisa diselesaikan dengan baik dan tidak merugikan pihak manapun.

Momen yang berkesan menurut Kania adalah saat Akad Nikah. Patra dan Kania yang menjalani proses pingitan dan sudah tidak bertemu selama 2 minggu ini rasanya campur aduk, mulai dari tegang, kangen, excited, malu-malu, dan happy banget. Momen ini juga sudah mereka impikan dan rencakan sejak lama. Dikarena ada beberapa kendala yang membuat acara ini tertunda lama, rasanya sangat mengharukan ketika akhirnya “It’s finally our time to sit on the table and make a promise to God, to be husband and wife,” cerita Kania.

Tips untuk para brides-to-be dari Kania, yaitu:

  1. Luangkan waktu untuk brainstorming dan membuat moodboard dari konsep yang kalian inginkan sebelum menentukan vendor.
  2. Selalu berkomunikasi dengan pasangan
  3. Jangan memilih vendor hanya karena semua orang menggunakan vendor tersebut, cari vendor dengan kualitas yang cocok dengan karakteristik yang kamu inginkan dan tentunya sesuai budget.
  4. Create personal meanings out of your ideas. Apakah itu dari cincin pernikahan, undangan, dekor, busana yang kamu kenakan, bahkan sampai foto seperti apa yang kamu inginkan. Kalau bisa se-personal mungkin “so everything has a portion of your story and therefore uniquely you.”
×