Momen Marhusip & Martumpol Dinda & Kevin

By NSCHY on under The Engagement

Momen Marhusip & Martumpol Dinda & Kevin (Adat Batak)

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Church

Colors

Vendor That Make This Happened

Marhusip

Event Styling & Decor Lavagold Design

Photography Maximus Pictures

Make Up Artist Bening Subianti

Hair Do Bening Subianti

Catering Kiki Catering

Bride's Attire Rika Wirtjes

Martumpol

Event Styling & Decor Kemuning Dekorasi

Photography Maximus Pictures

Make Up Artist Dini Nurdiani

Hair Do ANS MUA

“Nama kamu siapa?” tanya Dinda

“Lho, kok lupa? Tadi kan udah kenalan?” jawab Kevin.

Itu dia obrolan awal singkat Dinda dan Kevin saat pertama kali mereka berkenalan di hari pertama masuk kuliah. 

Selama masa kuliah, Dinda dan Kevin melewati masa-masa pertemanan yang cukup dekat, sampai akhirnya pada semester akhir, momen-momen menyelesaikan skripsi yang mendekatkan mereka berdua. Long story short, Kevin ternyata sudah menaruh hati kepada Dinda sejak tahun 2011, saat mereka mengikuti bimbingan belajar di tempat yang sama, walaupun berbeda sekolah.

Saat mengetahui mereka masuk kuliah dan fakultas yang sama, Kevin sudah mengumpulkan niat untuk mendekati Dinda. Dengan proses yang cukup panjang, mereka berdua baru menjalin hubungan pada tahun 2016 lalu.

“Setelah satu tahun pacaran, suatu hari Kevin ajak aku makan. Saat makan, Kevin kelihatan banget kalau lagi mikir. Akhirnya, dia ngomong panjang ke aku. Intinya, dia mau melanjutkan hidup dan meniti masa depannya dengan aku. Dia melamarku.” Sama seperti ekspresi perempuan lain saat dilamar oleh kekasihnya, speechless dan diam beberapa saat. Setelah beberapa lama, Dinda pun menerima lamaran Kevin dengan tangisan bahagia.

Sebagi prosesi pernikahan dalam adat Batak, Dinda dan Kevin melalui rangkaian acara Marhusip dan Martumpol. Marhusip merupakan acara lamaran, proses pertama dalam pernikahan adat Batak.

Dalam proses Marhusip ini, keluarga Kevin datang ke rumah Dinda untuk menyatakan maksud dan tujuannya. Dalam adat Batak, untuk meminang seorang perempuan harus ada uang beli yang disebut Sinamot. Dalam momen tersebut, kedua belah pihak berdiskusi untuk mendapatkan angka yang disepakati bersama.

“Selama momen tersebut, aku ada di kamar. Baru boleh keluar setelah dipanggil, setelah Sinamot sepakat.”

Setelah Dinda keluar dari rumah, acara dilanjutkan dengan doa untuk Dinda dan Kevin agar dilancarkan. Prosesi ini diakhiri dengan pembagian uang dari Dinda dan Kevin kepada seluruh keluarga dan tamu sebagai tanda pengingat kepada pihak yang hadir dalam Marhusip tersebut.

Dalam acara Marhusip ini, Dinda mengenakan terusan brokat berwarna hijau lumut muda dengan shimmer benang berwarna emas dan silver. Agar serasi, Kevin mengenakan batik dengan warna senada.

“Aku sengaja membuat terusan ini ⅞ agar bisa dipakai lagi nantinya untuk acara lain.”

Untuk dekorasi, Dinda dan Kevin memamerkan dekorasi dengan bunga dominasi warna putih dan hijau dari dedaunan.

Setelah Marhusip selesai, tahap kedua yang dilalui adalah Martumpol yang diadakan di gereja. Acara ini biasanya diadakan 3-4 minggu sebelum hari H untuk mengumumkan bahwa calon pengantin akan segera menikah dan menyatakan bahwa keduanya tidak memiliki hubungan dengan orang lain.

Selama acara Martumpol berlangsung, Dinda mengenakan kebaya berwarna biru langit dengan songket berwarna senada, sedangkan Kevin mengenakan jas dengan dasi berwarna senada dengan pakaian Dinda.

Menyiapkan kedua acara adat tentunya bukanlah hal mudah bagi Dinda dan Kevin yang masih memiliki kesibukan masing-masing dalam pekerjaannya. Bahkan, sebelum hari H pun, keduanya baru tiba di rumah malam hari.

“Kita harus pintar-pintar isi waktu kosong di kantor dan menyicil hal-hal yang bisa disiapkan dari jauh-jauh hari.”

Dalam menyiapkan segala kebutuhan, sangat dibutuhkan kerjasama antara Dinda, Kevin serta keluarga. Terlebih lagi, Dinda kemarin sempat dipindahtugaskan di hari-hari menjelang pernikahannya.

“Aku mendadak dipindahtugaskan ke Makassar. Alhasil, aku kerjain apa yang bisa aku kerjakan di sana, contohnya desain undangan. Setelah selesai, aku kirim ke Kevin untuk dicetak di Jakarta.”

Top 3 vendor:

1. Rika Wirtjes

“Gimana nggak juara, semua bajuku dibuat oleh Mba Rika. Sejak tahun lalu, saat masin cari-cari desainer lewat Instagram, aku langsung jatuh hati dengan foto-foto kebaya dan terusan karya Mba Rika. Soal baju kan memang selera, dan Mba Rika, menurutku sangat “aku banget”, selalu mengaplikasikan brokat menjadi sebuah hal yang unik. Payet-payetnya juga halus dan dikombinasikan dengan banyak warna, jadi manis.”

2. Dini Nurdiani

“Mba Dini juara soal make up; perfeksionis, simetris dan manis. Mba Dini membuat wajah aku glowing dan natural. Yang terpenting, rapih! Pokoknya dari semua make up artist yang aku coba sampai acara Martumpol, Mba Dini yang terbaik.”

3. Lavagold

“Jujur, bukan karena ini punya temenku, tapi memang temanku dan kakaknya sangat mengerti selera klien. Selain mendengarkan ide yang aku sampaikan, mereka juga memberi saran dan referensi, jadi super helpful. Selain itu, Lavagold juga sangat pinterest update! Makanya, dekorku cantik dan apik.”

Tips untuk brides to be,

“Tentukan color board untuk acaramu, maksimum 3 warna agar tidak berlebihan dan tetap manis. Color board ini juga jadi panduan untuk pakaian, dekorasi dan undangan. Selain itu, tanyakan desainer baju ke beberapa orang terpercaya. Pilihlah 5 desainer untuk dibandingkan, lalu sesuaikan dengan selera dan budget. Kalau soal MUA, pastikan dicoba dulu untuk acara lain sebelum hari pernikahan. Terakhir dan paling penting, berdoa. Sebagus apapun vendor, Tuhan yang berkuasa dan bisa membuat hati tenang.”

 

Shop