Multi Cultural Wedding of Dila and Saman

By Friska R. on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Balai Sudirman - Panti Prawira

Event Styling & Decor Watie Iskandar Decoration

Photography Moreno Photography

Make Up Artist Bubah Alfian

Bride's Attire Biyan

Wedding Organizer Project Republic

Wedding Reception

Venue Hotel Kempinski

Event Styling & Decor Stupa Caspea

Lighting Lumens Indo

Photography Moreno Photography

Bride's Attire Ivan Gunawan

Make Up Artist Adi Adrian

Wedding Cake Le Novelle

Wedding Organizer Big Enterprise

Wedding Entertainment Ivy Batuta

Others The Coppelia

“Kalau saya ingat – ingat  it’s one of the awkward moment I’ve ever had in my life! Kita berdua pemalu dan saat itu the way we talked benar – benar gak nyambung hahaha,” kenang Dila akan pertemuan pertamanya dengan Saman. Kala itu mereka berdua sedang menghadiri acara yang diadakan di Grand Ballroom Kempinski. Setelah pertemuan tersebut mereka semakin dekat dan Saman pun melamar langsung kepada orangtua Dila. “Waktu itu suami saya datang ke rumah dengan pakaian sangat rapi (batik) sambil membawa perhiasan dan langsung menemui saya beserta orang tua saya hahaha,” cerita Dila.

Seakan menjadi sebuah petunjuk, tempat pertemuan pertama mereka justru menjadi tempat bersejarah di mana mereka telah melangsungkan pernikahan beberapa waktu lalu. Pernikahan Dila dan Saman sungguh multi cultural. Orangtua Dila berasal dari Palembang dan Bengkulu, sedangkan orangtua Saman merupakan campuran Chinese dan Iran. Saat siraman Dila memakai adat Bengkulu, kemudian akad nikah dengan adat Palembang dan sentuhan dekorasi Iran. Hal yang paling berkesan bagi Dila saat menjalani proses akad nikah adalah pada saat dia membawakan tarian Pagar Pengantin. Dila sempat merasa sedih dan terharu saat membawakan tarian tersebut dengan sungguh – sungguh. Tarian itu hanya bisa dibawakan sekali dalam seumur hidup karena itu merupakan simbol tarian melepas masa lajang.

Resepsi pernikahan menggunakan adat dan international style. Dila berusaha membagi semua adat dan budaya dari keluarga mereka ke dalam satu acara agar semua keluarga dan tamu yang hadir bisa menikmati acara dan sekaligus bertujuan memperkenalkan budaya mereka. Salah satunya adalah prosesi Knife Dance yang berasal dari Iran. Sebelum Dila dan Saman memotong wedding cake, tante – tante dan saudara – saudara menari secara bergantian sambil membawa pisau dan menggoda Saman, sang pengantin pria. Setelah semuanya bergantian menari, barulah pisau tersebut diserahkan kepada Dila dan Saman untuk memotong wedding cake.

The highlight is being able to celebrate this moment with everybody came from outside of Indonesia, i think the funniest part is when we are dancing, laughing, singing and taking pictures we were in the moment and having so much fun it ended so quickly!” kata Dila saat ditanya tentang hal apa yang paling berkesan dari acara pernikahannya.

Top 3 vendors pilihan Dila adalah :

1.Sapto Djojokartiko

“Saya suka ide – ide kreatif Mas Sapto dalam mendesain baju dan Mas Sapto juga sangat cepat menangkap apa yang saya inginkan dan hasilnya selalu memuaskan.

2. Stupa Caspea

“Saya selalu kagum dengan karya-karya yang Stupa buat sebelumnya, dekornya sangat bagus tapi tidak berlebihan dan pilihan bunga bunganya juga sangat cantik.

3. Project Republic

“Project Republic sangat membantu saya dalam menentukan konsep akad nikah dan munggah, ide idenya juga kreatif. Seperti pada saat saya pusing mengenai souvenir untuk munggah, karena saya ingin sesuatu yang berbeda mengingat banyak orang asing yang datang ke acara kami, Project Republic menyarankan mainan Telok Abang yang langsung dipesan khusus dari Palembang.

Pesan Dila pada pembaca The Bride Dept yang sedang mempersiapkan pernikahannya adalah sabar dalam menghadapi segala persiapan pernikahan. Tantangan terbesar Dila selama kurang lebih tujuh bulan mempersiapkan pernikahan adalah membuat segala sesuatunya tepat pada waktunya. Karena keluarga dan teman – teman Saman banyak yang berasal dari US dan Singapore, maka mereka harus mempersiapkan akomodasi dan seragam selama di Jakarta. Namun semua tantangan dan kerepotan tersebut bisa dijalani Dila dengan sabar. “Remember this is your moment, so just enjoy and pray,” pesan Dila.